Sunday, 20 April 2014
Rasa Malu PDF Print E-mail
Saturday, 07 September 2013 13:00

www.majalah-alkisah.comDari Ibn Umar RA, Rasulullah SAW suatu ketika melewati seorang Anshar yang sedang menasihati saudaranya tentang sikap pemalunya. Lalu Rasul­ullah SAW bersabda, “Biarkanlah. Se­sungguhnya rasa malu itu bagian dari iman.” (Muttafaq `Alaih).

Malu bukan sembarang malu. Malu itu ada tempatnya. Jika malu bukan pada tempat­nya, itu sama saja dengan lemah dan pengecut, atau bisa jadi lebih buruk dari binatang, jika rasa malu itu sudah hilang tatkala berhubungan dengan norma ke­baikan. Rasulullah SAW mendorong umat­nya untuk punya rasa malu, yang ber­kait dengan norma-norma dalam ke­hidupan, agar umatnya menjadi umat yang santun dan mendapat kedudukan sebagaimana orang-orang yang ber­iman. Inilah petuah-petuah Rasulullah SAW itu.

Dari Ibn Umar RA, Rasulullah SAW suatu ketika melewati seorang Anshar yang sedang menasihati saudaranya tentang sikap pemalunya. Lalu Rasul­ullah SAW bersabda, “Biarkanlah. Se­sungguhnya rasa malu itu bagian dari iman.” (Muttafaq `Alaih).

Syarah Hadits

Hadits ini diriwayatkan Al-Bukhari da­lam kitab Iman bab Malu itu Bagian dari Iman dan kitab Adab bab Malu. Sedang­kan Muslim meriwayatkannya pada kitab Iman bab Cabang-cabang Iman.

Seorang sahabat Anshar ini semula tengah menasihati saudaranya tentang akibat yang timbul jika saudaranya itu selalu malu untuk berbuat ini dan itu. Sebenarnya sang Anshar ini bermaksud untuk menjelaskan kesia-siaan jika sau­daranya senantiasa suka pemalu. Tat­kala Rasulullah melihatnya, beliau men­jelaskan bahwa sikap malu itu bagian dari keimanan seseorang.

Dari hadits ini dapat diambil pelajaran bahwa sikap malu memiliki keutamaan dalam Islam, dan bahkan ia merupakan bagian dari kesempurnaan iman sese­orang. Apa yang dimaksud dari rasa malu yang mendatangkan bentuk ke­imanan pada seseorang? Yaitu sese­orang yang malu untuk melakukan per­buatan yang mengandung kemaksiatan, sehingga rasa malunya itu membang­kit­kan bentuk ketaatan-ketaatan yang lain kepada Allah Ta‘ala. Memang sikap malu merupakan naluri dasar pada diri ma­nusia. Akan tetapi ia akan berkem­bang dan bertambah bobot nilainya tat­kala dibarengi dengan akhlaq dalam pencaharian dan penunaian adab-adab syari’ah.

Pada hadits lainnya yang diriwayat­kan Al-Bukhari, Rasulullah SAW juga me­nyatakan, “Rasa malu itu mengan­dung kebaikan seluruhnya.” Maksud hadits ini, rasa malu pada umumnya mem­beri kebaikan bagi pribadi sese­orang maupun kelompok masyarakat dalam aktivitas kehidupan mereka, yang menyangkut norma yang baik dan buruk. Tetapi malu untuk menolak kemunkaran, dan malu untuk berkata yang benar, bukan bagian dari sikap malu yang di­anjurkan Nabi ini. Itu sama saja dengan berkepribadian lemah atau juga penakut.

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Iman itu terdiri dari enam puluh atau tujuh puluh cabang. Cabang iman yang paling utama ialah mengucap ‘La ilaha illallah’, sedangkan yang paling rendahnya adalah memu­ngut sesuatu yang membahayakan dari jalanan. Adapun rasa malu salah satu cabang dari iman.” (Muttafaq `Alaih).

Syarah Hadits

Hadits ini diriwayatkan Al-Bukhari dalam kitab Imam bab Perkara-perkara Iman. Sedangkan Muslim dalam kitab Iman bab Cabang-cabang Iman.

Sesungguhnya iman memiliki ting­kat­an-tingkatan yang berkaitan dengan amal yang menjadi buahnya. Itu juga menunjukkan ketinggian derajatnya di sisi Allah SWT. Antara iman dan amal ada korelasi yang kuat, yang tak tercerai berai di antara keduanya. Sehingga pe­nyebutan keutamaan kalimah tauhid, me­nyingkirkan benda berbahaya di ja­lan, dan rasa malu, mengharuskan rea­lisasi amal pelakunya.

Tentang rasa malu, ini menunjukkan ke­utamaannya dan dorongan untuk ber­akhlaq dengan akhlaq ini, sehingga me­nimbulkan sikap wara‘ dan ihtiyath (ber­hati-hati), agar tak salah langkah dan ter­perosok dalam kenistaan amal, serta me­lahirkan sikap taat, agar terus meniti jalan yang diridhai Allah Ta’ala. Itulah se­babnya, sikap malu merupakan refleksi keimanan seseorang kepada Tuhannya.

Dari Abu Sa‘id Al-Khudriyy RA, ia berkata, “Adalah Rasulullah SAW orang yang paling pemalu melebihi seorang gadis pengantin yang dipertemukan de­ngan suaminya untuk pertama kalinya. Jika ia melihat sesuatu yang tak disukai­nya, kami tahu hal itu tampak pada wa­jahnya.” (Muttafaq ‘Alaih).

Syarah Hadits

Hadits ini diriwayatkan Al-Bukhari dalam kitab Adab bab Orang yang tidak Menampakkan Dirinya Kelelahan di Depan Orang Lain dan bab Malu dan kitab Para Nabi bab Sifat Nabi Muham­mad SAW. Sedangkan Imam Muslim meriwa­yat­kannya dalam kitab Beberapa Keuta­maan bab Banyaknya Rasa Malu Nabi SAW.

Hadits ini merupakan salah satu gam­baran akhlaq sosok Nabi Muham­mad SAW, yang patut dicontoh umatnya dan mendorong mereka untuk memiliki ka­rakter malu ini, yakni malu untuk ber­singgungan atau melihat perkara-per­kara yang mendatangkan keburukan. Rasa malu merupakan sifat mendasar umumnya perempuan. Dengan demiki­an jika rasa malu sudah berkurang dari se­orang perempuan, itu pertanda sema­kin dekatnya kedatangan hari Kiamat.

Para ulama berpandangan, hakikat malu adalah sebuah perilaku yang mun­cul untuk meninggalkan hal yang buruk, yang mencegahnya dari menganggap remeh hak orang lain. Imam Abu Al-Qasim Al-Junaid berkata, “Haya` (malu) itu adalah hal memandang nikmat dan memandang kekurangan diri. Maka dari kedua hal itulah lahir sebuah sikap dan ke­adaan yang dinamakan malu.” Wallahu a`lam.

AB

Pasang iklan dilihat ribuan orang? klik > murah dan tepat sasaran">Serbuanads >> MURAH dan TEPAT SASARAN