Saturday, 19 April 2014
Home Dunia Islam Senarai Karya Biografi Imam Syafi’i : Dari Al-Baihaqi hingga Kiai Ahmad Nahrawi (Bagian 2/Tamat)
Senarai Karya Biografi Imam Syafi’i : Dari Al-Baihaqi hingga Kiai Ahmad Nahrawi (Bagian 2/Tamat) PDF Print E-mail
Tuesday, 02 July 2013 16:26

www.majalah-alkisah.com“Menurut saya, disertasi ini adalah disertasi yang terbaik mengenai Imam Syafi’i pada masa sekarang,” komentar Prof. Syaikh Abdul Ghani Abdul Khaliq, sang pembimbing yang juga guru besar Al-Azhar, memuji karya Kiai Ahmad Nahrawi.

Karya Kiai Nahrawi

Sebagaimana telah disebutkan se­belumnya, di Indonesia Madzhab Imam Syafi’i adalah madzhab yang mayoritas diikuti kaum muslimin. Bahkan kitab-kitab kalangan Madzhab Syafi’i menjadi pelajaran yang wajib diajarkan di ke­banyakan pesantren Indonesia, mulai dari tingkat dasar sampai tingkat tinggi.

Sayangnya, sekalipun nama Imam Syafi’i mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat  muslim Indonesia, tidak banyak di kalangan mereka yang me­nulis biografi Imam Syafi’i secara kom­prehensif.

Inilah poin utama yang sangat di­sayangkan K.H. Siradjuddin Abbas, se­bagaimana dituturkannya dalam penda­huluan cetakan pertama karyanya yang berjudul Sejarah dan Keagungan Madz­hab Syafi’i, yang dicetak pertama kali pada tahun 1968. Karya Kiai Siradjuddin ini segera saja mendapat apresiasi kaum muslimin di negeri-negeri Melayu Asia Tenggara, yang notabene berpaham Syafi’iyyah, seperti Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Patani (Thailand), Singapura.

Tulisan yang dipersembahkan kiai asal Sumatera Barat ini cukup berbobot. Bahasanya sederhana. Memang ada sedikit kekeliruan dalam penulisan nama dan sebagainya, namun mestinya ini men­jadi cambuk bagi hadirnya karya-karya pada era belakangan.

Pada tahun 1970, seorang aka­de­misi muslim Indonesia bernama Ahmad Nahrawi Abdus Salam seakan menah­biskan kehebatan putra-putri Indonesia dalama belantika keilmuan tingkat dunia di Universitas Al-Azhar.

Kiai Nahrawi, begitu ia biasa disapa masyarakat asal daerahnya, Betawi, berhasil meraih gelar doktor dalam bi­dang fiqih perbandingan (syari’ah wal qanun) dengan yudisium summa cum laude. Ini sebuah prestasi yang mem­bang­gakan bagi kaum muslimin Indo­nesia.

Yang menjadi hal yang lebih penting dari itu adalah karya disertasi doktoral­nyanya tentang Imam Syafi’i, yang ber­judul Al-Imam As-Syafi’i fi Madzhabaihi al-Qadim wal Jadid. Karya ini boleh di­kata sebagai karya teranyar yang ter­baik, lantaran menghadirkan episode utuh kehidupan Imam Syafi’i berikut pe­mikirannya yang lama dan baru. Tidak itu saja, sang penulis pun mampu me­nyodorkan sumber-sumber rujukan yang valid dan kredibel.

Setelah menikah dalam usia yang sangat matang, Kiai Nahrawi dan istri, yang berkebangsaan Mesir, bermukim di Jeddah, Arab Saudi.

Meskipun tinggal di Jeddah, Kiai Nah­rawi masih sempat membangun rumahnya di Jalan Pancoran Barat 8-A, Jakarta Selatan. Sambil menunggu pembangunan rumah itu, ia menerbitkan disertasinya, Al-Imam Asy-Syafi’i fi Mazhabaihi al-Qadim wa al-Jadid. Ia menulis nama, sebagai penulisnya, Ad-Duktur Ahmad Nahrawi Abdus Salam Al-Indunisi.

Awalnya penerbit khawatir, jangan-jangan penulisan Al-Indunisi bisa me­nye­babkan buku itu tidak laku, lantaran tidak dikenal secara lazim. Apalagi ke­banyakan penulis buku memang berasal dari Timur Tengah. Tapi, Kiai Nahrawi tidak mempedulikan apakah bukunya bakal laku atau tidak. Yang penting nama Indonesia, Al-Indunisi, harus lebih dikenal oleh para ahli agama di Timur Tengah.

