|

Dalam panggung sejarah Indonesia, peranan Muslimat NU terhadap kemajuan kaum wanita Indonesia tidaklah sedikit. Bidang-bidang layanan yang menjadi garapannya meliputi kesehatan, pendidikan, sosial, dan ekonomi.
Bulan April telah berlalu. Menyisakan kenangan tentang perjuangan R.A. Kartini, dan juga peringatan hari lahirnya organisasi wanita dari kalangan nadhliyin pada 8 April lalu, yaitu Muslimat NU. Keduanya mempunyai persamaan, yaitu sama-sama memperjuangkan hak-hak wanita.
Dalam panggung sejarah Indonesia, peranan Muslimat NU terhadap kemajuan kaum wanita Indonesia tidaklah sedikit. Bidang-bidang layanan yang menjadi garapannya meliputi kesehatan, pendidikan, sosial, dan ekonomi.
Menurut Aisyah Hamid Baidhawi dalam makalahnya yang dikutip dalam buku Perempuan dalam Islam terbitan Gramedia, kelahiran organisasi Muslimat Nahdlatul Ulama secara tidak langsung dilatarbelakangi cita-cita R.A. Kartini tentang persamaan hak yang memicu berbagai aktivitas peningkatan posisi dan peran wanita.
Semangat dan perkembangan baru tersebut telah membuka mata para kaum muda terpelajar dalam masalah wanita dan tidak jarang di antara mereka yang memberikan kelonggaran bagi anak-anak perempuan untuk masuk ke sekolah-sekolah, demikian halnya terjadi juga di kalangan umat Islam.
Lembaga pendidikan Islam tertua yang didirikan khusus untuk anak-anak perempuan adalah Sekolah “Diniyah Putri” Padang Panjang di Sumatera Barat. Sekolah ini didirikan oleh Ny. Rahmah El Yunusiah pada tahun 1923.
Setelah itu di Pulau Jawa bermunculan madrasah-madrasah putri. Namun dalam perkembangannya, masih banyak hambatan yang ditemui wanita Islam Indonesia untuk maju, terutama yang datang dari cara pemahaman ajaran agama yang sempit dan tekanan adat-istiadat yang rumit.
Misalnya saja pada tahun 1939 ketika Ir. Soekarno dan istrinya meninggalkan rapat yang diselenggarakan Muhammadiyah sebagai protes atas dikenakannya kain pembatas (tabir) yang memisahkan peserta pria dan wanita. Hal-hal seperti itulah yang mendorong kalangan wanita (yang disebut oleh penulis sebagai kalangan Ahlusunnah wal Jama’ah) untuk mengorganisasikan diri agar dapat menjawab tantangan yang ada, terutama tantangan yang dihadapi oleh wanita muslim.
Setelah melalui berbagai proses perjuangan, terutama dalam internal organisasi NU, akhirnya pada Muktamar NU ke-15 di Surabaya, tanggal 5-9 Desember 1940, diputuskan pengesahan Muslimat lengkap dengan Anggaran Dasar dan Pengurus Besar-nya. Namun baru pada Muktamar NU ke-16 di Purwokerto tanggal 29 Maret 1946 Muslimat NU disahkan dan diresmikan sebagai bagian dari NU, yang namanya pada saat itu adalah Nahdhlatul Ulama Muslimat, disingkat NUM.
Sebagaimana NU, Muslimat juga tidak dapat dipisahkan begitu saja dengan pesantren. Pemimpin Muslimat biasanya adalah istri para pemimpin pesantren. Demikian pula dengan kader-kadernya, yang tidak lain putri-putri kiai atau santri-santri dari pesantren. Struktur organisasi Muslimat sama seperti struktur organisasi pemerintahan, mempunyai pusat kepemimpinan dan cabang-cabangnya hingga tingkat desa/kelurahan.
Sejak kelahirannya pada tahun 1946 hingga 1952, Muslimat menjadi bagian NU. Dari awal tahun 1940 sampai 1952, perjuangan NU ditandai dengan perjuangan kemerdekaan RI. Anggota-anggota NU, termasuk Muslimat, mengambil peran yang cukup penting, seperti di dapur umum, Palang Merah, bahkan sebagai kurir penghubung, bergabung dengan pasukan-pasukan pejuang, seperti Hizbullah, Sabilillah, dan lain-lain.
