Friday, 18 April 2014
Home Dunia Islam K.H. Syaiful Anwar M. Noer : Kedalaman Ilmu dan Kepandaian Bergaul
K.H. Syaiful Anwar M. Noer : Kedalaman Ilmu dan Kepandaian Bergaul PDF Print E-mail
Monday, 03 June 2013 16:43

www.majalah-alkisah.comIa dikenal di mana saja, dari pejabat sampai yang melarat, dari preman di jalanan sampai yang ada di dalam pengajian.

KH. Syaiful Anwar lahir di kota Bekasi, 24 Maret 1970, tepatnya di Jln. PLN KA Bungur, Harap­an Jaya, Bekasi Utara. Ia putra kedua (dari 13 bersaudara) K.H. M. Noer, yang adalah murid K.H. Marzuki Cipinang Muara dan Al-Allamah Sayyid Alwi bin Abbas Al-Maliki.

Setelah menamatkan pendidikan ibtidaiyahnya pada tahun 1984, Syaiful muda berangkat menuju Malang untuk memperdalam ilmu agama di Pondok Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyah, di bawah bimbingan Prof. Dr. Habib Abdul­lah bin Abdul Qadir Bilfaqih, sampai tahun 1993.

Sebelum terjun ke masyarakat, di usia 16 tahun Syaiful Anwar sudah mendapat­kan isyarat dari sang guru untuk meng­gantikannya mengisi acara Pembinaan Mental di RRI Malang, bahkan sering kali diperintahkan untuk belajar berceramah, seakan-akan Habib Abdullah sudah tahu bahwa muridnya itu bakal menjadi pen­ceramah.

Pada usia 18 tahun, Syaiful Anwar sudah sering dipanggil untuk berceramah dan mulai membuka majelis ta’lim. Lebih dari 30 majelis ta’lim yang ia pimpin.

Karena sudah memulai dakwahnya sejak usia belasan tahun, ia sudah tidak asing lagi dengan berbagai macam ujian, cobaan, dan suka duka dalam berdak­wah.

Pengajian pertama yang ia pimpin ada­lah Pengajian Dayaks, yang merupa­kan sekumpulan anak muda di kampung yang aktif di berbagai kegiatan, seperti olahraga, kegiatan sosial, kemping, ber­musik, dan lain-lain.

Di sini ia sudah mendapat tantangan yang luar biasa, karena pada saat itu anak-anak muda sangat intim dengan mabuk-mabukan, perjudian, dan lain-lain. Kampung kelahirannya seakan gelap gulita. Namun, dengan kesabaran dan keuletan, secara perlahan ia dapat meng­ubah keadaan di kampungnya menjadi terang, penuh dengan cahaya ilmu, me­lalui majelis ta’limnya.

Dalam perjalanan dakwahnya, K.H. Syaiful Anwar tidak sendirian. Ia dibantu istri tercinta, Ustadzah Hj. Siti Masruroh, yang dinikahinya pada tahun 1995, alum­nus Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah, pimpinan K.H. Maemun Zubaer.

Dakwah K.H. Syaiful Anwar tidak hanya dilakukan di kampung, tetapi juga ke berbagai daerah. Oleh karena itu ia dikenal banyak orang dari berbagai ka­langan. Bukan hanya karena dakwahnya, tetapi juga karena kepandaiannya dalam bergaul. Jangan heran jika ia dikenal di mana saja, dari pejabat sampai yang me­larat, dari preman di jalanan sampai yang ada di dalam pengajian. Semua menge­nal Bang Aji, atau Ustadz Gaul, atau H. Ipung, demikian nama panggilannya.

Namun ia menyadari, di mana ia du­duk, di situ pasti ada orang yang senang dan yang tidak senang pada dakwahnya. Walau demikian, ia tetap berlapang dada, bersabar. Ia sangat mengerti bahwa Nabi Muhammad SAW sekalipun menghadapi banyak ujian dan cobaan dalam berdak­wah.

K.H. Syaiful Anwar pernah mendapat­kan isyarah dari sang guru, Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfaqih, untuk me­ngisi pengajian di salah satu mushalla. Setelah lulus dari Pondok Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyah Malang, ia ber­mimpi membuka pengajian di dalam suatu mushalla yang pada akhirnya ia menjadi guru di dalam pengajian pertama di mushalla tersebut.

Kedalaman ilmunya dan kepandai­an­nya dalam bergaul di seluruh lapisan ma­syarakat membuat para tokoh masyara­kat dan ustadz-ustadz kampung sebelah sering meminta untuk mengisi pengajian, baik untuk anak-anak muda, kaum bapak, maupun kaum ibu.

