Saturday, 19 April 2014
Home Dunia Islam Masih di Atas Kalimat yang Satu
Masih di Atas Kalimat yang Satu PDF Print E-mail
Tuesday, 24 September 2013 11:33

www.majalah-alkisah.comBila pun terjadi perbedaan pendapat, itu tidak lain hanya pada seputar permasalahan fiqih, seperti permasalahan dalam hukum harta warisan, permasalahan halal-haram, dan sejenisnya, yang perbedaan itu tidak menimbulkan saling menyesatkan atau menfasikkan. Mereka berada dalam situasi dan kondisi semacam ini selama masa pemerintahan Abu Bakar RA, Umar bin Khaththab RA, dan enam bulan masa pemerintahan Utsman bin Affan RA.

Setelah kaum muslimin menjadi satu padu di bawah kepemimpinan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, kemudian me­reka berbeda pendapat dalam masa­lah tanah Fadak dan masalah harta waris­an yang ditinggalkan oleh para nabi – alaihimush-shalatu was-salam.

Fadak adalah satu dusun milik Yahudi yang berada di sebelah utara kota Madi­nah. Kaum Yahudi menyerahkan dusun itu kepada Nabi SAW dengan tanpa ada peperangan pada saat kekuatan kaum Yahudi Khaibar terlumpuhkan dan me­nyerahkan diri. Di bawah pengelolaan Nabi SAW, beliau mengambil hasilnya untuk menafkahi keluarga beliau SAW.

Ketika beliau SAW wafat, Aisyah RA mengatakan bahwa Nabi SAW sewaktu masih hidup telah memberikan tanah Fadak itu kepadanya dan menjadi milik­nya.

Namun permasalahan ini berakhir dengan keputusan Abu Bakar RA dengan tidak menyerahkan tanah itu kepada Aisyah RA dengan berdasarkan sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya kami para nabi tidaklah mewariskan (harta ben­da). Apa-apa yang kami tinggalkan, itu adalah shadaqah.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Malik, Ibnu Hanbal).

Setelah itu mereka disibukkan de­ngan memerangi Musailamah Al-Kadz­dzab, Sajjah At-Tamimiyah, Thulaihah bin Khuwailid Al-Asadi, dan Al-Aswad bin Zaid Al-‘Ansi.

Musailamah bin Tsumamah Al-Hanafi Al-Wa’ili Al-Kadzdzab adalah orang yang pertama mengikrarkan dirinya sebagai nabi palsu. Keinginannya itu mulai dilaku­kan ketika Nabi SAW masih hidup. Bah­kan, ia mengarang bait-bait sajak untuk menyama-nyamakan dengan Al-Qur’an. Musailamah pun segera diperingatkan agar kembali ke jalan yang benar dan me­nyadari serta menginsyafi kekeliruannya. Tetapi peringatan itu tidaklah dihirau­kan­nya. Nabi SAW wafat sebelum menyele­saikan misi penumpasan Musailamah Al-Kadzdzab.

Musailamah Al-Kadzdzab tinggal di Yamamah, sebuah tempat yang terletak di antara Nejed dan Bahrain. Dengan di­bantu istrinya, Sajjah Tamimiyah, Musai­lamah berhasil menghimpun pengikut men­capai 40 ribu orang. Suatu jumlah pengikut yang tidak sedikit. Mereka mem­bangkang kepada pemerintahan pusat di bawah kepemimpinan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq RA.

Untuk mengatasi dan menumpas ke­kuatan Musailamah Al-Kadzdzab, Khali­fah Abu Bakar Ash-Shiddiq RA menunjuk Khalid bin Walid sebagai pemimpin pa­sukan kaum muslimin. Khalid bin Walid bersama pasukannya pun segera berge­rak menuju Yamamah.

Masuk Islam

Setelah terjadi pertempuran yang cu­kup sengit, pasukan Musailamah Al-Kadzdzab bisa dilumpuhkan. Musaila­mah Al-Kadzdzab pun tewas terbunuh. Se­telah itu Khalid bin Walid dan pasukan­nya segera melakukan pengejaran ter­hadap para pengikut Musailamah, agar mereka tidak lagi dapat menghimpun ke­kuatan dan segera menyadari kekeliruan­nya.