Pada Muktamar NU ke-19 di Palembang tahun 1952, NU meningkatkan dirinya sebagai partai politik, yang juga mengubah bentuk organisasi Muslimat menjadi Badan Otonom dari NU dengan nama baru Muslimat Nahdlatul Ulama disingkat Muslimat NU. Muktamar NU ke-20 pada tahun 1954 di Surabaya adalah kongres pertama Muslimat NU sebagai Badan Otonom dari NU.
Muslimat NU membahas berbagai masalah wanita, antara lain perkawinan di bawah umur. Perjuangan Muslimat NU dalam masalah perkawinan dilakukan dengan perannya dalam pembentukan BP4 (Badan Penasihat Perkawinan dan Penyelesaian Perceraian).
Dalam kongresnya yang ketujuh di Jakarta tahun 1959, Muslimat baru menghilangkan tabir dari arena kongres. Selain itu, keputusan penting yang dicapai adalah mengajukan pernyataan kepada anggota PBNU agar anggota Muslimat dapat dicalonkan sebagai calon prioritas menjadi anggota DPR, DPRD, dan Konstituante.
Muslimat bergabung dengan Kongres Wanita Indonesia (Kowani) sejak tahun 1956. Kowani adalah kelanjutan dari Kongres Perempoean Indonesia, yang diselenggarakan pada tahun 1928. Kehadiran Muslimat di Kowani ternyata mendapat respons positif dan menempati posisi yang tidak mengecewakan. Peran Muslimat di Kowani mulai menonjol dalam dekade 1960-an ketika mendesak pemerintah untuk membubarkan TK Melati yang dikelola oleh Gerwani/PKI dan mengambil alih TK tersebut.
Peran Muslimat selanjutnya yaitu pada tahun 1967 ketika Ketua Umum Muslimat saat itu Ny. Machmudah Mawardi mendirikan Badan Musyawarah Organisasi Islam Wanita Indonesia (BMOIWI) sebagai wadah untuk mempersatukan gerak langkah organisasi-organisasi wanita Islam dalam hal-hal yang menyangkut kepentingan bersama.
Perjuangan Kiai Dahlan
Sementara sejarah pergerakan wanita NU memiliki akar kesejarahan panjang dengan pergumulan yang amat sengit yang akhirnya memunculkan berbagai gerakan wanita, baik Muslimat, Fatayat, maupun Ikatan Pelajar Putri NU.
Sejarah mencatat, kongres NU di Menes, Pandeglang, Banten, tahun 1938 merupakan forum yang memiliki arti tersendiri bagi proses terbentuknya organisasi Muslimat NU.
Sejak kelahirannya di tahun 1926, NU adalah organisasi yang anggotanya hanyalah kaum laki-laki belaka. Para ulama NU saat itu masih berpendapat, wanita belum masanya aktif di organisasi. Anggapan bahwa ruang gerak wanita cukuplah di rumah saja masih kuat melekat pada umumnya warga NU saat itu. Hal itu terus berlangsung hingga terjadi polarisasi pendapat yang cukup hangat tentang perlu-tidaknya wanita berkecimpung dalam organisasi.
Dalam kongres itu, untuk pertama kalinya tampil seorang muslimat NU di atas podium, berbicara tentang perlunya wanita NU mendapatkan hak yang sama dengan kaum pria dalam menerima didikan agama melalui organisasi NU.
Verslag (berita, laporan) Kongres NU XIII mencatat, "Pada hari Rebo ddo: 15 Juni '38 sekira poekoel 3 habis dhohor telah dilangsoengkan openbare vergadering (dari kongres) bagi kaoem iboe.
Tentang tempat kaoem iboe dan kaoem bapak jang memegang pimpinan dan wakil-wakil pemerintah adalah terpisah satoe dengan lainnja dengan batas kain poetih."
Sejak kongres NU di Menes, wanita telah secara resmi diterima menjadi anggota NU, meskipun sifat keanggotannya hanya sebagai pendengar dan pengikut, tak diperbolehkan menduduki kursi kepengurusan. Hal seperti itu terus berlangsung hingga Kongres NU XV di Surabaya tahun 1940.
