Sunday, 20 April 2014
Home Dunia Islam Ziarah
Ziarah PDF Print E-mail
Tuesday, 24 September 2013 15:00

www.majalah-alkisah.comZiarah sebagai kata berarti kunjungan, diambil dari bahasa Arab dengan akar kata zara-yazuru-ziyarah. Sedangkan sebagai istilah, ziarah ialah berkunjung kepada orang yang masih hidup atau yang telah wafat. Namun umumnya kata ziarah sering di­identikkan kunjungan yang dilakukan ke­pada orang yang telah wafat, yakni kun­jungan ke makamnya.

Adapun makna secara syari’at ada­lah mengunjungi makam orangtua, guru, sanak keluarga, para waliyullah dan orang-orang yang dikenal keshalihan­nya, atau makam orang-orang Islam se­cara umum untuk mendoakan mereka.

Dilihat dari faktor subyek dan obyek­nya, ziarah dapat dibagi dalam empat macam.

Pertama, ziarah orang-orang mulia yang masih hidup ke makam orang-orang mulia, seperti berziarahnya Say­yidah Fathimah RA setiap hari Jum’at ke makam paman ayahnya yang syahid di medan Perang Uhud, Hamzah bin Abdul Muthalib RA. Begitu pula dengan berzia­rahnya Sayyidah Aisyah RA ke makam saudaranya, Abdurrahman bin Abu Ba­kar RA, dan berziarahnya Imam Syafi’i ke makam Imam Abu Hanifah.

Kedua, ziarah orang-orang mulia yang masih hidup ke makam orang-orang biasa (awam), seperti berziarah­nya Nabi SAW ke makam para syuhada Uhud dan ziarah beliau ke makam se­orang wanita tua yang selalu menyapu halaman masjid.

Ketiga, ziarah orang-orang biasa, yakni orang-orang awam, ke makam orang-orang mulia, seperti berziarahnya kaum muslimin ke makam Nabi Muham­mad SAW di Madinah atau berziarahnya orang-orang biasa (awam) ke makam para nabi dan rasul Allah, awliya’, ulama, dan orangtua.

Keempat, ziarah orang-orang biasa ke makam orang-orang biasa pula.

Tujuan Ziarah Kubur

Adapun tujuan kegiatan ziarah, per­tama, mendoakan ahli kubur supaya men­dapat ampunan dan rahmat Allah SWT, mendapat kelapangan dalam ku­bur, dijadikan kuburnya salah satu taman surga, serta selamat dari adzab kubur. Ka­rena orang-orang yang telah mening­gal dunia sangat mengharap kiriman doa dari sanak saudara yang masih hidup (QS Al-Hasyr: 10).

Kedua, sebagai salah satu tanda bakti anak kepada orangtua. Oleh ka­rena itu, meskipun orangtua telah me­ninggal dunia, bakti anak tidak boleh ber­henti. Orangtua sangat berharap anak­nya senantiasa menziarahi kuburnya atau mendoakan untuknya.

Ketiga, sebagai tanda bakti murid ke­pada gurunya. Oleh karena itu, menjadi suatu kewajiban bagi murid untuk men­ziarahi kubur gurunya sebagai tanda te­rima kasih atas jasa baik guru yang telah mendidik dan mengajarinya, dan berha­rap semoga ilmu yang diajarkannya ber­manfaat di dunia dan akhirat.

Keempat, sebagai tanda cinta (ma­hab­bah) kepada orang yang di­ziarahi, dan mengharap barakah (tabar­ruk) dari Allah SWT ketika berziarah ke makam para waliyullah atau para ulama. Semo­ga keberkahan dan kebaikan yang Allah SWT berikan kepada mereka dapat di­berikan pula kepada kita yang menzia­rahi kubur mereka.

Kelima, mengingatkan diri pada kefanaan dirinya, kematian, dan negeri akhirat. Sehingga timbul rasa penyesal­an dan penuh dosa, yang membang­kit­kan semangat untuk bertaubat, dan ber­buat taqwa kepada Allah SWT, serta pe­duli terhadap sesama manusia, serta la­pang dada dalam memaafkan orang lain. Selanjutnya diharapkan tumbuh sifat istiqamah untuk menjaga kualitas iman dan nilai-nilai keislaman, dan berharap besar untuk dapat memperoleh akhir hidup yang baik (husnul khatimah).

