Sunday, 20 April 2014
Home Dunia Islam Qaul Qadim dan Qaul Jadid
Qaul Qadim dan Qaul Jadid PDF Print E-mail
Wednesday, 03 July 2013 16:02

www.majalah-alkisah.comIstilah qaul qadim dan qaul jadid ini muncul setelah era kehidupan intelektual Imam Syafi’i di Mesir, bagian akhir dalam perjalanan hidupnya, tepatnya setelah peluncuran salah satu karya monumen­talnya yang berjudul Al-Umm.

Salah satu warisan perjalanan keilmuan yang ditinggalkan Imam Syafi’i RA ialah sumbangsih fatwa-fatwanya yang terbukukan yang disebut qaul qadim dan qaul jadid. Adakalanya istilah-istilah ini juga disebut madzhab qadim dan madzhab jadid. Inilah ciri utama madzhab yang dibangun Imam Syafi’i, yang berbeda dengan madzhab lainnya.

Istilah qaul qadim dan qaul jadid ini muncul setelah era kehidupan intelektual Imam Syafi’i di Mesir, bagian akhir dalam perjalanan hidupnya, tepatnya setelah peluncuran salah satu karya monumen­talnya yang berjudul Al-Umm.

Perkembangan fiqih Imam Syafi’i se­sungguhnya dapat dipetakan dalam empat fase penting. Pertama, fase per­siapan dan pembentukan. Kedua, fase peluncuran dan pengenalan Madzhab (Qaul) Qadim. Ketiga, fase penyem­pur­naan dan pengukuhan Madzhab (Qaul) Jadid. Keempat, fase verifikasi dan oten­tifikasi. Kesemuanya ini berlangsung selama 25 tahun, tepatnya sejak wafat­nya Imam Malik, salah seorang guru Imam Syafi’i, hingga akhir hayat sang imam ini. Khusus fase ke-4, berlangsung sesudah masa hidupnya, yakni masa kibar at-talamidz (para murid utama).

Sebagai kata, qaul artinya ucapan, perkataan, atau pendapat. Qadim arti­nya yang lama, atau yang lalu. Sedang­kan jadid lawan kata qadim, artinya yang baru, atau yang terkini.

Sebagai istilah, qaul qadim adalah buah-buah pemikiran Imam Syafi’i yang disampaikannya dan dibukukannya sejak kunjungannya ke Baghdad yang kedua pada tahun 195 H/811 M, sampai keda­tangannya ke Mesir tahun 199 H/815 M.

Pembukuan pemikirannya di era Baghdad ini terlihat pada sejumlah karyanya, seperti kitab Al-Hujjah dan Ar-Risalah. Kitab Ar-Risalah disusun di Baghdad atas permintaan Abdurrahman bin Mahdi di Makkah, yang mengusulkan kepada Imam Syafi’i untuk menulis se­buah kitab yang menerangkan Al-Qur’an, ijma’, nasikh (penghapusan/pembatalan hukum syara’), mansukh (nash/hukum yang dibatalkan), dan hadits. Itulah sebabnya ia dinamakan Ar-Risalah, yang artinya sepucuk surat. Lantaran, sesudah selesainya didiktekan kepada murid-muridnya, kitab ini dikirim seperti mengirim surat kepada Abdur­rahman bin Mahdi di Makkah.

Kedatangannya ke Baghdad yang kali kedua ini bukan sebagai pelajar atau perantau, melainkan sebagai imam muj­tahid yang membawa madzhab fiqih baru yang belum pernah diajarkan ulama sebelumnya.

Karakteristik qaul qadim adalah pe­maparan pandangan atau fatwa Imam Syafi’i yang mengikuti alur corak pemikir­an yang berkembang di Baghdad, yang terkenal rasional.

Di Baghdad, ia menuai ujian ilmiah yang memberi dampak sangat besar sebagai proses asimilasi dan adaptasi keilmuan, yang menghasilkan fatwa-fat­wa yang disebut qaul qadim ini. Perde­batan ilmiahnya berlangsung dengan Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibani, murid utama Imam Nu’man bin Tsabit Al-Hanafi. Hal ini mempertajam pemikir­an-pemikirannya, yang kemudian disam­but dengan antusias oleh ulama-ulama Baghdad. Akibatnya, banyak ulama yang meninggalkan madzhab lamanya, dan beralih mengikuti Madzhab Syafi’i, seperti Imam Abu Tsaur, Imam Ahmad bin Hanbal, Az-Za’farani, Al-Karabisi.