Dalam kongres tersebut terjadi pembahasan yang cukup sengit tentang usulan Muslimat yang hendak menjadi bagian tersendiri, mempunyai kepengurusan tersendiri dalam tubuh NU. Dahlan termasuk pihak-pihak yang secara gigih memperjuangkan agar usulan tersebut bisa diterima peserta kongres. Begitu tajamnya pro-kontra menyangkut penerimaan usulan tersebut, sehingga kongres sepakat menyerahkan perkara itu kepada PB Syuriah untuk diputuskan.
Sehari sebelum kongres ditutup, kata sepakat menyangkut penerimaan Muslimat belum lagi didapat. Dahlan-lah yang berupaya keras membuat semacam pernyataan penerimaan Muslimat untuk ditandatangani Hadlratus Syaikh K.H. Hasyim Asy'ari dan K.H. A. Wahab Hasbullah. Dengan adanya secarik kertas sebagai tanda persetujuan kedua tokoh besar NU itu, proses penerimaan dapat berjalan dengan lancar.
Bersama A. Aziz Dijar, Dahlan pulalah yang terlibat secara penuh dalam penyusunan peraturan khusus yang menjadi cikal bakal Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Muslimat NU di kemudian hari. Bersamaan dengan hari penutupan kongres NU XVI, organisasi Muslimat NU secara resmi dibentuk, tepatnya tanggla 29 Maret 1946/26 Rabiul Akhir 1365.
Sebagai ketuanya dipilih Chadidjah Dahlan, asal Pasuruan, istri Dahlan. Ia salah seorang wanita yang berada di lingkungan NU itu selama dua tahun, yakni sampai Oktober 1948. Sebuah rintisan yang sangat berharga dalam memperjuangkan harkat dan martabat kaumnya di lingkungan NU, sehingga keberadaannya diakui dunia internasional, terutama dalam kepeloporannya di bidang gerakan wanita.
Kini, setelah melewati kurun waktu puluhan tahun, Muslimat NU menjadi organisasi wanita yang "raksasa", baik dari segi jumlah anggota maupun medan garapan dan peranannya. Para perintis, pendiri, dan penerus organisasi pada angkatan pertama, mungkin tidak pernah membayangkan bahwa kelak organisasi wanita di kalangan NU itu bakal tumbuh seperti sekarang ini.
Muslimat NU kini membawahkan 13.568 TPQ, 9.800 TK/RA, 4.657 playgroup. Sementara Yayasan Hidmat NU membawahkan 38.000 majelis ta’lim. Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU mengelola 103 panti asuhan, 74 BKIA/rumah bersalin/rumah sakit, 11 Balai Latihan Kerja. Selain itu ada juga Yayasan Haji Muslimat NU, yang menaungi 146 Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH).
Sementara itu Induk Koperasi An Nisa membawahkan sembilan pusat koperasi dan 131 koperasi primer berbadan hukum, outlet pemasaran sektor agro dan 17 rintisan.
"Kami sekarang sedang mempersiapkan sebuah holding company yang diharapkan pada tahun 2021 sudah bisa melakukan initial public offering, dengan nama An Nisa Putri Mandiri," kata Khofifah Indar Parawarsa, ketua umum Muslimat NU.
Muslimat NU juga punya Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Majelis Ta’lim sebanyak 29 rintisan, yang antara lain majelis ta’lim berbasis wirausaha atau simpan pinjam, serta 79 rintisan program life skill untuk anak putus sekolah atau mereka yang berada dalam usia produktif.
Selain memberikan layanan yang bersifat institusional permanen, Muslimat NU, dalam mengejar pencapaian target tujuan pembangunan milenium atau Millenium Development Goals (MDGs), juga melakukan berbagai program, baik terkait dengan pemberantasan buta huruf maupun penyelamatan lingkungan.
Ibu Hj. Nyai Sholichah Munawaroh
Menganjurkan dan Memberikan Contoh
Salah satu pentolan Muslimat NU yang disegani adalah Ibu Hj. Nyai Sholichah Munawaroh binti K.H. Bisri Sansuri. Pada masanya, ia adalah sosok yang berpikiran maju dan menjadi salah satu katalisator Muslimat NU serta dicintai oleh anggotanya. Ia bukan hanya pandai menganjurkan, melainkan juga senantiasa lebih dahulu memberikan contoh atas anjuran-anjurannya, termasuk banyak sekali mengorbankan haknya untuk kemajuan dan perkembangan organisasi, Muslimat NU.
