|
Lewat suara jernih Nejmi Chehab, di sini Anda akan merasakan sesuatu yang berbeda. Di tengah rasa hati yang bergetar meresapi bait demi bait shalawat dan qashidah yang dibacakan, Nejmi membawa telinga pendengar pada nuansa rampak suara musik yang berbeda: nuansa orkestra. Ya, musik orkestra dipilih Nejmi dalam sajiannya kepada segenap pecinta shalawat kali ini. Dikisahkan, para penduduk kota Madinah, laki-laki dan perempuan, orang dewasa dan anak-anak, setiap harinya keluar rumah menuju pinggiran kota untuk menunggu kedatangan Rasulullah SAW. Bila hari telah petang dan belum ada tanda-tanda kedatangan beliau, mereka pun pulang dengan perasaan kecewa. Hingga, suatu ketika dari jauh kelihatan ada debu yang beterbangan. Semakin lama semakin dekat. Mereka berharap-harap cemas, hati mereka bertanya-tanya, siapa gerangan yang datang? Alangkah bahagianya mereka tatkala mengetahui bahwa yang datang adalah Rasulullah SAW, manusia agung yang mereka tunggu-tunggu kedatangannya. Serentak, mereka pun menyenandungkan gubahan bait-bait syair di atas sebagai ucapan selamat datang penduduk kota Madinah atas kehadiran beliau. Syair qashidah itu pulalah yang menjadi pembuka dari tujuh lagu yang dibawakan Nejmi dalam debutnya pada album Asyiqin an Nabi ini. Seakan, album ini hadir dengan pesan gembira di tengah para pecinta shalawat sekalian di bumi Nusantara atas diutusnya Rasulullah SAW pada alam semesta, sebagaimana pada empat belas abad silam masyarakat Anshar meluapkan kegembiraannya di tengah-tengah jalan kota Madinah. Berevolusi Setelah lantunan indah Thala’al Badru ‘Alayna, Nejmi melanjutkannya dengannya shalawat pembuka dalam Maulid Simthud Durar, kemudian lagu-lagu berikutnya adalah Marhaban Ya Nurul ‘Aini, Ya Nabi Salam ‘Alayka, Huwannuuru (qashidah gubahan Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, shahib Simthud Durar), Ya Rabbi bil Musthafa, dan Shalawat Burdah (gubahan Imam Al-Bushiri). “Sebuah ekspresi makhluk nista kepada manusia paling sempurna, Rasulullah SAW, sang kekasih Allah,” demikian yang dikatakan produser eksekutif album ini, Ezzet Chefik Chehab, dalam sambutannya yang tertera di sampul belakang kemasan album Asyiqin an Nabi, saat menerangkan mengapa warna musik orkestra yang dipilih untuk mengiringi bacaan-bacaan shalawat Nabi dan qashidah-qashidah salaf ini. “Ternyata semua telah berevolusi dari aslinya. Kami berkesimpulan, irama bukanlah sesuatu yang prinsipiil, melainkan sebuah kreasi keindahan untuk dinikmati, dan akan menjadi lebih baik jika diniatkan dan digunakan untuk suatu kebaikan,” katanya. Di akhir sambutannya, Ezzet mengatakan, “Instrumen irama musik hanyalah bumbu untuk menambah nikmat suatu penyajian, yang terpenting adalah niat dan isi dari sajian ini.”
|




