Friday, 18 May 2012

Share

Bagikan Artikel Ini

Judul: Kehidupan Nabi Muhammad SAW dan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib RA
Pengarang: Sayyid Abul Hasan Ali Al-Hasani An-Nadawi
Penerjemah: Habib Yunus Ali Al-Muhdhor
Penerbit: CV Asy-Syifa’ Semarang


Ali KWh dikenal sebagai orang yang paling dekat dengan Rasulullah. Diibaratkan, kalau Nabi adalah kota, Ali itu pintu gerbangnya. Karena itulah, ketika para ahli sejarah ingin mengetahui sifat Nabi SAW, mereka berpegang pada ucapan Ali.

Meski dikemas dengan singkat, buku ini cukup komplet mengisahkan riwayat Nabi Muhammad SAW. Ditambah perikehidupan Khalifah Ali bin Abi Thalib RA.

Tarikh Nabi Muhammad SAW, atau yang juga dikenal sirah Nabawiyah, telah ditulis oleh puluhan atau ratusan alim ulama. Bahkan sarjana non-muslim pun ikut menulis keberhasilan pribadi yang mulia dan sempurna akhlaqnya ini.

Ratusan penulis itu telah mengisahkan ihwal Rasul dan Penutup Para Nabi itu dalam berbagai segi kehidupan. Ada yang menulisnya sebagai pribadi agung, negarawan, jenderal, dan pemimpin paripurna. Michael Hart, sebagai salah satu contoh, telah menempatkan Nabi Muhammad sebagai tokoh nomor satu yang sukses dengan ajarannya.

Begitu juga yang dilakukan Sayyid Abul Hasan Al-Hasani Ali An-Nadawi dari India dengan bukunya yang diindonesiakan oleh Yunus Ali Al-Muhdhor menjadi Kehidupan Nabi Muhammad SAW dan Amirul Mukminin Ali bin Thalib RA.

Dalam buku yang diterbitkan oleh CV Asy-Syifa’ Semarang ini diungkap kisah Nabi yang paling shahih. Ulama India terkenal ini tidak hanya menelitinya dalam berbagai kitab sirah Nabawiyah, tetapi langsung meneliti ke lokasi kejadian di Makkah dan Madinah.

An-Nadawi menulis buku ini tidak saja ditujukan kepada pembaca muslim, tetapi juga pembaca non-muslim. Hal itu diandaikan, “Sebagaimana keperluan orang sakit terhadap obat jauh lebih besar daripada orang yang sehat sendiri.”

Pengarang sengaja mengetengahkan kejadian aslinya sesuai dengan apa yang ada agar dapat dinilai oleh pembaca sendiri, karena sejarah Nabi Muhammad SAW akan mudah diresapi oleh setiap jiwa dan akal tanpa memerlukan juru penerangan atau pujangga.

Untuk penulisan sejarah Nabi Muhammad, An-Nadawi menulis dalam pengantarnya, hendaknya unsur akal dan perasaan timbul secara bersamaan. Sebab dalam pembahasan ilmiah, kita tidak dibenarkan menggunakan akal saja, tanpa diikuti perasaan dan keimanan. Jika tidak, pembahasan itu akan sangat kaku.

Sebaliknya, jika hanya didasarkan pada perasaan dan keimanan, tanpa peran akal, pembahasan itu tidak akan diterima kalangan di luar Islam. Padahal sejarah Nabi Muhammad itu bukan hanya diperuntukkan bagi kaum muslimin, melainkan juga orang di luar Islam.

Karena begitu bersemangatnya dan terkesan dengan materi yang ditulisnya, ketika jerih payahnya sudah berhasil menjadi buku yang tercetak, An-Nadawi mengaku bahwa itulah kitab yang berkesan dalam sepanjang hidup kepengarangannya. “Kitab yang tidak pernah aku lupakan keutamaannya,” tulisanya dalam bukunya yang berjudul Ath-Thariq Ilal Madinah (Jalan Menuju Madinah).

Buku ini memang mengisahkan sisi kehidupan Nabi dengan cukup komplet, walau tidaklah semendetail sebagaimana buku-buku sirah Nabawiyah yang ditulis berjilid-jilid.