Ibu Hj. Nyai Sholichah adalah keponakan K.H. Wahab Hasbullah. Ibunda Sholichah, Ibu Nyai Hj. Nur Chadijah. adalah adik kandung K.H. Wahab Hasbullah.
Sebuah drama menarik seputar pernikahan wanita muda Chadijah dengan pemuda Bisri Sansuri terjadi di atas sebuah geladak kapal, di pelabuhan Jeddah.
Syahdan, ketika Wahab Hasbullah muda yang energik sedang sibuk mendirikan cabang Sarekat Islam di Arab Saudi, sampailah kabar kepadanya bahwa ibunya sakit. Maka ia pun segera kembali ke tanah air.
Beberapa bulan kemudian ia sudah merapat kembali di pelabuhan Jeddah. Namun kedatangannya kali ini disertai dengan ibunda dan seorang wanita muda, yakni adiknya yang bernama Chadijah, pengantin baru yang baru saja ditinggal mati oleh suaminya. Kedatangannya bersama ibunya ke Tanah Suci adalah untuk menunaikan ibadah haji dan sebagai pelipur lara sang adik.
Setelah beberapa lama tinggal di Tanah Suci, oleh Wahab Hasbullah adiknya ini kemudian dijodohkan dengan temannya. Bisri Sansuri, yang telah lama menemani Wahab Hasbullah sejak masih menjadi santri di Kajen, bersedia menikahi adik temannya ini.
Namun rupanya Wahab memiliki rencananya sendiri. Setelah acara pernikahan selesai, ia mengutarakan niatnya untuk kembali ke tanah air kepada teman lama yang telah menjadi adik ipar barunya itu. Rupanya Bisri Sansuri berkeinginan juga untuk pulang ke tanah air, ia juga sudah merindukan kampung halamannya. Tapi Wahab menolaknya. Sebesar apa pun keinginan Bisri, sekeras itu pula penolakan Wahab, yang menginginkan agar mereka menetap lebih lama lagi di Tanah Suci.
Karena sama-sama ngotot, Wahab mulai mengalah. Maka mereka, Wahab beserta ibunda, adik dan ipar Bisri, pun berangkat menuju dermaga pemberangkatan kapal.
Sesampainya di dermaga, mereka berhenti dan hanya menunggu. Bisri mempertanyakan mengapa mereka tidak segera naik, Wahab pun menjawab bahwa mereka semestinya tidak perlu turut pulang. Perdebatan pun kembali terjadi, hingga akhirnya tangga jembatan yang menghubungkan antara kapal dan dermaga diangkat.
Ketika peluit pemberangkatan kapal kemudian melengking tinggi, Wahab segera melompat dan berenang menuju tambang kapal yang masih berjuntaian di atas permukaan air. Sementara Bisri kebingungan, ia sangat ingin turut melompat dan mengikuti Wahab kembali ke tanah air, namun bagaimanakah dengan mertua dan istrinya? Rupanya ia perlu beberapa waktu untuk menyadari bahwa tadi Wahab hanya mengulur waktu agar mereka tidak bisa ikut (Cerita bahwa Bisri "dikerjain" Wahab ini sering disampaikan oleh Gus Dur dalam pengajiannya di Pesantren Ciganjur).
Beberapa tahun kemudian mereka kembali ke tanah air, dan mendirikan pesantren di Denanyar Jombang dengan bekal sebidang tanah dari mertuanya, K.H. Hasbullah, ayah Wahab, pengasuh pesantren Tambak Beras. Dari pernikahannya dengan Nur Chadijah, Bisri dikaruniai sepuluh anak, namun yang hidup hingga dewasa hanya empat, salah satunya adalah Munawaroh (Sholichah A. Wahid Hasyim).
Salah satu keberanian kontroversial yang tampaknya kemudian menurun dari K.H. Bisri Sansuri kepada anak-cucu mereka adalah ketika mereka mendirikan Pesantren Putri di bawah pengawasan langsung Ibu Nyai Hj. Khadijah. Konon di Denanyar inilah cikal bakal pesantren putri di Jawa Timur, yang sebelumnya belum lazim didirikan.
