Wednesday, 23 April 2014
Home Dunia Islam Ustadz H. Faris Khoirul Anam, Lc., M.H.I. : Menekuni Dakwah bil Qalam
Ustadz H. Faris Khoirul Anam, Lc., M.H.I. : Menekuni Dakwah bil Qalam PDF Print E-mail
Tuesday, 30 April 2013 19:28

www.majalah-alkisah.comIa bertekad terus berdakwah lewat tulisan, di samping berdakwah di majelis ta’lim, pesantren, maupun kampus.

Ustadz H. Faris Khoirul Anam, Lc.,M.H.I. telah menjadikan dunia tulis-menulis sebagai salah satu medan dakwah terbesar. Alasan dai kelahiran Lumajang 6 Juni 1981 ini, usia karya tulis itu lebih panjang daripada usia penulisnya sendiri. Secara umum, orang boleh pandai setinggi langit, tapi, selama tak menulis, ia akan cepat hilang di da­lam masyarakat, atau bahkan sejarah.

Sekarang kita dapat menerima dak­wah Rasulullah SAW karena dulu ada sahabat dan tabi’in yang mengkodifikasi hadits dalam lembaran (shahifah), ke­mudian dibukukan. Lalu, ikhtiar ini dilan­jutkan oleh para ulama yang menuliskan hasil ijtihadnya dalam kitab-kitab mereka.

Bagi anak bungsu dari 11 anak pasangan H. Isma’il (alm.) dan Hj. Zubaidah (almh.) ini, kegiatan menulis ini pada mulanya berawal dari hobi, ke­mudian diupayakan untuk benar-benar digeluti. Kata orang, bila seseorang me­nyukai suatu pekerjaan, ia akan menik­mati, yang otomatis mendorongnya un­tuk bersungguh-sungguh dalam menja­laninya. Lebih dari itu, bila diniati dengan baik (husnun niyyah) dan dilakukan de­ngan baik (itqan al-‘amal), profesi seba­gai penulis sangat mulia, karena ia be­kerja seperti seorang pakar ilmu yang mam­pu mendekatkan diri pada kebenar­an dan menyentuh kebenaran itu de­ngan jari-jari tangannya.

Saat mondok, pada usia SLTP, Faris, begitu ia akrab disapa, aktif men­jadi salah satu anggota dewan redaksi Majalah Insan di Pesantren Ilmu Al-Qur’an, Singosari, Malang, Jawa Timur (1995-2000). Ia belajar di pesantren yang diasuh tokoh Al-Qur’an K.H. Basori Alwi tersebut dari tahun 1993 sampai 2000.

Sambil mondok, ia sekolah di SMPN I Singosari, kemudian di SMAN I La­wang. Pada saat duduk di bangku SMA, ia sempat menjadi pemimpin redaksi Buletin Jum’at at-Taqwa di sekolah ter­sebut.

Selanjutnya, di setiap jenjang pendi­dikan yang ditempuh, ia berusaha me­nempuh jalur dakwah bil qalam, dengan pena.

Pada tahun 2000, ia mendapatkan kesempatan untuk belajar di Universitas Al-Ahgaff Hadhramaut Yaman, yang dipimpin Prof. Abdullah bin Muhammad Baharun. Saat menempuh pendidikan S1 tersebut, ia “menyalurkan hobi” tulis-menulis ini dengan memimpin Majalah al-Fateh, milik mahasiswa Indonesia Universitas Al-Ahgaff Yaman (2001- 2002). Pada tahap berikutnya (2002-2003), ia mendirikan sekaligus menjadi pemimpin redaksi Majalah an-Nadwa , milik pelajar dan mahasiswa Indonesia di seluruh Yaman, meliputi pelajar di Ru­bath Tarim, Darul Musthafa, Al-Ahgaff, Darul Ulum Hudaidah, dan lain-lain. Dari Hadhramaut, ia aktif mengirimkan ber­bagai berita dan informasi tentang Ne­geri para Wali itu ke beberapa media di tanah air, di antaranya Harian Umum Republika dan Jawa Pos.

