| Tanjung Priok Berdarah |
|
|
|
| Written by Fredi Wahyu Wasana |
| Friday, 16 April 2010 17:33 |
|
Tak pelak, aktivitas eksekusi tersebut menimbulkan bentrokan besar. Sejumlah korban jiwa jatuh tak terelakkan, sementara ratusan lainnya terluka parah dan ringan. Makam itu hampir tak pernah sepi dari kunjungan para peziarah. Hiruk-pikuk suasana pelabuhan Tanjung Priok, di Jakarta Utara, seolah tak mengusik kekhusukan penziarah yang tengah berdoa di sekeliling makam. Deru truk-truk kontainer yang mondar-mandir, memang bukan halangan bagi mereka yang datang dari berbagai sudut kota hingga luar kota Jakarta.Namun keberadaan makam itu konon mengusik pengelola Pelabuhan Tanjung Priok. Untuk keperluan perluasan area pelabuhan, mereka pun ingin menjadikan kawasan pemakaman itu sebagai bagian dari wilayah pelabuhan. Niat itu, tentu saja mengundang reaksi keras para pengurus makam yang masih terhitung kerabat, juga para peziarah yang menghormati kedudukan shahibul maqam. Ternyata, upaya penggusuran itu sudah berlangsung sejak era Soeharto.Pengurus Makam Habib Hasan Al-Haddad, Habib Ali, menceritakan, beberapa tahun yang lalu ada usaha dari anak mantan Presiden Soeharto, untuk menggusur makam tersebut. Usaha tersebut terkait pembangunan sentra usaha di Tanjung Priok meliputi tanah di kawasan makam. “Saat mesin-mesin penggali datang, dan mulai menggali di sekitar makam, secara tiba-tiba alat-alat berat itu berhenti, mesinnya tidak bisa dinyalakan,” ujar Habib Ali, di Koja, Jakarta Utara. Selain mesin-mesin penggali tersebut berhenti, beberapa sopir tersebut juga secara mendadak jatuh sakit. “Bahkan beberapa hari kemudian para sopir tersebut meninggal dunia, dan beberapa hari setelahnya Presiden Soeharto pun lengser,” katanya. Di lain waktu, beberapa pekerja dari PT Pelindo yang nongkrong di pembatas pagar makam secara tiba-tiba jatuh sakit. “Setelah diselidiki, mereka ternyata buang air kecil sembarangan. Akhirnya, wajah mereka miring ke kiri semuanya, seperti habis terkena tamparan,” jelasnya. Meski begitu, Habib Ali meminta kepada masyarakat untuk tidak menamakan makam tersebut sebagai makam keramat. “Ini bukan makam keramat. Ini makam wali, keturunan Nabi Muhammad,” tegasnya. Jatuh Korban Jiwa Fenomena yang terjadi di seputar makam, sepertinya memberi inspirasi kepada para pengurus makam Habib Hasan dan para santrinya, untuk tetap mempertahankan makam tersebut tetap berada di tempatnya. Bahkan, mereka menyatakan siap perang untuk mempertahankan tanahnya jika seandainya terjadi penggusuran lahan. Pasalnya, ahli waris memiliki bukti kepemilikan tanah seluas 5,4 hektar berdasarkan Eigendom Verponding No.4341 dan No.1780.Sayangnya, Pengadilan Negeri Jakarta Utara pada tanggal 5 Juni 2002 memutuskan tanah tersebut adalah milik sah PT Pelindo II, sesuai hak pengelolaan lahan (HPL) nomor 01/Koja dengan luas 1.452.270 meter persegi. Terlepas dari benar-tidaknya keputusan tersebut, yang pasti menurut Habib Ali, pemerintah seharusnya bisa menghargai keberadaan makam orang-orang shalih yang dihormati masyarakat, seperti halnya makam Habib Hasan Al-Haddad tersebut. “Pada zaman Belanda, kita mendapat menghargaan atas tanah ini. Mereka tidak berani mengganggu lahan ini. Sekarang, pemerintah kita yang justru tidak menghargainya,” tambahnya. Sementara itu, salah seorang santri yang ikut tinggal di sekitar lokasi makam, Umar (25), mengaku, saat ini terdapat 500 orang yang ada di sana. Jumlah tersebut akan bertambah banyak jika mendekati haul Habib Hasan dan saat maulid Nabi Muhammad. Mereka datang dari dalam dan luar kota untuk berziarah dan menetap beberapa hari. “Jadi kalau ada omongan tidak ada kegiatan seperti pengajian dan haul di sini, itu salah,” tuturnya. Berdasarkan pantauan, saat memasuki pintu gerbang makam, ada sekitar tujuh orang yang berjaga dengan memakai sarung, kopiah putih sambil menanyakan keperluan datang ke tempat itu. “Mas mau ke mana