Wednesday, 23 April 2014
Home Dunia Islam Ruwaym Ibn Ahmad Al-Baghdadi : Perhiasan sekadar Tampilan Luar
Ruwaym Ibn Ahmad Al-Baghdadi : Perhiasan sekadar Tampilan Luar PDF Print E-mail
Friday, 26 April 2013 17:23

www.majalah-alkisah.comMeski sehari-hari ia berpakaian mewah, itu hanya untuk menutupi maqamnya. Sebetulnya ia ahli ibadah.

Ruwaym ibn Ahmad ibn Yazid Ruwaym memiliki kunyah (panggilan) “Abu Muhammad”, tetapi ada pula yang mengatakan “Abu Bakar” dan “Abu Al-Husayn”. Ia bermarga Bani Syaibani dan termasuk keturunan Ruwaym Ibn Yazid Abu Al-Hasan Al-Muqri’ (ahli membaca Al-Qur’an) yang meriwayatkan qira’ah dari Al-Laits dari An-Nafi’.

Sufi kelahiran Baghdad ini adalah tokoh sufi sekaligus juga ahli fiqih peng­anut Madzhab Dawud Al-Ashfahani atau juga disebut “Azh-Zhahiri”.

Ruwaym mengaku sebagai murid dan sahabat Al-Junaid. Namun Abu Abdullah Ibn Khafif, seorang sufi, juga banyak kalangan, mengatakan, “Aku ti­dak pernah melihat satu orang pun yang lebih baik bicaranya dalam hal tauhid daripada Ruwaym.”

Maulana Abdurrahman Jami menu­tur­kan berdasarkan cerita gurunya da­lam bukunya yang berjudul Nafahat al-Uns, Ruwaym adalah orang gemuk dan dikelilingi dengan baju keduniaan. Jabat­annya dalam pemerintahan adalah wakil qadhi. Tatkala ia duduk di kursi pengadil­an, harus disediakan empat bantalan. Tampilannya tampak sangat sombong.

Perihal yang terakhir ini, ada orang yang mencelanya. Ruwaym pun berkata kepada orang yang mencela itu, “Jikalau kau kalungkan perhiasan besar di ke­palaku, lalu aku masuk pasar, aku tidak pula peduli.” Maksudnya, pakaian dan perhiasan hanyalah tampilan luar, tetapi ia tidak peduli apakah benda-benda duniawi ini akan hilang dari dirinya. Se­dang dalam dirinya tetaplah jiwa sufi murni yang menjadi amalannya.

Sementara kala menjadi qadhi (ha­kim), Ruwaym berpedoman, sebagai­mana dikutip dalam kitab Risalah Qu­syairiyah, “Di antara hakim yang bijak­sana adalah memberikan kelonggaran hukum kepada orang lain dan memper­ketat hukum kepada diri sendiri.”

Orang yang Terhormat

Alkisah, Abu Amar Az-Zujaji sedang berkhidmat melayani Al-Junaid. Al-Junaid melarangnya untuk mengunjungi Ruwaym. Ketika Az-Zujaji berhasrat pergi dari negerinya demi mengunjungi Ruwaym, ia berkata dalam hati, “Jika aku pergi, lalu ada orang yang menanyaiku ihwal Ruwaym, apa yang harus aku katakan?”

Namun akhirnya Az-Zujaji nekat juga mengunjungi Ruwaym tanpa sepenge­tahuan Al-Junaid.

Dilihatnya Ruwaym sangat sopan dan berwibawa.

Ketika majelis sepi, putri Ruwaym me­nemui Az-Zujaji dan mengantarnya menemui ayahnya. Ruwaym berkata kepada Az-Zujaji, “Sahabat-sahabatmu pernah bilang kepadaku. ‘Mengapa tak kau tinggalkan saja pekerjaan ini, dan da­tang ke tempat kami?’ Lihat, bagai­mana aku bisa datang kepada mereka se­mentara aku sedang berkhidmat me­layani anak-anak ini (para muridnya). Aku ajari mereka ilmu tauhid dan aku paparkan kepada mereka apa yang aku dapatkan dari sisi-Nya.”

Kala itu, Al-Junaid sedang berbicara dengan sahabat-sahabatnya ketika da­tang Abu Amr Az-Zajuji. Seseorang telah memberi tahu Al-Junaid bahwa Abu Amr telah mengunjungi Ruwaym. Ketika Az-Zujaji pulang, ia ditanya oleh Al-Junaid perihal kebenaran kunjungannya kepada Ruwaym.