Masa Kecil dan Pernikahan
Munawaroh lahir di Jombang 11 oktober 1922 sebagai seorang anak Kiai......., pengasuh Pesantren..... (Sebut namanya dan nama pesantrennya). Neng Waroh (panggilan kecilnya) dididik dalam lingkungan keagamaan yang ketat, namun keberaniannya telah terlihat sejak kecil. Ia sering menyelinap melihat prosesi pemakaman orang-orang Cina di bong (pekuburan Cina) dekat pesantrennya, baik sendirian maupun mengajak teman-temannya. Ia juga sangat mahir memanjat pohon, sesuatu yang tidak lazim bagi anak putri. Kenakalan masa kecilnya ini berakhir ketika ia dinikahkan dengan Abdurrachim, putra K.H. Cholil, Singosari. Pernikahan pertamanya ini hanya berumur satu bulan, karena kemudian suaminya meninggal.
Dua tahun kemudian, 10 Syawwal 1356 H/1938 M, ia dinikahkan lagi dengan Abdul Wahid, putra sulung K.H. Hasyim Asy'ari, dan diboyong ke Tebuireng. Maka sejak inilah kehidupan Munawaroh menapaki babak baru, dan selanjutnya ia lebih dikenal sebagai Ibu Sholichah, Nyonya Wahid.
Sejak tinggal di Tebuireng inilah ia mulai aktif di pengajian-pengajian masyarakat, membuka ranting-ranting Muslimat NU baru, dan terlibat di Fujinkai, yang membuatnya terlibat dengan banyak kalangan. Salah satu sisi penting kehadiran Sholichah adalah "mengganti baju" Fujinkai, dengan dipenuhi "badge" kemuslimatan. Dan kegiatan-kegiatannya diisi dengan pengajian dan kursus-kursus kemandirian wanita. Dalam situasi perang, sebagai istri seorang tokoh nasional, aktivitas Sholichah adalah membantu para pejuang dengan mendirikan dapur umum di dekat pabrik gula Cukir. Menyelamatkan dokumen-dokumen rahasia ketika suaminya dikejar-kejar Belanda, termasuk menyamar menjadi babu.
Sejak Januari 1950 ketika terjadi penyerahan kedaulatan kepada pemerintah Republik Indonesia, Sholichah mulai meninggalkan Jombang, karena harus mengikuti kepindahan suaminya, yang dipercaya menduduki jabatan menteri agama. Pada masa-masa ini A. Wahid Hasyim dan istri lebih dapat sering berkumpul sebagai sebuah keluarga.
Namun kesempatan dan keutuhan ini tidak berlangsung lama. Tiga tahun kemudian, A. Wahid Hasyim meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil di daerah Bandung.
Bertahan di Jakarta
Semenjak ditinggalkan oleh almarhum K.H. Wahid Hasyim, sebagai janda dengan enam orang anak yang masih kecil-kecil tentu terasa sangat berat hidup di Jakarta. Dari sini banyak tawaran mengajaknya kembali saja ke kampung halaman, Jombang, Jawa Timur. Namun mengingat pesan almarhum suaminya yang menginginkan agar kelak anak-anaknya dapat dididik untuk menjadi orang-orang yang dapat diandalkan untuk memperjuangkan bangsanya, Sholichah menyatakan tekadnya untuk bertahan di Jakarta. Tawaran ini juga datang dari orangtuanya, K.H. Bisri Sansuri. Namun ia meneguhkan dirinya tetap menempati rumah peninggalan suaminya, di Jalan Amir Hamzah Nomor 8, Matraman, Jakarta Pusat.
Lalu bagaimanakah caranya agar cita-cita almarhum suaminya dapat diwujudkan, sementara ia hanyalah seorang janda? Maka ia pun mulai berusaha mempertahankan kehidupannya di Jakarta. Ny. Sholichah kemudian mengajukan izin dagang beras kepada wali kota Jakarta, yang kala itu dijabat Syamsurijal.
Setelah mendapatkan izin, ia mencoba mengembangkan pangsa pasarnya dengan memasok kebutuhan Departemen Sosial dan Departemen Agama.
Ia juga membuka usaha jual-beli mobil second, serta bahan-bahan bangunan dalam proyek pembangunan Pelabuhan Tanjung Priok. Ia mendatangkan pasir dan bambu-bambu dari daerah untuk dijual kepada pelaksana di sana. Dengan demikian ia dapat membiayai pendidikan putra-putrinya, hingga ada yang dikuliahkan ke ITB, Pesantren Tegal Rejo, serta ke Mesir, dan lain-lain, dengan topangan perekonomian yang dirintisnya sendiri dari awal.