Sepulang ke Indonesia pada 2004, Ustadz Faris mengajar di Singosari Ma­lang, tepatnya di Pesantren Ribath Al-Murtadha Al-Islami, yang diasuh Ustadz Luthfi Bashori, dan di Pesantren Ilmu Al-Qur’an, yang diasuh K.H. Basori Alwi. Kedua tokoh inilah, selain tentu orangtua dan keluarga, yang banyak berperan da­lam memberikan pendidikan agama ke­padanya, sebelum ia berangkat ke Hadh­ramaut.

Selama dua tahun mengajar di Si­ngo­sari, Ustadz Faris dapat menulis buku biografi kedua guru tersebut, yaitu K.H. Basori Alwi dan Ustadz Luthfi Bashori. Buku tersebut berjudul Aset-aset Dakwah Pesantren Ilmu Al-Qur’an (2005). Sebagai kelanjutan untuk meno­rehkan perjalanan hidup sang guru, pada tahun 2008, ia melibatkan diri dalam penulisan biografi lengkap K.H. Basori Alwi, berjudul Sang Guru Qur’an.

Sambil mengajar di pesantren, Ustadz Faris terus berdakwah dengan pena. Dalam periode 2005-2008, suami Nurul Laili Maulidiah ini sempat menjadi kontributor Majalah Forum Keadilan, Ja­karta, dan situs resmi pemerintah Pro­vinsi Hadhramaut, Yaman, serta bebe­rapa media Islam di tanah air.

Kini pun, setelah diberi amanah meng­ajar di IAIN Sunan Ampel Surabaya se­jak 2008, Ustadz Faris menjadi salah satu penulis di Majalah Cahaya Naba­wiy, yang dikelola Habib Taufiq bin Abdul Qadir As-Segaf, Pasuruan.

Fikih Jurnalistik

Berawal dari keinginan untuk menga­winkan disiplin keilmuan yang dipela­jari­nya dengan hobi yang digelutinya, Us­tadz Faris “melahirkan” buku Fikih Jurna­listik. Cikal bakal buku itu ditulis pada 2003, saat ia mengambil judul skripsi Fiqhu al-Shahafah atau Fikih Jurnalistik di Fakultas Syari’ah Universitas Al-Ahgaff Hadramaut Yaman.

Ustadz Faris berusaha menelusuri poin-poin dalam kerja pers yang ada kait­annya dengan ilmu fiqih, yakni sejak pro­ses pencarian berita sampai penyaji­an­nya. Hal-hal itulah yang kemudian ia tuang­kan dalam outline dan pembahas­an skripsi itu. Sedang untuk kajian fiqih­nya, isinya sudah dikoreksi per bab, bah­kan per halaman, oleh Dr. Amjad Rasyid Al-Maqdisi, doktor jebolan Jordan Uni­versity, yang menjadi pembimbingnya di Yaman.

Sirikit Syah, seorang aktivis pers, me­nyebut sudut pandang Fikih Jurnalis­tik ini sebagai sesuatu yang berbeda, dan baru pertama kalinya digunakan oleh pengamat dan penulis media massa. Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siradj men­dukung langkah Ustadz Faris me­rintis fiqih jurnalistik, yang diakuinya be­lum pernah dikaji dalam kitab kuning. Ma­jalah Sabili juga menyebut Fikih Jur­nalistik sebagai “gebrakan baru” dalam ranah jurnalistik.

Pandangan Sirikit Syah yang positif itu makin menambah keyakinan kita bah­wa Islam adalah pedoman lengkap untuk profesi apa pun dan di zaman apa pun, ke­tika pers mengalami perkembangan pesat, dan punya kekuatan untuk mem­pengaruhi jalan pikir, gaya hidup, ke­inginan, bahkan seluruh aktivitas manu­sia.

Ustadz Faris yakin, syari’at Islam ti­dak mungkin abstain dalam ranah ini. Dan benar, ketika ia mulai membaca un­dang-undang pers berbagai negara dan menelusuri sekitar 60 literatur keislaman, ayah satu anak ini  menemukan kebe­naran itu. Berbagai kegiatan jurnalistik yang meliputi mencari, memperoleh, me­miliki, menyimpan, mengolah, dan me­nyampaikan informasi, semua tuntunan­nya sudah dibahas oleh Al-Qur’an, ha­dits, dan kitab-kitab yang ditulis ulama muslim sekian ratus tahun lalu. Subha­nallah.