Hukum Ziarah Kubur

Hukum yang menjadi dasar disun­nahkannya berziarah kubur ialah hadits Nabi SAW yang berbunyi, “Aku (Nabi) dulu melarang kamu ziarah kubur, maka sekarang berziarahlah kamu, karena zia­rah kubur itu bisa melunakkan hati, bisa menjadikan air mata bercucuran, dan mengingatkan adanya alam akhirat, dan janganlah kamu berkata buruk.” (HR Al-Hakim). Begitu pula dengan hadits Nabi SAW, “Dari Aisyah RA, ia berkata, ‘Ada­lah Nabi SAW ketika sampai giliran be­liau padanya (Aisyah), beliau keluar pada akhir malam itu ke Kuburan Baqi’, seraya berkata, ‘Assalamu ’alaikum hai tem­pat bersemayam kaum mukminin. Akan datang kepada kalian janji Tuhan yang ditangguhkan itu besok, dan kami insya Allah akan menyusul kalian. Ya Allah, ampunilah ahli Baqi’ Al-Gharqad’.” (HR Muslim).

Imam Al-Ghazali menyatakan, ziarah kubur adalah perbuatan yang mustahab (perbuatan yang dicintai Nabi SAW) dan sunnah (diperbuat dan dianjurkan Nabi SAW). Sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Shahih Muslim, diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, ia berkata, “Pada suatu ketika Nabi SAW menziarahi ma­kam ibunda beliau. Ketika itu Nabi SAW menangis, dan ikut menangis pula para sahabat yang turut dengan beliau. Ke­mudian beliau berkata, ‘…. Kemudian aku meminta izin kepada Tuhanku untuk menziarahi kubur ibuku, maka aku pun diizinkan. Oleh karena itu, berziarahlah kalian, karena ziarah kubur itu akan mengingatkan kalian pada kematian.” (HR Muslim).

Dari hadits ini dapat dipahami, Nabi SAW menziarahi kubur ibundanya se­mata-mata karena diperintah Allah SWT. Maka Nabi SAW perintahkan pula ke­pada para sahabat dan umatnya untuk ber­ziarah kubur, karena dengan ziarah ku­bur akan mengingatkan diri pada ke­matian atau negeri akhirat.

Begitu pula sebagaimana dikatakan Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam kitab­nya Tafsir al-Munir fi al-Aqidah wa asy-Syari’ah, ketika menguraikan QS At-Takatsur.

Adapun hukum ziarah kubur yaitu mu­bah jika dilakukan dengan adab yang sesuai syari’at, yaitu peziarah memulai dengan ucapan salam kepada ahli kubur di bagian kepalanya, kemudian berdoa kepada Allah Azza Wajalla supaya di­curahkan kasih sayang dan ampunan bagi si mayit, bagi diri si peziarah, dan bagi orang-orang mukmin.

Syaikh Amin Al-Kurdi dalam kitabnya Tanwirul Qulub menyatakan:

“Disunnahkan bagi kaum laki-laki ber­ziarah kuburnya orang-orang Islam untuk mengingat datangnya kematian dan adanya alam akhirat, serta mem­perbaiki hati yang buruk dan memberi manfaat kepada mayit dengan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an di tempat yang dekat dengan­nya, karena ada hadits riwayat Muslim yang artinya, ‘Aku (Nabi) dulu melarang kamu berziarah kubur, maka sekarang berziarah-kuburlah kamu.’ Juga sabda Nabi yang artinya, ‘Berzia­rahlah kubur kamu dan ambillah teladan tentang ada­nya hari kebangkitan.’ (HR Al-Baihaqi). Khu­susnya kuburan para nabi, para wali, dan orang-orang shalih. Se­dangkan bagi kaum wanita, ziarah kubur hukumnya mak­ruh, karena mereka mu­dah meratap dan sedikit yang sabar. Makruh bagi wanita tersebut apabila ziarah mereka itu tidak mengandung hal-hal yang diharam­kan. Kalau mengan­dung hal-hal yang di­haramkan, ziarah me­reka hukumnya ha­ram. Bagi wanita, berziarah kubur ke ma­kam Nabi Muham­mad SAW, dan juga nabi-nabi yang lain, demikian pula ma­kam para ulama dan para wali, hukumnya sunnah.” (Tanwirul Qulub: 216).