Di samping itu, buku ini juga berkisah tentang perikehidupan Khalifah Ali bin Abi Thalib RA. Masih ditambah dengan riwayat beberapa keturunan hingga timbulnya paham Syi’ah hingga zaman Khomeini di Iran.
Ali memiliki keistimewaan, yakni sebagai anak-anak yang pertama masuk Islam. Ia adalah anak asuh Nabi, setelah Abu Thalib merelakan anaknya itu diasuh oleh sang keponakan sebagai upaya untuk meringankan kehidupannya yang miskin.

Proses masuk Islamnya dikisahkan dengan menarik. Ali pada waktu itu berumur 10 tahun, sehingga ia adalah orang yang masuk Islam dan tidak pernah tercemar dengan “agama” berhala yang dianut oleh kaum Quraisy Makkah pada waktu itu. Karena itulah, ia menjadi simbol generasi muda Islam yang benar-benar hasil asuhan Islam, dan tidak pernah sedikit pun terkontaminasi Jahiliyah.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib lahir pada malam ke-12 bulan Rajab, tahun ke-30 Tahun Gajah, abad keenam Masehi, sepuluh tahun sebelum Nabi diutus menjadi rasul. Proses masuknya Islam dikisahkan oleh Ibnu Ishaq, sejarawan awal Islam.

Pada suatu hari, setelah melihat Rasulullah bersama istrinya, Khadijah, shalat, Ali bertanya, “Wahai Muhammad, apa yang engkau kerjakan ini?”

Jawab Rasulullah, “Ini adalah agama Allah yang diridhai bagi-Nya dan telah diutus rasul-rasul sebelum aku untuk menyampaikannya. Aku mengajakmu untuk beriman kepada Allah, Yang Maha Esa, yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku mengajakmu untuk menyembah-Nya, dan ingkarilah (berhala) Latta dan Uzza.”

Lalu Ali berkata, “Apa yang engkau katakan ini belum pernah aku dengar sebelumnya, karena itu aku tidak dapat memutuskannya sebelum aku berunding dengan ayahku.”

Karena masih dalam masa dakwah secara rahasia, Rasulullah pun berpesan kepada Ali, “Wahai Ali, jika engkau belum mau masuk Islam, sebaiknya rahasiakan saja berita ini.”

Malam harinya, Allah SWT membukakan pintu hati Ali kepada Islam. Maka di pagi harinya, Ali menemui Rasulullah seraya berkata, “Wahai Muhammad, bagaimana caranya bila aku mau memeluk agama yang engkau peluk?”

Jawab Rasulullah, “Hendaklah engkau mengikrarkan bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah, yang tiada sekutu bagi-Nya, dan sekaligus engkau melepaskan keyakinan kepada Latta dan Uzza dan sekalian berhala lainnya.”

Setelah masuk Islam, Ali tetap bersama Rasulullah dan selalu menutupi keislamannya dari Abu Thalib.
Namun, meskipun ia menutupinya dengan rapi, karena mereka harus melaksanakan shalat, akhirnya Abu Thalib memergoki keduanya ketika sedang shalat berjama’ah.

Abu Thalib bertanya kepada putranya, “Wahai Ali, agama apa yang kamu peluk ini?”
Jawab Ali, “Wahai ayahku, sesungguhnya aku telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan aku pun meyakini sepenuhnya segala ajaran yang disampaikannya, aku pun telah shalat bersamanya dan mengikuti seluruh perintahnya.”

Maka Abu Thalib berkata, “Sesungguhnya dia (Muhammad) telah mengajakmu kepada kebaikan, karena itu berpegangteguhlah kepadanya.”

Ali adalah salah satu anak Abu Thalib, saudaranya yang lain adalah Thalib (dengan nama ini ayahnya dipanggil “Abu Thalib”), Aqil, Ja’far, Ummu Hani’, dan Jumanah.

Dibunuh oleh Khawarij
Setelah dewasa, Ali menjadi menantu Nabi. Ia dinikahkan dengan Fathimah, putri bungsu Rasulullah. Dari pasangan serasi ini kemudian lahirlah Hasan, Husein, Muhsin (meninggal waktu kecil), Zainab Al-Kubra, dan Ummu Kultsum.

Sedang dari istri-istri lain setelah Fathimah wafat, Ali dianugerahi beberapa anak, yaitu Al-Abbas, Ja’far, Abdullah, dan Utsman. Keempat putra Ali ini terbunuh bersama saudara mereka, Husein, di Padang Karbala’.