“Abu Amr, bagaimana sosok Ruwaym yang kau dapati?”

“Dia adalah orang yang terhormat.”

“Alhamdulillah,” ujar Al-Junaid. “Aku melarangmu untuk mengunjunginya ka­rena aku takut ia tampil dalam pandang­anmu sebagai orang hina, hingga aku akan rugi besar. Alhamdulillah jika me­mang kau melihatnya baik. Ia adalah se­orang wali dan pemuka kaum sufi.”

Abu Abdullah bin Khafif, yang kelak juga menjadi sufi besar, pernah meminta nasihat Ruwaym, “Berilah aku nasihat!”

Ruwaym menasihatinya, khususnya dalam bidang tasawuf yang sedang di­pelajarinya  pada waktu itu. “Masalah ta­sawuf tidak bisa dicapai kecuali dengan mencurahkan jiwa. Memasuki tasawuf harus dengan pengorbanan jiwa (badzl ar-ruh). Jika tidak, janganlah menyelam dalam kesia-sian sufisme (turahhat ash-shufiyyah).” Termasuk dalam badzl ar-ruh adalah tidak mengeluh ketika kita menderita.

“Sufi berperilaku di atas prinsip ha­kikat. Orang-orang pada umumnya ha­nya menuntut zhahir-nya syara’, sedang­kan para sufi, selain menuntut zhahirnya syara’, juga menuntut diri mereka pada hakikat wara’ dan menetapi ke­tulusan.

Jika Allah memberimu kemampuan un­tuk memberi nasihat dan mengamal­kan­nya, lalu aku mengambilnya, itu ada­lah nikmat. Jika aku melaksanakannya, sedangkan engkau sendiri tidak meng­amalkannya, itu adalah musibah bagi­mu. Jika engkau tidak punya nasihat, juga tidak berbuat benar, itu adalah sik­saan.”

Suatu hari, seseorang datang mene­mui Ruwaym sembari menanyakan hal-nya (status kesufiannya).

Ruwaym menjawab, “Engkau tanya bagaimana hal orang yang agamanya ada­lah hawa nafsunya dan himmah cinta­nya adalah dunianya. Jelas ia bu­kan­lah orang shalih, yang bertaqwa, juga bukan orang arif, yang murni.”

Pernyataan Ruwaym merujuk pada sifat-sifat buruk jiwa yang menjadi per­soalan nafsu dan menganggap nafsu sebagai agamanya.


Orang Sibuk yang Kosong

Beberapa penulis mencatat, Ruwaym mengarang beberapa kitab perihal ta­sawuf.

Menjelang akhir hayatnya, ia me­nyembunyikan diri di antara orang-orang kaya dan mendapat kepercayaan Khali­fah, tetapi itu merupakan kesempurnaan tingkatan spiritualnya, sehingga ia tidak terhijab dari Allah.

Memperbandingkan dirinya dengan Ruwaym, Al-Junaid berkata, “Aku adalah orang kosong yang sibuk, sementara Ru­waym adalah orang sibuk yang ko­song.” Maksudnya, Al-Junaid merendah­kan diri bahwa dirinya adalah orang yang mengamalkan keshalihan tetapi disibuk­kan dengan urusan duniawi, sementara Ruwaym adalah orang yang sibuk de­ngan urusan duniawi tetapi sesungguh­nya tekun beribadah kepada Allah.

Hal ini diketahui dari pengalaman Ruwaym dalam kehidupan sehari-hari. Ia menuturkan, “Saya pernah melewati kota Baghdad pada siang hari yang pa­nas. Ketika itu saya berjalan di beberapa jalan dalam keadaan sangat haus. Saya men­coba meminta air minum pada salah se­orang penghuni rumah. Kemudian mun­cullah seorang anak perempuan kecil mem­buka pintu rumah dengan mem­bawa sebuah tempat air minum. Ketika melihatku, ia berkata, ‘Seorang sufi mi­num air di siang hari!’ Maka sejak itu saya tidak pernah membatalkan puasaku.”

Ruwaym meninggal di Baghdad pada tahun 303 H atau 915 M.


SB, dari berbagai sumber

Pasang iklan dilihat ribuan orang? klik > murah dan tepat sasaran">Serbuanads >> MURAH dan TEPAT SASARAN

Last Updated on Friday, 26 April 2013 17:26
 

Add comment


Security code
Refresh