Perjuangan dan Keorganisasian
Selanjutnya, Sholicah terus melanjutkan perjuangannya dengan berkecimpung di dunia politik melalui NU. Ia turut membesarkan NU di Jakarta dan terpilih sebagai anggota DPRD mewakili NU hingga ketika NU harus berfusi ke dalam Partai Persatuan Pembangunan.
Sejak saat itu, ia mulai menjalani berbagai aktivitas. Mulai dari menjadi anggota Pimpinan Muslimat NU Gambir (1950), ketua Muslimat NU Matraman (1954), ketua Muslimat NU DKI Jaya (1956), hingga ketua I Pimpinan Pusat Muslimat NU sejak 1959 sampai meninggal.
Menurut Mahmudah Mawardi, teman seperjuangannya di PP Muslimat NU, Sholichah adalah sosok yang berpikiran maju, menjadi salah satu motor penggerak Muslimat NU serta dicintai oleh anggotanya. Ia bukan hanya pandai menganjurkan, melainkan juga senantiasa lebih dahulu memberikan contoh atas anjuran-anjurannya, termasuk banyak sekali mengorbankan haknya untuk kemajuan dan perkembangan organisasi, Muslimat NU.
Ketika NU menjadi partai, Sholichah aktif dalam berbagai kegiatan Muslimat NU. Dan ketika NU berfusi dalam Partai Persatuan Pembangunan, ia tetap menjadi anggota legislatif (1978-1987). Ia juga sempat aktif dalam kegiatan Yayasan Dana Bantuan, sejak 1958 sampai akhir hayatnya. Ia pun terlibat aktif dalam mendirikan Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional (1974), serta mendirikan Panti Harapan Remaja, Jakarta Timur (1976).
Dalam bidang kegiatan keagamaan, ia mendirikan Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU (1963), Lembaga Kemaslahatan Keluarga NU (1978), Pengajian Al-Islah (1963), Lembaga Penyantun Lanjut Usia (1976) yang kemudian diubah menjadi Pusat Santunan dalam Keluarga (Pusaka), Majelis Ta’lim Masjid Jami Matraman.
Salah satu sifat paling menonjol dalam diri Solichah adalah rasa sosial dan kedermawanannya. Dalam banyak hal, ia cenderung mengedepankan kepentingan orang-orang lain, terutama mereka yang tergolong kurang beruntung secara ekonomi. Rasa sosialnya ini nyata terlihat ketika ia dipercaya untuk membina badan sosial Muslimat. Dalam pembinaannya, bersama dengan kekompakan teman-teman seangkatannya, seperti Mahmudah Mawardi dan Asmah Syahroni, badan sosial Muslimat mencatat banyak sekali kemajuan. Antara lain mendirikan Rumah Bersalin Muslimat, BKIA Muslimat, Panti Asuhan Muslimat, Klinik KB, dan memberikan beasiswa kepada putra-putri NU yang telantar, serta kunjungan-kunjungan berkesinambungan kepada panti-panti sosial lain di daerah.
Para cucu menceritakan, nenek mereka ini hampir-hampir tidak pernah berbelanja di supermarket. Langganan belanja untuk kebutuhan sehari-harinya adalah Pasar Cikini.
Selain itu, pada saat yang sama, Sholichah juga aktif di perkumpulan "Bunga Kemboja", sebuah organisasi sosial yang khusus menangani masalah jenazah dan penguburan di Jakarta. Bersama-sama dengan Lasmidjah Hardi (dari kalangan nasionalis), Anie Walandaoe (Kristen), dan Mr. Hamid Algadri (dianggap sebagai wakil golongan sosialis), ia mendirikan yayasan tersebut, sebagai bukti sosial yang tentu saja "hanya" berlaku bagi kalangan menengah-atas ibu kota.
Karena keaktifan dan prestasinya dalam berorganiasasi, sejak 1957 Sholicah terpilih menjadi anggota DPRD DKI Jakarta (1957), anggota DPR-GR/MPRS (1960), dan anggota DPR/MPR (1971-1987). Bersama teman-temannya, ia juga mendirikan Yayasan Al-Islah di Kebayoran Baru untuk mengelola yatim piatu dan anak-anak tidak mampu lainnya.