Untuk penulisan buku selanjutnya, saat ini bersama tim dari Aswaja Center PWNU Jawa Timur, Ustadz Faris se­dang menyelesaikan buku yang akan dimanfaatkan sebagai modul bagi seluruh cabang NU, terutama di Jawa Timur. Buku ini berisi kajian tentang aliran-aliran dan sekte dalam sejarah Islam, serta dalil berbagai tradisi Islam, seperti Maulid, tahlil, istighatsah, dan lainnya, yang sering dituduh sebagai bid’ah oleh kelompok Islam lain.

Dalam proses finishing, ia juga tengah menyelesaikan buku tentang syamail Rasulullah. Buku yang berisi karakter fisik Nabi Muhammad SAW ini adalah kum­pulan tulisannya di Malang Post selama bulan Ramadhan beberapa waktu lalu. Sedang karya-karyanya yang telah diterbitkan adalah Aset-aset Dak­wah Pesantren Ilmu Al-Qur’an (2005), Sang Guru Qur’an – Biografi K.H. Basori Alwi (2008, sebagai anggota tim pe­nulis),

Tarikh al-Khulafa (Qisthi Press Ja­karta, 2009, sebagai penerjemah), Fikih Jurnalistik – Etika dan Kebebasan Pers Menurut Islam (Pustaka al-Kautsar Ja­karta, 2009), Dari Pesantren untuk Bangsa – Biografi Mantan Menteri Agama RI KH Mohammad Iljas (Yayas­an K.H. Saifuddin Zuhri Jakarta, 2009, sebagai anggota tim penulis), Manaqib al-Imam al-Muhajir ilallah Ahmad bin Isa – Leluhur Walisongo dan Habaib di Indo­nesia (Darkah Media Malang, 2010), Fikih Praktis – Mengenal Tatacara Ber­suci, Shalat, Puasa dan Zakat (Al-Furqon Media, 2011).

Selain mengajar di kampus, bebe­rapa pesantren, dan majelis ta’lim di Ma­lang dan Lumajang, bapak satu anak (Khansa Mahmada, 2,5 tahun) ini juga mengisi Kajian Tafsir dan Dialog Keaga­maan di Radio Masjid Agung Jami’ Ma­lang, 99,8 Madina FM, sejak 2009 hing­ga sekarang. Program acara ini mem­buka sesi dialog melalui SMS dan tele­pon, juga disiarkan melalui streaming di website www.masjidjami.com.

Acara yang sama juga disiarkan oleh stasiun televisi, CRTV Malang. Untuk ma­kin menjangkau audiens dakwah pula, Ustadz Faris mengisi program Hujjah Aswaja di TV9 Surabaya dan Program Taushiyah Udara, yang disiar­kan tujuh stasiun RRI di tanah air.

Amaliah Kelancaran Urusan

Ikhtiar manusia harus selalu di­du­kung dengan doa kepada Allah SWT, karena manusia adalah makhluk yang lemah.

Dalam konteks berbicara di depan umum, Ustadz Faris memberikan ijazah: sesaat sebelum berbicara di depan umum, membaca doa Rabbisyrahli shadri wa yassir lii amri wahlul ‘uqdatam min lisani.

Sedang untuk kelancaran urusan se­cara umum, membaca doa Rabbi yassir wa laa tu’assir wa tammim bil khair.

Agar mustajab, sebaiknya doa juga diawali dengan bacaan Ya ‘Alimu, ya Halim, ya ‘Aliyyu, ya ‘Azhim.

Ustadz Faris juga mengingatkan, ja­ngan lupa pula mendoakan kedua orang tua, Rabbighfir lii wa li walidayya war­hamhuma kamaa rabbayaanii shaghiira, minimal lima kali setiap usai membaca doa setelah adzan.

SB


Pasang iklan dilihat ribuan orang? klik > murah dan tepat sasaran">Serbuanads >> MURAH dan TEPAT SASARAN

 

Add comment


Security code
Refresh