Saturday, 19 April 2014
Home Dunia Islam Islam di Sulawesi : Agama Kerajaan (Bagian 2/Tamat)
Islam di Sulawesi : Agama Kerajaan (Bagian 2/Tamat) PDF Print E-mail
Friday, 16 August 2013 13:00

www.majalah-alkisah.comBarang siapa menemukan jalan yang lebih baik, hendaklah ia menyampaikan kepada orang lain dan seterusnya.

Jatuh ke Tangan Belanda

Masuknya Islam ke Sulawesi, menu­rut buku Ensiklopedi Islam, melalui dua tahap. Pertama, secara tidak resmi pe­nyebaran Islam terjadi melalui jalur per­dagangan. Banyak pedagang asal Sula­wesi yang berdagang ke luar pulau dan bertemu dengan para saudagar muslim. Lewat pertemuan itu, para saudagar Sulawesi memeluk Islam.

Selain itu, banyak pula pedagang muslim dari luar Sulawesi yang berniaga di wilayah itu. Mereka berdagang sambil melakukan syiar Islam. Dari proses ini, ba­nyak penduduk setempat yang akhir­nya tertarik untuk belajar agama Islam dan akhirnya menjadi muslim.

Tahapan kedua, Islam secara resmi di­terima oleh Raja Goa-Tallo pada ma­lam Jum’at, 9 Jumadil Awwal 1014 H, atau bertepatan dengan 22 September 1605 M, yang ditandai dengan keda­tang­an tiga orang datuk yang berasal dari Koto Tangah, Minangkabau.

Di antara para bangsawan yang per­tama menerima Islam, menurut Lontara, adalah mangkubumi Kerajaan Goa yang juga raja Tallo, bernama I Malingkaang Daeng Nyonri atau Karaeng Katangka, yang kemudian mendapatkan nama Islam Sultan Abdullah Awwal Al-Islam.

Pada saat yang sama, Raja Goa ke-14 Manga’rangi Daeng Manrabia juga menyatakan keislamannya, yang kemu­dian diberi nama “Sultan Alauddin”.

Setelah itu, terjadi perubahan secara be­sar-besaran yang ditandai dengan ke­luarnya dekrit oleh Sultan Alauddin pada 9 November 1607.

Dekrit itu berbunyi, “Kerajaan Goa-Tallo menjadikan Islam sebagai agama kerajaan dan seluruh rakyat yang ber­naung di bawah kerajaan harus mene­rima Islam sebagai agamanya.”

Penerimaan Islam di wilayah Goa yang berlangsung tanpa gejolak tersebut kemudian mulai menimbulkan masalah ketika raja Goa menyerukan agar ke­rajaan-kerajaan tetangga juga memeluk Islam. Tiga kerajaan Bugis yang terga­bung dalam Aliansi Tellumpocco meno­lak seruan itu sehingga terjadi perang an­tara kerajaan Makassar, yang diwakili oleh Kerajaan Goa-Tallo, dan kerajaan Bugis, yang diwakili oleh Kerajaan Bone, Soppeng, dan Wajo.

Perang tersebut dalam Lontara Bugis diistilahkan sebagai Musu Selleng atau Pe­rang Islam. Perang itu dilancarkan Goa-Tallo atas dasar konvensi di ka­langan raja-raja Bugis-Makassar, “Ba­rang siapa menemukan jalan yang lebih baik, hendaklah ia menyampaikan ke­pada orang lain dan seterusnya.”

Pada masa pemerintahan Hasan­uddin (1653-1669), Belanda mulai me­nyebar di daerah ini. Sultan Hasanuddin berusaha untuk menjaga kedaulatan dan Kerajaan Makassar dari cengkeraman Belanda. Belanda sangat membenci Ke­sultanan Makassar, karena Sultan selalu mengirim angkatan laut untuk mengawal para peda­gang yang berangkat dari Ma­kassar me­nuju Maluku, sehingga peda­gang Makas­sar di luar pengawasan Belanda.

Terjadi beberapa kali perperangan antara Sultan Hasanuddin dan Belanda. Akhirnya Sultan bersedia melakukan per­janjian damai di Batavia.

