Sunday, 20 April 2014
Home Dunia Islam Islam di Sulawesi : Agama Kerajaan (Bagian 1)
Islam di Sulawesi : Agama Kerajaan (Bagian 1) PDF Print E-mail
Friday, 16 August 2013 09:00

www.majalah-alkisah.comBarang siapa menemukan jalan yang lebih baik, hendaklah ia menyampaikan kepada orang lain dan seterusnya.

Sebagian sumber sejarah, mengutip catatan para pedagang Portugis yang datang ke Sulawesi sekitar tahun 1540, menyebutkan, di Sulawesi pada saat itu sudah bisa ditemui permu­kiman muslim di beberapa daerah. Mes­ki belum terlalu besar, jalan dakwah te­rus berlanjut hingga menyentuh raja-raja di Kerajaan Goa, yang beribu kota Makassar.

Raja Goa pertama yang memeluk Islam adalah Sultan Alaidin Al-Awwal, dan perdana menteri atau wazir besar­nya adalah Karaeng Matopa pada tahun 1603. Sebelumnya dakwah Islam sebe­narnya telah sampai pula pada ayah­anda Sultan Alaidin yang bernama Toni­gallo dari Sultan Ternate, yang lebih dulu me­meluk Islam. Namun Tonigallo kha­wa­tir, jika ia diketahui memeluk Islam, ia merasa kerajaannya akan di bawah pengaruh Kerajaan Ternate.

Beberapa ulama Kerajaan Goa di masa Sultan Alaidin itu sangat terkenal da­lam kancah sejarah penyebaran Islam di bumi Sulawesi dan sekaligus menjadi pusat dakwah Islam Kerajaan Goa di masa itu. Mereka adalah Datuk ri Ban­dang, Datuk Patimang, dan Datuk ri Tiro. Dapat diketahui dan dilacak dari nama para ulama di atas, yang bergelar datuk, mereka adalah para ulama dan mubal­ligh asal Minangkabau yang menyebar­kan Islam ke Makassar. Pusat-pusat dak­wah yang dibangun oleh Kerajaan Goa inilah yang melanjutkan perjalanan ke wilayah lain sampai ke Kerajaan Bu­gis, Wajo Soppeng, Sidenreng, Tanette, Luwu, dan Paloppo.

Namun, sejarah masuknya Islam di Sula­wesi, sebagaimana juga secara umum di Nusantara, tentu memiliki ba­nyak interpretasi dan beragam data his­toris yang memunculkan kesimpulan yang tak serupa.

Sejarah yang umum diketahui, Sula­wesi menerima agama Islam yang di­bawa oleh para pendakwah asal Minang­kabau tersebut sekitar tahun 1605. Fakta ini menunjukkan besarnya peran mereka dalam penyebaran Islam di Sulawesi, mes­ki memang bukan fakta yang dise­pa­kati sebagai awal mula pembawa Islam di sana. Sebab, sebagaimana yang di­rujuk oleh para pengamat sejarah lain­nya, bila menyimak waktu kedatangan Sayyid Husain Jamaluddin di Sulawesi, tentu saja hadirnya Islam di Sulawesi le­bih dulu dari itu.

Sebagian sumber menyebutkan, Sayyid Husain Jamaluddin sampai di Pulau Buton pada tahun 815 H/1412 M. Ulama tersebut diundang oleh Raja Mulae Sangia i-Gola dan kabarnya saat iti sang raja pun bersedia memeluk aga­ma Islam. Lebih kurang seratus tahun kemudian, datang pula Syaikh Abdul Wahid bin Sulaiman Al-Fathani dari Johor, yang kabarnya pun berhasil meng­islamkan raja Buton yang keenam se­kitar tahun 948 H/1538 M.

Kerajaan Goa-Tallo

Goa-Tallo biasanya disebut Kerajaan Makassar. Namun Makassar ialah nama suku bangsanya, sedangkan kerajaan­nya bernama Goa-Tallo.

Tallo adalah kerajaan yang berbatas­an dengan Goa, namun dua kerajaan ini se­lalu bersatu, sehingga mereka men­jadi kerajaan kembar.

Letak Kerajaan Goa-Tallo di seme­nanjung barat daya Pulau Sulawesi, yang sangat stategis dilihat dari sudut perdagangan rempah-rempah di kepu­lauan Nusantara. Rempah-rempah dari Maluku di perdagangkan di pelabuhan Goa-Tallo, yang dibawa oleh pedagang-pedagang Makassar dari Maluku.

Para pedagang Jawa, Bugis, dan Me­layu mulai membawa barang da­gang­annya ke Goa-Tallo. Karena sikap raja yang tidak pandang agama, Keraja­an Goa-Tallo disinggahi bermacam-ma­cam bangsa, baik bangsa Asia maupun Eropa. Semenjak Makassar tampil se­bagai pusat perdagangan laut, kerajaan ini menjalin hubungan baik dengan Ke­rajaan Ternate, yang merupakan pusat ceng­keh, yang telah menerima Islam dari Giri (Gresik).

Di bawah pemerintahan Sultan Ba­bul­lah, Ternate mengadakan perjanjian persahabatan dengan Goa-Tallo. Ketika itu raja Ternate mengajak penguasa Goa-Tallo masuk Islam, tetapi gagal.

Pada masa Dato’ ri Bandang datang ke Kerajaan Goa-Tallo, agama Islam mulai masuk dalam kerajaan ini. Raja Goa yang pertama menganut Islam ialah Sultan Alauddin, sedangkan raja Tallo yang pertama mengambil gelar Abdullah de­ngan julukan Awalul Islam.

Setelah menjadikan Islam agama resmi pada awal abad ke-17 M, Kesul­tan­an Goa-Tallo memiliki peran besar dalam penyebaran Islam di wilayah Sula­wesi. Kerajaan Goa-Tallo berhasil me­naklukkan beberapa kerajaan di Pulau Sulawesi. Salah satu tujuannya untuk melakukan syiar Islam.

Menurut Lontara Bilang, catatan raja-raja Goa-Tallo pada masa pemerintahan Raja Goa X (1546-1565), Tunipalangga, te­­lah ditemukan sebuah perkampungan muslim di Makassar yang penduduknya ter­­diri dari pedagang Melayu yang ber­asal dari Campa, Patani, Johor, dan Minangkabau.

Berdasarkan catatan itu pula, pada masa pemerintahan Tunijallo (1565-1590) telah didirikan sebuah masjid di Mangallekanna, tempat para pedagang itu bermukim.

Kehadiran para pedagang muslim ter­­sebut membawa pengaruh terhadap penduduk setempat. Di antara mereka ada yang tertarik dengan ajaran Islam. Berawal dari sinilah kemudian ajaran Islam berkembang luas di seluruh wila­yah kekuasaan Kerajaan Goa-Tallo.

(Bersambung)

Pasang iklan dilihat ribuan orang? klik > murah dan tepat sasaran">Serbuanads >> MURAH dan TEPAT SASARAN

 

Add comment


Security code
Refresh