Ternyata hadirnya buku ini di tengah-tengah belantara karya penulisan di Mesir khususnya dan Timur Tengah umum­nya mendapat sambutan yang luar biasa. “Karya yang monumental, luar biasa, dan sangat bermanfaat. Membahas semua aspek yang berkaitan dengan Imam Syafi’i. Menurut saya, disertasi ini adalah disertasi yang terbaik mengenai Imam Syafi’i pada masa se­karang,” komentar Prof. Syaikh Abdul Ghani Abdul Khaliq, sang pembimbing yang juga guru besar Al-Azhar, memuji.

Kelebihan karya ini terutama terletak dalam analisisnya yang sangat tajam, mendetail, dan komprehensif, dengan dilatarbelakangi sumber-sumber karya tulis ashhab as-syafi’iyyah (pengikut Madzhab Syafi’i) terkemuka, seperti Ar-Razi, As-Subki, Ar-Ramli, Asy-Syairazi, An-Nawawi.

Karya Kiai Nahrawi ini dibagi menjadi tiga bagian, yang diistilahkan al-bab, dan satu penutup. Bagian pertama memba­has kehidupan Imam Syafi’i dari kelahir­an sampai menjadi seorang mujtahid dan wafatnya. Dalam bagian ini Kiai Nahrawi membicarakan pertumbuhan, pendidikan, dan bagaimana ia memulai kehidupannya sebagai pelajar teladan ke­mudian menjadi intelektual yang cer­das, ahli fiqih yang cakap, dan mufti yang berpengalaman, ahli debat yang andal, sastrawan yang jempolan, penyair yang hebat, peletak dasar ilmu ushul fiqh, muj­tahid terkenal yang banyak pengikutnya.

Bagian kedua membicarakan situasi dan kondisi sosial-politik masyarakat se­tempat yang mempengaruhi perkem­bang­an madzhab Imam Syafi’i. Bagian ini terdiri dari lima bab, menjelaskan kondisi pada saat itu, baik kondisi sosial, politik, kebudayaan, hukum, pandangan-pandangan theologis dan fiqih yang dominan pada saat itu serta sikap Imam Syafi’i terutama terhadap pandangan ahlul ra’yi (logika) dan ahlul hadits.

Bagian ketiga sebagai pembahasan akhir mengungkap tiga pokok bahasan. Pertama, dasar-dasar Madzhab Syafi’i. Kedua, fiqih Syafi’i yang meliputi fiqih lama (qaul qadim) dan fiqih baru (fiqih jadid). Ketiga, membahas para pengikut Madzhab Syafi’i.

Untuk menyempurnakan isi buku­nya, dibahas pula ihwal takhrij (penelusuran sumber-sumber), tarjih (penyimpulan dalil-dalil), dan mujtahid dalam Madzhab Imam Syafi’i. Serta menyebutkan penga­ruh Imam Syafi’i dan karya-karyanya, di antaranya Musnad asy-Syafi’i, al-Hujjah, al-Mabsuth, dan al-Umm.

Karya yang berangkat dari penelitian ilmiah dan diuji lewat sidang ilmiah ini membuat bangga kita semua di tengah-tengah kelesuan dunia intelektual umat Islam Indonesia.

Kiai Nahrawi memang telah tiada, namun karyanya tentang Imam Syafi’i ini benar-benar menghidupkan aura kehi­dup­annya yang sarat dengan ilmu, baik saat menghabiskan hari-hari di Timur Tengah maupun di tanah kelahirannya, Jakarta.

Pada tahun 2008, atas usaha sejum­lah pihak yang dinaungi Pusat Peng­kajian dan Pengembangan Islam Jakarta (Jakarta Islamic Centre), karya ini diter­bitkan dalam edisi bahasa Indonesia dengan judul Ensiklopedi Imam Syafi’i, Biografi dan Pemikiran Madzhab Fiqih Terbesar Sepanjang Masa.

Akhirul kalam, boleh dikata, karya-karya yang mengekspos kebesaran Imam Syafi’i tidak akan berhenti pada satu titik akhir. Karena masih banyak sudut pandang yang belum ditekuni da­lam penelitian para ulama dan pelajar muslim saat ini.

AB


Pasang iklan dilihat ribuan orang? klik > murah dan tepat sasaran">Serbuanads >> MURAH dan TEPAT SASARAN

 

Add comment


Security code
Refresh