Perlahan-lahan ia mempunyai kegiat­an rutin, yaitu pengajian yang setiap hari­nya ia pimpin, yang tidak hanya berada di satu tempat, melainkan juga di banyak majelis ta’lim, mushalla, masjid, serta perusahaan. Bahkan ia juga berdakwah ke berbagai daerah lain di luar Bekasi, seperti ke Bali, Sukabumi, Semarang, Demak, Palembang, Bandung, Bogor. Ia pun pernah berceramah pada acara Café Sholeh di RCTI.

Selain kegiatan pengajian rutin setiap harinya, ia juga mempunyai kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap tahun. Seperti Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, ziarah ke Walisanga, yang sekaligus meng­hadiri haul sang guru, Habib Abdullah Bilfaqih, di Malang, Jawa Timur, yang diadakan setiap minggu terakhir di bulan Jumadal Akhir.

Belum lama ini, K.H. Syaiful Anwar mengadakan acara Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, juga haul sang guru, yang dihadiri sekitar 3.000 jama’ah, yang terdiri dari anak muda, bapak-bapak, serta kaum ibu.

Ilmu dan Amalan

K.H. Syaiful Anwar mempunyai ba­nyak murid. Kepada mereka, di samping mengajarkan ilmu, ia juga memberikan amal­an-amalan yang ia dapatkan lang­sung dari gurunya, Al-Habib Abdullah Bil­faqih.

Bukan hanya itu, K.H. Syaiful Anwar juga menekankan kepada murid-murid­nya agar selalu bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Siapa yang selalu ber­shalawat kepada Nabi Muhammad SAW akan dibukakan pintu-pintu keberkahan dalam kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat kelak. “Barang siapa bersha­lawat kepada Nabi Muhammad SAW satu kali, Allah SWT akan memberikan pahala shalawat kepadanya sepuluh kali. Barang siapa bershalawat kepada Nabi Muham­mad SAW sepuluh kali, Allah SWT akan memberikan pahala shalawat kepadanya seratus kali. Barang siapa ber­shalawat kepada Nabi Muhammad SAW seratus kali, Allah SWT akan mem­berikan pahala shalawat kepadanya se­ribu kali. Dan barang siapa bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW seribu kali, tidak akan meninggal ia kecuali Allah SWT akan memperlihatkan tempatnya di dalam surga, ia meninggal dalam keada­an tersenyum, dalam keadaan senang ser­ta gembira, karena telah diperlihatkan berbagai macam kenikmatan yang Allah SWT telah persiapkan di dalam surga-Nya.”

K.H. Syaiful Anwar selalu menekan­kan itu kepada murid-muridnya, sebagai­mana yang dilakukan gurunya, Habib Abdul­lah, yang mengatakan, “Gantung­kan hatimu sekuat-kuatnya kepada Allah, gantungkan hatimu kepada Rasulullah, gantungkan hatimu kepada guru, insya Allah engkau menjadi orang yang sukses dan besar, karena dengan itu semua kita akan mendapat keberkahan.”

Alhamdulillah, banyak muridnya yang berhasil dan mendapatkan keberkahan dalam kehidupan mereka.

Kini, K.H. Syaiful Anwar sudah hijrah dari Kaliabang Bungur ke Kaliabang Ro­rotan dan sedang membangun serta me­rintis pesantren, yang menjadi cita-cita­nya, yang programnya akan dibuat persis seperti di pesantren tempat ia belajar. Meskipun tidak punya banyak dana dan tanah yang luas, keinginannya untuk men­dirikan pesantren begitu kuat.

Insya Allah, kalau cita-citanya itu ter­wujud, pesantrennya akan diberi nama “Darul Khidmah”, yang berbasiskan salaf, dengan ajaran ulama-ulama Alawiyyin, thariqah-thariqah habaib dan kiai-kiai sa­laf. Dengan demikian, ia berharap, pesan­trennya kelak akan mencetak ulama-ula­ma yang mempunyai ilmu pengetahuan agama yang mumpuni sehingga bisa men­jawab berbagai tantangan zaman.

Karena keterbatasan dana, saat ini K.H. Syaiful Anwar baru bisa membangun gedung TK. Itu pun masih dalam proses pem­bangunan.

Harapannya, jika Allah SWT memberi umur panjang kepadanya, ia akan selalu me­­manfaatkannya untuk berdakwah.

Kini, untuk melanjutkan estafet dak­wahnya kelak ketika ia sudah uzur, Bang Haji Ipung telah mempersiapkan enam putra dan empat  putri.

Fiddin

Pasang iklan dilihat ribuan orang? klik > murah dan tepat sasaran">Serbuanads >> MURAH dan TEPAT SASARAN

 

Add comment


Security code
Refresh