Friday, 18 May 2012

Share

Bagikan Artikel Ini



Sebuah ekspresi makhluk nista kepada manusia paling sempurna, Rasulullah SAW, sang kekasih Allah.

 


Shalawat Nabi atau qashidah berisi pesan-pesan keagamaan merupakan sesuatu yang sakral dalam ritus ibadah kaum muslimin. Umumnya, shalawat atau qashidah dibacakan secara bersama-sama di masjid-masjid, majelis-majelis shalawat, dan yang semacamnya. Bila disenandungkan dengan dipadukan alat musik, hadrah, atau hajir marawis, menjadi iringan wajib di setiap majelis shalawat dan qashidah.

Lewat suara jernih Nejmi Chehab, di sini Anda akan merasakan sesuatu yang berbeda. Di tengah rasa hati yang bergetar meresapi bait demi bait shalawat dan qashidah yang dibacakan, Nejmi membawa telinga pendengar pada nuansa rampak suara musik yang berbeda: nuansa orkestra. Ya, musik orkestra dipilih Nejmi dalam sajiannya kepada segenap pecinta shalawat kali ini.

Selamat Datang
“Saat itu adalah hari yang cemerlang dalam catatan sejarah. Rumah-rumah dan gang-gang bergetar karena gema suara pujian kepada Allah. Lalu, dengan perasaan suka cita yang menggelora, gadis-gadis Anshar bernyanyi menyenandungkan:

Thala’al badru ‘alayna
min tsaniyyatil wada’
wajabasysyukru ‘alayna
ma da’a lillahi da’

Telah terbit purnama di atas kita
dari daerah Tsaniyyah Al-Wada’
wajiblah bagi kita untuk bersyukur
atas seruannya kepada Allah

Demikian seperti yang disebutkan Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri dalam Ar-Rahiqul Makhtum pada bab “Masuk Ke kota Madinah”. Kitab-kitab sirah Nabawiyah lainnya pun banyak memberitakan hal serupa.

Dikisahkan, para penduduk kota Madinah, laki-laki dan perempuan, orang dewasa dan anak-anak, setiap harinya keluar rumah menuju pinggiran kota untuk menunggu kedatangan Rasulullah SAW. Bila hari telah petang dan belum ada tanda-tanda kedatangan beliau, mereka pun pulang dengan perasaan kecewa.

Hingga, suatu ketika dari jauh kelihatan ada debu yang beterbangan. Semakin lama semakin dekat. Mereka berharap-harap cemas, hati mereka bertanya-tanya, siapa gerangan yang datang?

Alangkah bahagianya mereka tatkala mengetahui bahwa yang datang adalah Rasulullah SAW, manusia agung yang mereka tunggu-tunggu kedatangannya. Serentak, mereka pun menyenandungkan gubahan bait-bait syair di atas sebagai ucapan selamat datang penduduk kota Madinah atas kehadiran beliau.

Syair qashidah itu pulalah yang menjadi pembuka dari tujuh lagu yang dibawakan Nejmi dalam debutnya pada album Asyiqin an Nabi ini. Seakan, album ini hadir dengan pesan gembira di tengah para pecinta shalawat sekalian di bumi Nusantara atas diutusnya Rasulullah SAW pada alam semesta, sebagaimana pada empat belas abad silam masyarakat Anshar meluapkan kegembiraannya di tengah-tengah jalan kota Madinah.

Berevolusi
Setiap instrumen alat musik orkestra ikut berperan dalam memperindah alunan musik yang dihadirkan. Ada berbagai alat musik di dalamnya. Tiap alat musik memiliki ciri dan karakter sendiri dengan keindahannya masing-masing dan dimainkan sesuai dengan karakter pemainnya sendiri-sendiri. Ada banyak suara gitar di sana, banyak terompet, begitu juga banyak suara biola. Tiap instrumen, baik alat-alat petiknya, tiupnya, pukulnya, maupun geseknya, satu sama lain mempunyai karakter suara yang khas. Masing-masing gitar saja terdengar mengeluarkan suara dengan karakternya masing-masing dan saling menunjang terwujudnya keindahan dan keragaman suara yang indah. Begitu pun instrumen musik lainnya. Memang demikianlah kekhasan ciri musik orkestra.

Setelah lantunan indah Thala’al Badru ‘Alayna, Nejmi melanjutkannya dengannya shalawat pembuka dalam Maulid Simthud Durar, kemudian lagu-lagu berikutnya adalah Marhaban Ya Nurul ‘Aini, Ya Nabi Salam ‘Alayka, Huwannuuru (qashidah gubahan Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, shahib Simthud Durar), Ya Rabbi bil Musthafa, dan Shalawat Burdah (gubahan Imam Al-Bushiri).

“Sebuah ekspresi makhluk nista kepada manusia paling sempurna, Rasulullah SAW, sang kekasih Allah,” demikian yang dikatakan produser eksekutif album ini, Ezzet Chefik Chehab, dalam sambutannya yang tertera di sampul belakang kemasan album Asyiqin an Nabi, saat menerangkan mengapa warna musik orkestra yang dipilih untuk mengiringi bacaan-bacaan shalawat Nabi dan qashidah-qashidah salaf ini.

“Ternyata semua telah berevolusi dari aslinya. Kami berkesimpulan, irama bukanlah sesuatu yang prinsipiil, melainkan sebuah kreasi keindahan untuk dinikmati, dan akan menjadi lebih baik jika diniatkan dan digunakan untuk suatu kebaikan,” katanya.

Di akhir sambutannya, Ezzet mengatakan, “Instrumen irama musik hanyalah bumbu untuk menambah nikmat suatu penyajian, yang terpenting adalah niat dan isi dari sajian ini.”
Selamat menikmati.


Ismail Yahya

 

Add comment


Security code
Refresh

Mutiara Hadits