Kegiatan-kegiatan organisasi lainnya adalah menjadi anggota Dewan Pertimbangan Sosial RI (1958), bendahara BKS-Wamil (Badan Kerjasama Wanita Militer)/Front Nasional Pembebasan Irian Barat (1958), anggota Palang Merah Indonesia (1950), anggota Pimpinan Yayasan Dana Bantuan Departemen Sosial RI, dan anggota pimpinan Kowani wakil dari Muslimat NU (1960).
Salah satu bukti perhatiannya pada perkembangan keislaman di tingkat lokal adalah masjid peninggalannya di Ciganjur, yang dinamai “Al-Munawwaroh”. Masjid ini didirikan pada mulanya dengan swadaya dan bantuan masyarakat sekitar, namun dalam perkembangannya pembangunan ini mendapatkan sumbangan dari Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila. Menurut penduduk setempat, mereka banyak sekali menerima wejangan dari Ibu Sholichah agar berjanji untuk selalu memakmurkannya.
Keberhasilan Sholichah dalam berbagai bidang telah membuktikan bahwa wanita bukan sekadar konco wingking (teman pelengkap). Mereka pun bisa sukses dalam banyak bidang, termasuk politik.
Masa G30S
Selama masa-masa pergolakan pemberontakan gerakan G30S, Sholichah menjadi salah satu penanda tangan pernyataan pengganyangan terhadap PKI, yang disebut-sebut sebagai dalang peristiwa tersebut. Bahkan, menurutnya, Muslimat NU-lah yang terlebih dahulu memiliki ide dan pernyataan pengganyangan ini. Namun, demi efektivitas aksi, akhirnya pernyataan ini diatasnamakan pada PBNU. Ini karena, menurutnya, Muslimat telah terlebih dahulu mengeluarkan pernyataannya pada tanggal 3 Oktober 1965, sedangkan PBNU baru mengeluarkan pernyataan senada pada tangal 5 Oktober 1965 bersama-sama dengan ormas-ormas lain. Sholichah-lah yang pertama kali mengeluarkan pernyataan pengganyangan melalui siaran RRI.
Sholichah, bersama-sama Subhan, Z.E., pemimpin Front Pancasila dan Kesatuan Aksi Pengganyangan G30S, bahu-membahu mengkonsolidasikan kekuatan demi mengganyang PKI. Meski rumah Subhan yang dijadikan markas, secara spesifik markas pengganyangan PKI PBNU berada di kediaman Sholichah, yang sekaligus berfungsi sebagai dapur umum. Rumahnyalah yang dianggap paling aman saat itu, karena letaknya berdekatan dengan rumah Jenderal Alamsyah, orang dekat Soeharto, komandan Kostrad, pemegang komando resmi pengganyangan PKI.
Selaku ketua pusat Muslimat, ia adalah orang pertama yang membubuhkan tanda tangan di atas surat pernyataan yang berisi kecaman terhadap aksi tersebut. Bahkan beberapa orang mengatakan, "Andai Sholichah tidak mengawali tanda tangan, sangat mungkin PBNU tidak mengeluarkan pernyataan sikap."
Paling Berkesan
Menurut penuturannya kepada majalah Risalah Islamiyah tahun 1977, hal paling berkesan dalam hidupnya adalah pidatonya di depan sidang Badan Pekerja MPRS 1967 dalam rangka memberhentikan Soekarno dari jabatan presiden RI. Ia mengatakan, "Bung Karno adalah orang yang berjasa dan pejuang yang tidak diragukan lagi. Tetapi manusia bisa khilaf, bersifat terbatas, dan tidak dapat terlepas dari kesalahan. Karenanya, saya mengusulkan untuk memberhentikan Bung Karno dari jabatan presiden."
Sementara menurut K.H. Abdurrahman Wahid, putra sulungnya, yang menjadi presiden RI keempat, hal paling berkesan dari ibundanya adalah kegigihannya dalam bersilaturahmi. Ia adalah "Anak Zaman" yang sangat rajin bersilaturahim dan memberikan sumbangan besar dalam menegakkan kerukunan antar-golongan setelah Indonesia mencapai kemerdekaan.
Hj. Nyai Sholichah Munawaroh wafat pada 9 Juli 1994 di RSCM dan dikebumikan di pemakaman keluarga, Kompleks Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Semoga arwahnya diterima di sisi Allah SWT, dan kita semua dapat meneladani perjuangan serta darma baktinya.
SM
|