Setelah perjanjian tersebut, Sultan kem­bali membangun pertahanan de­ngan mengerahkan ribuan prajurit dari suku Makassar, Bone, Soppeng, dan lain-lain. Namun dalam perperangan ini Sultan Hasanuddin kehilangan seorang tokoh Bugis, yaitu Arung Palakka.

Arung Palakka bersatu dengan Be­landa untuk membebaskan suku Bugis dari kekuasaan Makassar.

Pada tahun 1666 terjadi perang be­sar-besaran antara Kesultanan Makassar, yang dipimpin oleh Sultan Hasan­uddin, dan Belanda, dipimpin oleh Cor­nelis Speel­man yang dibantu oleh Arung Palakka.

Belanda dan Arung Palakka berhasil mengalahkan Sultan Hasanuddin. Maka, pada tahun 1667, Sultan Hasanuddin ter­paksa melakukan perjanjian dengan Belanda, yang sangat merugikan Kesul­tanan Makassar.

Karena tidak puas dengan perjanjian ini, pada tahun 1668 kembali terjadi per­perangan antara Kesultanan Makassar dan Belanda, hingga akhirnya benteng pertahanan terakhir Sultan Hasanuddin dapat dikuasai Belanda.

Tidak Tunggal

Dikisahkan, ketika pertama kali Da­tuk ri Bandang berdakwah di Makassar (Kerajaan Goa, Sulawesi), ia merasa, si­tuasi masyarakat di sana belum me­mungkinkan, hingga ia pun pergi ke Ku­tai (Kerajaan Kutai, Kalimantan), dan melaksanakan syiar Islam bersama te­mannya, Tuan Tunggang Parangan, di ke­rajaan tersebut. Namun akhirnya dia kembali lagi ke Goa karena melihat kon­disi di Kutai yang juga belum kondusif. Temannya, Tuan Tunggang Parangan, tetap bertahan di Kutai, dan akhirnya ber­hasil mengajak Raja Kutai (Raja Mah­kota) beserta seluruh petinggi ke­rajaan masuk Islam.

Setelah kembali lagi ke Makassar, Da­tuk ri Bandang bersama dua sau­daranya, Datuk Patimang dan Datuk ri Tiro, menye­barkan agama Islam dengan cara mem­bagi wilayah syiar mereka ber­dasarkan ke­ahlian yang mereka miliki dan kondisi serta budaya masyarakat Sula­wesi Selatan atau Bugis/Makassar ketika itu. Datuk ri Ban­dang, yang ahli fiqih, berdakwah di Kera­jaan Goa dan Tallo, sedangkan Datuk Pati­mang, yang ahli tentang tauhid, melakukan syiar Islam di Kerajaan Luwu, sementara Da­tuk ri Tiro, yang ahli tasawwuf, di daerah Tiro dan Bulukumba.

Pada mulanya Datuk ri Bandang ber­sama Datuk Patimang melaksanakan syiar Islam di wilayah Kerajaan Luwu, se­hingga menjadikan kerajaan itu seba­gai kerajaan pertama di Sulawesi Selatan, Te­ngah, dan Tenggara yang menganut agama Islam. Kerajaan Luwu adalah ke­rajaan tertua di Sulawesi Selatan dengan wilayah yang meliputi Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur, serta Kota Palopo, Tana Toraja, Kolaka (Sula­wesi Tenggara), hingga Poso (Sulawesi Tengah).

Dengan pendekatan dan metode yang sesuai, syiar Islam yang dilakukan Datuk ri Bandang dan Datuk Patimang dapat diterima Raja Luwu dan masya­ra­katnya. Bermula dari masuk Islam-nya seorang petinggi kerajaan yang ber­nama Tandi Pau, lalu berlanjut dengan masuk Islam-nya raja Luwu yang ber­nama Datu’ La Pattiware Daeng Para­bung pada 4-5 Februari 1605, beserta se­luruh pejabat istananya setelah me­lalui dialog yang panjang antara sang ulama dan raja tentang segala aspek agama baru yang dibawa itu.

Setelah itu agama Islam pun dijadi­kan agama kerajaan dan hukum-hukum yang ada dalam Islam pun dijadikan sum­ber hukum bagi kerajaan.