dan ada perlu apa?” kata seorang santri sambil menenteng badik kecil. Maklum sejak Februari lalu, isu penggusuran makam Habib Hasan kembali mencuat. Dengan sigap mereka selalu siaga bila sewaktu-waktu ada penggusuran paksa dari Satpol PP. Bahkan seluruh jama’ah dan warga siap membantu santri untuk mempertahankan keberadaan makam. Makam Habib Hasan terletak kurang lebih 300 meter dari Rumah Sakit Koja, agak menjorok ke dalam. Suasana di kompleks yang terletak antara rawa (sebelah kiri) dan pelabuhan peti kemas (sebelah kanan) itu sangat sejuk dan nyaman. Hawa panas tanah pesisir tak terasakan ketika kita masuk ke kompleks pemakaman yang sepi itu. Di sana memang hanya ada satu rumah dan satu makam; bangunan lainnya adalah kompleks pelabuhan peti kemas. Setiap hari terdengar suara mesin yang menderu-deru bersahutan dengan bunyi klakson truk yang melaju di jalanan. Banyak legenda di seputar kehidupan Habib Hasan. Salah satunya, riwayat penamaan daerah Tanjungpriok. Alkisah, nisan dari batang tanjung di kaki makam Habib Hasan semakin lama semakin tumbuh menjadi pohon tanjung yang besar dan subur. Sementara periuk peninggalannya juga masih tergeletak di sisi makamnya. Konon, periuk itu terhembus angin dan bergeser ke arah pantai, dan akhirnya sampai ke laut. Menurut kepercayaan penduduk, sesekali periuk itu selalu timbul kembali dari dalam laut ke permukaan. Mungkin karena terbawa badai. Bahkan beberapa pelaut juga pernah melihatnya. Konon, dari kisah itulah muncul nama Tanjungpriok. Dalam rangka perluasan pelabuhan, Rabu (14/4), ratusan anggota Satpol PP Jakarta Utara merangsek maju mendekati area makam Habib Hasan. Keperluannya, untuk eksekusi hasil sidang pengadilan yang memenangkan pihak PT Pelindo II atas pihak keluarga ahli waris makam Habib Hasan. Jumlah warga yang melakukan pertahanan tak berimbang dengan jumlah Satpol PP. Tak pelak, aktivitas eksekusi tersebut menimbulkan bentrokan besar. Hanya dalam hitungan menit, sejumlah korban jiwa jatuh tak terelakkan, sementara ratusan lainnya terluka parah dan ringan. Tanjuk Priok berdarah.Sementara Pemprov membantah akan menggusur makam. “Kami sama sekali tidak akan membongkar makam tersebut. Sebaliknya, kami akan mempercantik dan memugarnya dengan menjadikannya monumen untuk wisata religi,” ujar Wakil Walikota DKI Prijanto. Wallahu a’lam. SEL
|









Niat itu, tentu saja mengundang reaksi keras para pengurus makam yang masih terhitung kerabat, juga para peziarah yang menghormati kedudukan shahibul maqam. Ternyata, upaya penggusuran itu sudah berlangsung sejak era Soeharto.
Fenomena yang terjadi di seputar makam, sepertinya memberi inspirasi kepada para pengurus makam Habib Hasan dan para santrinya, untuk tetap mempertahankan makam tersebut tetap berada di tempatnya. Bahkan, mereka menyatakan siap perang untuk mempertahankan tanahnya jika seandainya terjadi penggusuran lahan. Pasalnya, ahli waris memiliki bukti kepemilikan tanah seluas 5,4 hektar berdasarkan Eigendom Verponding No.4341 dan No.1780.
Dalam rangka perluasan pelabuhan, Rabu (14/4), ratusan anggota Satpol PP Jakarta Utara merangsek maju mendekati area makam Habib Hasan. Keperluannya, untuk eksekusi hasil sidang pengadilan yang memenangkan pihak PT Pelindo II atas pihak keluarga ahli waris makam Habib Hasan. Jumlah warga yang melakukan pertahanan tak berimbang dengan jumlah Satpol PP. Tak pelak, aktivitas eksekusi tersebut menimbulkan bentrokan besar. Hanya dalam hitungan menit, sejumlah korban jiwa jatuh tak terelakkan, sementara ratusan lainnya terluka parah dan ringan. Tanjuk Priok berdarah.
Comments
turunkan F**wo ...
gak bisa di pegang mulutnya....
Dimana mata mereka......
Umat islam diperlakukan seperti binatang....
Ga akan menang melawan islam jika islam bersatu....
Dimana mata mereka......
Umat islam diperlakukan seperti binatang....
Ga akan menang melawan islam jika islam bersatu....
RSS feed for comments to this post.