Friday, 18 May 2012

Share

Bagikan Artikel Ini


Ia merasa bersyukur karena bisa menekuni bidang sastra dan kebudayaan Arab.





Prof. Acmad Bachmid adalah pribadi yang terbuka, hangat, dan ramah. Dialek bicaranya khas Indonesia Timur, dengan intonasi yang keras.

Guru besar dalam sastra dan kebudayaan Arab UIN Syarif Hidayatullah ini lahir di Manado, Sulawesi Utara, pada 5 Oktober 1948. Hampir sepanjang hidupnya dihabiskan untuk belajar dan mengajar sastra Arab.    Kecintaannya kepada bahasa dan sastra Arab berawal dari kehidupan keluarganya di kampung Arab, Manado. Lingkungan membentuknya untuk menyenangi kehidupan beragama dan bahasa Arab.

Ayahnya, Salim Bachmid, adalah seorang pedagang. Ia tidak hanya begitu kuat mendorong anaknya untuk belajar agama, tapi juga berusaha memberikan teladan dalam menjalankan kehidupan beragama. Sedangkan ibunya, Maani Bachmid, seorang wanita yang lembut dan sabar, yang selalu mengarahkan anak-anaknya agar taat beribadah dan rajin menuntut ilmu.

Sang ibu wafat ketika Achmad Bachmid masih berumur delapan tahun, tepatnya tahun 1956. “Kami berempat bersaudara lalu diurus oleh Ayah dan adik Ayah. Sejak Ibu wafat, Ayah begitu berkonsentrasi mengurus kami dan memutuskan tidak menikah sampai beliau wafat pada tahun 2003. Itu keputusan yang luar biasa,” tutur Prof. Achmad Bachmid mengenang.  

Bermula dari Al-Khairat
Seorang keluarga jauh dan berprofesi sebagai tabib suatu kali datang dari Palu ke Manado, tempat keluarga Achmad Bachmid. Ia menanyakan bagaimana pendidikan Achmad, lalu menawarkan kepada keluarga, “Bagaimana kalau Achmad ke Palu dan menuntut ilmu di Perguruan Al-Khairat yang terkenal itu.”

Achmad sangat senang dan ingin benar mendapat pelajaran dari Habib Idrus Al-Jufri, yang namanya di Manado sangat dihormati. Keluarga pun mengizinkan. Maka berangkatlah Achmad kecil ke Palu bersama muballigh Imran, begitu ia memanggil kerabatnya itu.

“Saya tinggal di tempat mubaligh Imran, beliau salah seorang bendahara di Perguruan Al-Khairat. Anaknya ada yang sebaya dengan saya.

Kira-kira empat bulan saya belajar di rumah saja. Setelah itu dites dan dimasukkan ke kelas empat ibtidaiyah.

Ketika kenaikan kelas, saya meloncat ke kelas enam.

Setelah selesai di ibtidaiyah, saya melanjutkan ke mu’allimin, sejenis PGA (pendidikan guru agama). Pelajaran agamanya banyak dan penuh,” tutur Prof. Achmad Bachmid dengan suara mantap.

“Ketika menjadi santri di Al-Khairat, saya dengan Habib Idrus cukup dekat bergaul.

Setelah tiga tahun bersama mubaligh Imran di rumahnya, saya pindah ke asrama. Yang disebut asrama waktu itu berupa rumah-rumah pribadi, termasuk rumah Habib Idrus.

Kala itu beliau mempunyai dua orang istri, yang pertama seorang syarifah dan yang kedua janda raja Palu. Nah, saya ditempatkan di rumah istri keduanya itu.

Kebiasaan kami pada waktu itu adalah siang belajar lalu setelah maghrib membaca kitab. Istirahat ketika isya, lalu setelah isya dilanjutkan sampai larut malam. Begitu tiap malam,” kenang ayah tiga anak ini.

“Habib Idrus tidak membedakan keluarga dan santrinya. Beliau tidak pernah mementingkan diri sendiri. Beliau dengan Al-Khairat-nya hidup dalam tiga masa, masa Belanda, Jepang, dan kemerdekaan, karena pendidikan di Al-Khairat dimulai pada 1930.

Orang-orang takut dengan penjajah. Tapi kalau sudah berhadapan dengan Habib Idrus, penjajah itu yang merunduk-runduk. Itulah salah satu karamah beliau.

Masyarakat Palu sangat menghormati dan menyayangi Habib Idrus. Banyak karamah yang ada pada beliau, tapi kepada santrinya tidak pernah diceritakan. Kami tahu dari cerita orang luar,” tuturnya.