Selain itu Ali masih mempunyai dua putra lainnya, yanki Ubaidillah dan Abu Bakar. Keduanya juga terbunuh di Karbala’. Putra-putranya yang selamat dari Tragedi Karbala’ adalah Yahya, Muhammad Al-Ashgar, Umar, Ruqayyah, dan Muhammad Al-Ausath.

Adapun putranya yang bernama Muhammad Al-Akbar (Ibnu Hanafiyah) kelak menjadi ulama terkenal pada zamannya. Ibnu Jarir, ahli sejarah, meriwayatkan, Ali dikarunia empat belas putra dan tujuh belas putri. Dari putra-putri Ali, yang mempunyai keturunan hanya lima orang, yaitu Al-Hasan, Al-Husein, Muhammad Ibnu Hanafiyah, Al-Abbas, dan Umar.

Ali KWh dikenal sebagai orang yang paling dekat dengan Rasulullah. Diibaratkan, kalau Nabi adalah kota, Ali itu pintu gerbangnya. Karena itulah, ketika para ahli sejarah ingin mengetahui sifat Nabi SAW, mereka berpegang pada ucapan Ali, “Beliau (SAW) adalah orang yang paling lapang dadanya, paling jujur lisannya, paling lemah lembut budi pekertinya, dan paling mulia keluarganya. Barang siapa melihatnya akan terkesan pada kharismanya. Barang siapa bergaul dengannya akan jatuh cinta....”

Salah satu bukti bahwa Ali adalah seorang yang paling jeli pengetahuannya tentang sifat pemaaf dan kesabaran Nabi bila beliau sedang menghadapi orang-orang yang telah menyakiti hatinya (“Beliau adalah seorang yang paling lapang dadanya”) dikisahkan oleh Abu Sofyan Ibnul Harits bin Abdul Muthalib, seorang putra paman Nabi, yang pernah menghina Nabi Muhammad SAW.

Dikarenakan sangat tertusuknya atas ulah anak pamannya itu, beliau pernah membuang muka sewaktu berjumpa dengannya dalam perjalanan ke Makkah. Abu Sofyan Ibnul Harits, yang takut dengan hal itu, mengadu kepada Ali.

Maka Ali berkata, “Datanglah kepada Rasulullah dari arah wajahnya, kemudian katakan kepada beliau apa yang pernah diucapkan oleh saudara-saudara Nabi Yusuf, ‘Wallaahi laqad aatsarakallahu alainaa wa inkunnaa laminal khaathi-in’ (Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan engkau atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang telah bersalah).”

Abu Sofyan Ibnul Harits pun mengikuti petunjuk tersebut.
Maka begitulah, mendengar ucapan yang sangat dikenalnya itu, Nabi SAW langsung menjawab, “Laa tatsriiba ‘alaikumul yaauma yaghfirullahu lakum wa huwa arhamur raahimiin.” (Pada hari ini tak ada cercaan terhadapmu, mudah-mudahan Allah mengampunimu, dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang).

Setelah dimaafkan oleh Rasulullah, Abu Sofyan segera menyatakan keislamannya dan sejak itu ia tidak lagi pernah mengangkat wajah di hadapan Rasulullah SAW.

Sebagaimana Khalifah Umar dan Utsman, Khalifah Ali juga meninggal dibunuh oleh orang Khawarij.
Ketika itu, Ali keluar rumah hendak menbangunkan para sahabatnya untuk shalat Subuh. Tiba-tiba dari kegelapan, Ibnu Muljam, si pembunuh dari golongan Khawarij, muncul dan membacok tubuh Ali dengan pedang yang sudah dilumuri racun ganas. Ibnu Muljam melakukannya sambil berkata, “Laa hukma illa lillah (Tidak ada hukum kecuali hukum Allah), bukan untuk kamu dan sahabat-sahabatmu, wahai Ali!”

Sebelum wafat, Ali masih bisa berpesan kepada anak-anaknya, “Wahai Bani Abdul Muthalib, jangan kalian bunuh kecuali orang yang telah membunuhku. Lihatlah, jika aku mati dikarenakan bacokannya, bacoklah dia seperti aku dibacok olehnya. Dan janganlah dia dicincang, sebab aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Jangan engkau mencincang walaupun terhadap seekor anjing yang liar’.”

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib meninggal sebagai syahid tepat di hari Jum’at, 17 Ramadhan 36 Hijriyyah. SB


 

Add comment


Security code
Refresh

Mutiara Hadits