Ibrahim Al-Harbi, salah seorang pengikut Syafi’i di Baghdad, berkata, “Tatkala Syafi’i datang ke Baghdad, di Masjid Jami’ Al-Gharbi terdapat 20 forum pengajian (halaqah) fiqih rasional. Tetapi ketika hari Jum’at Asy-Syafi’i menyam­paikan pengajian fiqihnya, forum-forum tersebut menghilang dan hanya tersisa tiga atau empat forum.”

Sedangkan qaul jadid, pendapat baru yang termaktub dalam karya-karya baru Imam Syafi’i, terkemukakan selama sisa hidup Syafi’i, yaitu sejak kedatang­annya ke Mesir tahun 199 H/815 M sam­pai dengan akhir hayatnya pada tahun 204 H/819M. Pandangan-pan­dang­an­nya termaktub dalam karyanya yang ber­judul Al-Umm.

Fase bagi kelahiran pandangan-pan­dangan baru Imam Syafi’i ini terhitung cukup singkat, yakni empat sampai lima tahun saja. Namun fase ini termasuk fase yang teramat penting sepanjang se­jarah hidup dan perkembangan fiqihnya. Bahkan fase ini dianggap sebagai masa keberhasilan, kematangan, kegemilang­an, dan produktivitas yang tinggi, di­tandai dengan semakin berkembangnya ilmu, produk hukum, dan penggalian hukum ala Syafi’i. Juga diwarnai dengan banyaknya karya dan buku-buku Imam Syafi’i yang membuat nama besarnya menjadi lebih harum lagi.

Di antara karya-karyanya yang me­muat pandangan-pandangan baru­nya ini ialah kitab Ar-Risalah al-Jadidah, Al-Amali, Al-Qiyas, Ibthal al-Istihsan, Al-Musnad. Al-Qadhi Al-Marwazi, salah seorang murid Imam Syafi’i, berkata, “Imam Syafi’i, guru kami, telah meng­arang 113 kitab dalam ilmu ushul, tafsir, fiqih, hadits, dan sebagainya.”

Fase ini merupakan penyempurnaan bagi pandangan yang telah ada sebe­lumnya. Madzhab fiqih Imam Syafi’i ini disebut sebagai madzhab fiqih yang prag­matis dan dinamis.

Perbandingan Dua Qaul

Penyebutan qaul qadim dan qaul jadid adalah berdasarkan periode saja, karena sebenarnya Madzhab Syafi’i itu hanya satu, bukan dua. Madzhab ini berkem­bang secara alamiah sesuai dengan hukum kausalitas (sebab-akibat). Perlu ditegaskan, pendapat lama dan penda­pat baru fiqih Syafi’i memiliki jumlah yang sangat banyak, karena berkaitan dengan masalah furu’iyah (cabang agama), yang umumnya disandarkan pada hasil ijtihad. Sementara ijtihad sendiri bersifat kon­disional, tidak konstan.

Para ulama masih berbeda pendapat mengenai jumlah masalah yang dime­nangkan qaul qadim terhadap qaul jadid. Intinya, pendapat qaul qadim lebih ung­gul jumlahnya daripada qaul jadid, se­hingga pendapat qaul qadim lebih layak untuk difatwakan. Imam An-Nawawi menjelaskan, “Sejumlah pemuka Madz­hab Syafi’i mengecualikan 20 masalah, dan mereka berfatwa dengan qaul qa­dim. Mengenai jumlah tepatnya, masih diperdebatkan.”

Pendapat Imam Syafi’i dalam versi qaul jadid bukan berarti menganulir (me­nasakh) pendapat qaul qadim. Penda­pat-pendapat itu merupakan perpan­jangan ide dan perkembangan pemikiran yang sesuai dengan hukum sababiyah (kausalitas) dalam pembentukan suatu madzhab. Karena pada saat Imam Syafi’i datang dan tinggal di Mesir, ia baru menemukan dalil-dalil fiqih yang sebelumnya tidak terpikirkan olehnya dan baru ditemuinya di Mesir. Hal inilah yang mendorongnya melakukan revisi dan perbaikan terhadap pendapat-pen­dapat lamanya.

Alhasil, apa yang dituangkan Imam Syafi’i dalam pendapat dan pemikir­an­nya itu sesuai dengan semangat yang dipegangnya, “Al-Muhafazhah ‘alal qadi­mish shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah”, menjaga otentisitas pandangan lama yang baik seraya mengambil pandangan baru yang lebih baik.

AB

Pasang iklan dilihat ribuan orang? klik > murah dan tepat sasaran">Serbuanads >> MURAH dan TEPAT SASARAN

 

Add comment


Security code
Refresh