Setelah menempuh jenjang mu’allimin selama empat tahun, ia masuk ke tingkat aliyah selama dua tahun untuk mengambil ijazah.

Setelah itu ia mendapat beasiswa melanjutkan pendidikan ke IAIN Alauddin, Makassar. Maka mulailah babak baru dalam kehidupan Achmad Bachmid, menuntut ilmu jauh ke rantau orang.

Tapi ternyata langkahnya belum berhenti. Setelah selesai di Alauddin, ia mendapat beasiswa lagi untuk belajar ke salah satu jantung ilmu pengetahuan Islam, yaitu Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Pelajaran dari Luar
Selama empat tahun, dari 1972 sampai 1976, Achmad Bachmid belajar di Al-Azhar. Bidang yang diambilnya adalah kebudayaan Islam. Banyak hal yang didapatkannya selama belajar di Negeri Piramid itu. Para mahasiswa dijamin kehidupannya dan mendapat uang saku. 

“Itu salah satu kelebihan pendidikan di Mesir. Kita tinggal belajar, dapat uang saku. Sistem pendidikan di Mesir itu terfokus. Sistem pendidikan di sana dipengaruhi Prancis, yang pernah bercokol tahun 1798 sampai 1801, yang ketika itu Prancis di bawah pimpinan Napoleon. Mereka hanya tiga tahun di Mesir tapi yang mereka warisi dan bangun sangat luar biasa. Malah Napoleon itu masuk Islam di Mesir. Ini yang menjelaskan kepada saya imam Mesir,” ujar Prof. Achmad meyakinkan.

“Pendidikan di Mesir itu dari awal sudah diarahkan, misalnya yang akan masuk kejuruan, yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi. Yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi juga diklasifikasikan, mana yang masuk sosial, mana yang teknik, mana yang kedokteran. Pendidikan itu wajib untuk setiap orang, tersedia beasiswa, dan tidak dipungut biaya. Di tingkat perguruan tinggi, kuliah gratis, tapi biaya buku dibebankan kepada mahasiswa,” lanjutnya lagi prihatin.

Selesai dari Al-Azhar dengan mengantungi gelar Lc, Prof. Achmad tertarik pada tawaran untuk menyelesaikan pascasarjana di Frijt University, Amsterdam, Belanda. Di sana ia mengambil filsafat Islam.

Satu pelajaran yang diambilnya dari Barat adalah betapa gigih dan disiplinnya dalam menuntut ilmu.

“Mereka, kalau sudah belajar, mengerjakan tugas-tugasnya sampai larut malam, setelah itu belajar lagi. Pagi masuk kelas sampai sore. Begitu terus. Herannya tidak ada yang telat, atau jam karet.

Saya pernah kena batunya soal jam karet ini. Saya sudah berjanji dengan teman-teman kuliah, orang Belanda, tapi saya terlambat sepuluh menit, ya ditinggal saja oleh mereka. Jadi begitulah mereka menghargai kedisiplinan dan waktu,” ujarnya serius. 

“Sistem pendidikan dan ilmu pengetahuan sangat mempengaruhi perilaku dan watak manusia. Di dunia Barat, ilmu pengetahuan sangat maju, mereka berilmu dan berusaha untuk mengaplikasikannya. Selama saya di Belanda, yang dua setengah tahun, belum pernah saya mendapati orang berbohong. Nah, bayangkan itu.”

Mengapa Barat bisa mendidik masyarakatnya untuk berperilaku sesuai dengan fitrah kemanusiaan? Kejujuran, misalnya, yang ini merupakan salah satu ajaran utama Islam?

Prof. Achmad Bachmid punya beberapa cerita tentang hal itu.

“Saya punya bapak angkat di negeri Belanda, orang Ambon. Suatu hari ia kecurian, maka datanglah ia ke kantor polisi.

Sesampai di sana ia disuruh mencatat apa saja yang hilang, kemudian dicatat nomor rekeningnya.
Suatu hari kemudian diganti semuanya dengan uang. Nah, begitu pelayanan di negara-negara maju. Bagaimana dengan kondisi di negara kita?”

Pertanyaan Prof. Achmad Bachdim adalah kerisauan banyak orang yang peduli kepada negeri ini. Kenapa di negara kita tidak begitu keadaannya?

“Karena lingkungan kita semakin rusak. Di rumah atau sekolah dapat pelajaran yang baik, tapi tidak didukung oleh lingkungan dan masyarkatnya. Berbeda dengan di Barat, mereka sejak kecil sudah membudayakan hidup sesuai dengan aturan.