Sementara itu, setelah Musailamah tewas terbunuh pasukan Khalid bin Walid, Sajjah binti Harits At-Tamimiyah, istri Mu­sailamah Al-Kadzdzab, yang juga se­orang wanita yang mengaku-ngaku seba­gai nabi palsu dan memiliki banyak peng­ikut, wanita yang termayhur sebagai ahli sastra, penyair, dan mendalam pengeta­huannya tentang kitab-kitab samawi, menyatakan diri masuk ke dalam Islam dan kemudian hijrah ke negeri Bashrah, tempat ia wafat dikemudian hari.

Sebelumnya, Thulaihah bin Khuwailid Al-Asadi pun datang kepada Nabi SAW bersama rombongan Bani Asad pada tahun 9 H/631M dan mereka menyatakan diri masuk ke dalam Islam.

Namun setelah pulang ke tempat asal­nya, Thulaihah murtad, keluar dari Islam, dan mendakwahkan dirinya seba­gai nabi palsu di masa Rasulullah SAW masih hidup.

Maka diutuslah Dharar bin Azwar un­tuk membunuh Thulaihah. Dharar pun men­datangi Thulaihah dan menghunus­kan pedangnya kepada Thulaihah. Na­mun pedang Dharar itu tak mampu meng­gores tubuh Thulaihah, sehingga terse­bar­lah berita bahwa Thulaihah tidak mem­pan ditebas pedang tajam. Nabi SAW lebih dahulu wafat sebelum Thu­lai­hah ditumpas. Pengikut Thulaihah pun se­makin banyak dari penduduk Bani Asad, Ghathfan, dan Thayyi’.

Pada masa Khalifah Abu Bakar, be­liau mengutus Khalid bin Walid bersama pasukannya untuk menumpas Thulaihah Al-Asadi. Thulaihah dan para pengikut setianya pun dapat dilumpuhkan dan Thulaihah melarikan diri ke negeri Syam.

Pada masa Khalifah Umar bin Khath­thtab RA, Thulaihah menginsafi kekeliru­annya dan kembali menyatakan diri ma­suk ke dalam Islam dan banyak turut serta dalam berbagai peperangan pasukan mus­limin pada berbagai futuhat (pembu­kaan dan perluasan wilayah Islam) yang dilakukan kaum muslimin. Bahkan ke­ksatriaannya di medan perang sangat ter­masyhur dan dikagumi. Dalam satu pe­perangan, Thulaihah bahkan mengha­dapi seribu pasukan kuda musuh seorang diri. Thulaihah turut berperang bersama Sa‘ad bin Abi Waqqash pada saat terjadi Peperangan Qadisiyah. Setelah itu ia bertempur habis-habisan di Nahawand dan gugur sebagai syahid di antara para syuhada kaum muslimin.

Sedangkan Aswad Al-‘Ansi, yang nama aslinya adalah ‘Uyahlah bin Ka‘ab bin ‘Auf Al-‘Ansi, mengaku-ngaku sebagai nabi dan memperlihatkan kemampuan sihirnya hingga membuat takjub orang-orang di sekitarnya dan menjadikan peng­ikutnya semakin bertambah besar. Bah­kan kekuasaanya hingga meliputi Hadh­ramaut sampai Thaif, Bahrain, Ahsa’, dan ‘And. Aswad Al-Ansi tewas di tangan sa­lah seorang kaum muslimin di daerah Yaman.

Setelah itu kaum muslimin kembali disibukkan dengan penumpasan orang-orang yang murtad hingga Allah membi­nasakan mereka.

Kemudian kaum muslimin disibukkan de­ngan peperangan menghadapi pa­suk­an Romawi dan non-Arab lainnya sampai Allah memberikan kaum muslimin keme­nangan yang gilang-gemilang dan wila­yah Islam semakin membentang ke timur dan ke barat. Dan pada saat itu mereka ma­sih berada pada kalimat yang satu da­lam perkara-perkara keadilan dan tauhid, perkara janji dan ancaman Allah SWT, dan pada semua permasalahan ushul.

Bila pun terjadi perbedaan pendapat, itu tidak lain hanya pada seputar perma­salahan fiqih, seperti permasalahan da­lam hukum harta warisan, permasalahan halal-haram, dan sejenisnya, yang perbe­daan itu tidak menimbulkan saling me­nyesat­kan atau menfasikkan. Mereka berada dalam situasi dan kondisi sema­cam ini selama masa pemerintahan Abu Bakar RA, Umar bin Khaththab RA, dan enam bu­lan masa pemerintahan Utsman bin Affan RA.

MS

Pasang iklan dilihat ribuan orang? klik > murah dan tepat sasaran">Serbuanads >> MURAH dan TEPAT SASARAN

 

Add comment


Security code
Refresh