Hukum ziarah kubur, pada awalnya dilarang Nabi SAW. Dan larangan ini bersifat umum, baik untuk kaum laki-laki maupun perempuan, karena dikhawatir­kan akan bercampur dengan budaya Ja­hiliyah, berupa timbulnya fitnah dan niyahah (ratapan). Akan tetapi setelah keimanan para sahabat dinilai sudah mantap, Nabi SAW memerintahkan para sahabat untuk berziarah kubur. Dan perintah ziarah kubur ini bersifat umum, baik untuk laki-laki maupun perempuan. Hal ini di antaranya sebagaimana di­jelaskan dalam kitab Ithaf Sadat al-Muttaqin, karya Syaikh Muhammad Az-Zabidi, dan kitab Al-Jami’ ash-Shahih, karya Imam At-Tirmidzi.

Sebagai contoh ialah berziarahnya Sayyidah Fathimah RA ke kubur kakek­nya, Hamzah bin Abdul Mutthalib RA, pada setiap hari Jum’at. Hal ini diketahui oleh Nabi SAW. Dan setelah Nabi SAW wafat, Fathimah RA senantiasa men­zia­rahi kubur ayahnya. Begitu pula dengan berziarahnya Sayyidah Aisyah RA ke kubur saudaranya, Abdurrahman bin Abu Bakar RA. Ini semua menandakan bahwa ziarah kubur dibolehkan bukan hanya bagi orang laki-laki, akan tetapi dibolehkan pula bagi kaum perempuan, selama tidak timbul fitnah dan selamat dari perbuatan niyahah (meratap) atau melakukan perbuatan syirik.

Kalangan ulama Ahlussunnah me­nyatakan, hukum ziarah kubur bagi kaum perempuan yang telah mendapat izin dari suaminya atau walinya sebagai berikut:

 

1.   Jika ziarahnya tidak menimbulkan hal yang terlarang dan yang diziarahi itu kubur Nabi, wali, ulama, dan orang shalih, hukumnya sunnah.

2.   Jika ziarahnya tidak menimbulkan hal yang terlarang dan yang diziarahi itu kuburnya orang biasa, sebagian ulama mengatakan boleh, sebagian lagi mengatakan makruh.

3.   Jika ziarahnya menimbulkan hal yang terlarang, hukumnya haram.

 

Tentang ziarah kaum perempuan, Syaikh Ali Ma’shum dalam kitabnya Hujjah Ahlissunnah, pada bab ziarah kubur, berkata:

“Para ulama berselisih pendapat mengenai kaum wanita berziarah kubur. Segolongan ulama mengatakan makruh tahrim (dekat kepada keharaman) atau tanzih (untuk dihindarkan), karena ada hadits riwayat Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW mengutuk wanita-wa­nita yang berziarah kubur (HR Ahmad, Ibn Majah, dan At-Tirmidzi). Sementara mayoritas ulama mengatakan boleh, apabila terjamin keamanannya dari fit­nah, dengan dalilnya yaitu hadits riwayat Muslim dari Siti Aisyah RA, dia berkata, ‘Apa yang saya baca ketika ziarah kubur, ya Rasulallah?’

Rasul bersabda, ‘Bacalah Assalamu ‘alaikum ahla diyaril muslimin’.” (Kitab Hujjah Ahl as-Sunnah, hlm. 58).

AB

Pasang iklan dilihat ribuan orang? klik > murah dan tepat sasaran">Serbuanads >> MURAH dan TEPAT SASARAN

 

Add comment


Security code
Refresh