Korupsi, misalnya, terjadi di semua lini. Itu semua pengaruh lingkungan. Orang yang jujur akan kalah, karena lingkungannya tidak jujur.

Kondisi lingkungan dan rumah sering bertentangan, itu yang membuat orang terjerembab. Coba, orang jujur dihadapkan dengan godaan terus-menerus dan kesempatan untuk selalu menyeleweng, lama-lama akhirnya takluk juga.

Perbedaan hidup yang mencolok antara yang kaya dan miskin juga membuat lingkungan tidak kondusif untuk menaati aturan,” kata Prof. Achmad mengkritisi kondisi masyarakat kita saat ini.

Benahi Sistem
Menurut Prof. Achmad Bachmid, banyaknya terjadi penyimpangan disebabkan oleh sistem, yang kadang tidak sesuai dengan logika dan akal sehat. Salah satunya adalah sistem anggaran.

Sistem anggaran dibuat dengan tujuan harus habis. Kalau tidak habis, anggaran selanjutnya akan diturunkan. Maka berlomba-lombalah para birokrat menghabiskan anggaran itu dengan kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat. Ada studi banding yang tak perlu, ada seminar yang tidak jelas tindak lanjutnya. Pokoknya harus habis. 

“Seorang bupati diangkat dengan modal tiga miliar, padahal jabatannya hanya lima tahun, maka dia memberlakukan sistem upeti. Setiap kepala dinas yang mau diangkat dipungut sekian ratus juta, nanti dua tiga tahun diganti lagi agar setoran tercapai, begitu terus, sehingga tidak ada program yang bisa dibuat untuk kemaslahatan rakyat.

Coba lihat uang untuk Papua, sekian triliun, tapi tidak ada yang bisa di bangun di sana. Lalu lari ke mana uang itu?

Begitu juga dengan anggaran pendidikan, yang demikian besar, tapi tidak terlihat ada kemajuannya. Lalu lari ke mana uangnya?”

Jalan keluarnya, menurutnya, adalah membenahi sistem yang sesuai dengan nurani dan akal sehat, serta membangun sistem hukum yang betul-betul berkeadilan dan tegas sehingga para pelaku penyimpangan akan jera.

“Hukum harus sama untuk siapa saja, benar-benar tidak bisa dipengaruhi, apalagi dibeli,” ujarnya tegas.
Lalu Prof. Achmad Bachmid mengingatkan agar umat Islam sungguh-sungguh melakukan hal yang wajib, shalat yang terutama, karena itu fundamen agama. “Banyak saya temukan pejabat negara-negara Islam, baik itu saat seminar, konferensi OKI, ataupun pertemuan  internasional, tidak melakukan kewajibannya. Jadi, bagaimana mungkin kita akan terhindar dari kebathilan kalau untuk hal yang wajib saja kita lalai?” tanyanya retoris.



Membahas Syair Sang Guru
Bidang yang ditekuninya, bahasa Arab, menurutnya adalah bidang yang langka. Ia merasa bersyukur karena bisa menekuni bidang sastra dan kebudayaan Arab. “Ada tiga guru besar bidang sastra dan budaya Arab di UIN saat ini,” katanya.

Prof. Achmad merasa beruntung karena disertasinya membahas syair-syair Habib Idrus Al-Jufri, guru yang sangat dicintainya.

“Saya membahas nilai-nilai sastranya, nilai balagahnya. Habib Idrus itu membuat syair puluhan judul.

Syair-syairnya itu sesuai dengan topik. Biasanya beliau kalau ada peristiwa membuat syair, lalu didendangkan oleh para santrinya. Jadi sangat memasyarakat di kalangan santrinya.

Itu yang saya analisis dan jadi disertasi waktu mengambil doktor di UIN Syarif Hidayatullah,” ujar Prof. Achmad.

Karyanya yang sudah terbit adalah Sang Bintang dari Timur (manaqib Habib Idrus Al-Jufri, perluasan dari disertasinya), Intisari Basmalah, dan beberapa buku panduan balagah.   Juga terjemahanan Ensiklopedi Al-Qur’an, enam jilid, terjemahan Sejarah Al-Qur’an, dua jilid, dan Muatan Agama dalam Gurindam Dua Belas (masih dalam proses penyelesaian). 

Puncak kariernya dalam dunia pendidikan adalah ketika ia diangkat menjadi guru besar dalam dalam sastra dan kebudayaan Arab UIN Syarif Hidayatullah pada tahun 2002.

Ihsan M. Rusli

 

Add comment


Security code
Refresh

Mutiara Hadits