Seperti telah disinggung sebelum­nya, sejarah masuknya Islam di Sula­wesi memang hampir pasti selalu dikait­kan de­ngan datangnya tiga ulama dari Minang­kabau tersebut. Ini dapat dimak­lumi ka­rena titik pijaknya adalah ketika Islam se­cara resmi diakui sebagai aga­ma negara oleh Kerajaan Goa. Kalau ini dijadikan dasar pijakan, Islam datang ke Sulawesi Selatan pada tahun 1605 sete­lah keda­tangan tiga orang ulama tersebut.

Tetapi kalau titik pijaknya adalah kabar kedatangan Sayyid Husain Jamal­ud­din di Sulawesi Selatan pada tahun 1320, tentu persoalannya menjadi lain.

Siapa Sayyid Husain Jamaluddin? Sayyid Husain Jamaluddin adalah lelu­hur dari para ulama yang di tanah Jawa ter­masyhur dengan sebutan Walisanga. Terkadang, namanya ditulis dengan se­butan Sayyid Jamaluddin Al-Kubra.

Seperti dijelaskan oleh salah se­orang ulama yang tergabung dalam Ra­bithatul Ulama (RU), cikal bakal NU di Sulawesi Selatan, K.H. S. Jamaluddin Assagaf, dalam bukunya, Kafaah dalam Perkawinan dan Dimensi Masyarakat Sulsel, Jamaluddin Al-Akbar Al-Husaini datang dari Aceh atas undangan Raja Majapahit, Prabu Wijaya. Setelah meng­hadap Prabu Wijaya, ia beserta rom­bongannya sebanyak 15 orang kemu­dian melanjutkan perjalanannya ke Sula­wesi Selatan, tepatnya di Tosora, Kabu­paten Wajo, melalui pantai Bojo Nepo, Kabupaten Barru. Kedatangan Jamal­uddin Al-Husaini di Tosora Wajo diper­kira­kan terjadi pada tahun 1320. Tahun ini kemudian dianggap sebagai awal ke­datangan Islam di Sulawesi Selatan.

Kiai Jamaluddin lalu mengutip kete­rangan dari kitab Hadiqat al-Azhar yang ditulis Syaikh Ahmad bin Muhammad Zain Al-Fattany, mufti Kerajaan Fathani (Malaysia), bahwa, dari isi daftar yang diperoleh dari Sayyid Abdurrahman Al-Qadri, sultan Pontianak, dinyatakan, raja di negeri Bugis yang pertama masuk Islam bernama La Maddusila, raja ke-40, yang memerintah pada tahun 800 H/1337 M. Sayangnya tidak dijelaskan di daerah Bugis mana ia memerintah dan siapa yang mengislamkan. Namun pe­nulis ki­tab tersebut menduga bahwa ti­daklah mustahil bila yang mengislamkan raja yang dimaksud adalah Sayyid Ja­mal­uddin Al-Husaini, mengingat keda­tangan ulama tersebut di daerah Bugis persis dengan masa pemerintahan raja itu.

Lalu mengapa nama Sayyid Husain Jamaluddin tak pernah ditemukan jejak­nya dalam sejarah, padahal perannya cu­kup penting dalam syiar Islam di Sula­wesi. Bahkan, sebelum para muballigh Walisanga menyebarkan Islam di Jawa, ten­tu sang kakek telah lebih dulu me­mu­lainya. Memang tak ada jawaban yang pasti. Tapi boleh jadi itu karena ia tak pernah bersentuhan langsung de­ngan Kerajaan Goa-Tallo, yang diketa­hui merupakan salah satu kerajaan yang terbesar saat itu di Sulawesi Selatan, sehingga syiar Islam di Sulawesi tidak dikaitkan dengan dirinya. Yang jelas, se­perti telah disinggung sebelumnya, se­jarah syiar Islam di Sulawesi sesung­guhnya tidaklah tunggal.

IY


Pasang iklan dilihat ribuan orang? klik > murah dan tepat sasaran">Serbuanads >> MURAH dan TEPAT SASARAN

 

Add comment


Security code
Refresh