Saturday, 19 April 2014
Home Dunia Islam Sa’ad bin Mu’adz: Jenazahnya Diiringi 70.000 Malaikat
Sa’ad bin Mu’adz: Jenazahnya Diiringi 70.000 Malaikat PDF Print E-mail
Friday, 26 April 2013 17:15

www.majalah-alkisah.comSalah seorang sahabat yang ikut menggali kubur Sa’ad, Abu Said Al-Khudri, mengatakan, “Ketika kami menggali kubur, tanahnya tercium bau wangi hingga sampai ke liang lahat.”

Malam itu, suara senjata beradu dahsyat tanpa henti. Pedang-pedang terbaik mengintai sasar­an, kemudian menebas tangan dan leher. Tombak meluncur, me­nem­bus dada. Darah mengucur di setiap tem­pat, padang pasir bersimbah darah.

Itulah perang yang sangat menguras emosi dan stamina kaum muslimin, Pe­rang Khan­daq, karena mereka berha­dapan dengan tiga kekuatan besar.

Malam merangkak terus, tapi perang tak jua sudah.

Sementara itu, di dekat kediaman Ra­sulullah SAW, Malaikat Jibril turun dari langit menemui beliau dan ber­tanya, “Siapa hamba shalih yang wafat se­hing­ga pintu-pintu langit terbuka un­tuknya dan arsy Allah bergetar?”

Rasulullah SAW lantas keluar, ter­nyata Sa’ad bin Mu’adz telah wafat (HR Al-Baihaqi dari Jabir RA).

Riwayat lain menyebutkan, Jibril AS da­tang menemui Rasulullah SAW de­ngan mengenakan ikat kepala dari sutra tebal. “Jenazah siapa gerangan yang te­lah membuka pintu langit dan meng­gun­cang arsy Allah? Arsy gembira menyam­but kedatangan ruh itu.”

Lalu Rasulullah SAW menuju ke kediaman Sa’ad bin Mu’adz dan ternyata ia telah gugur.

Muslimah bin Aslam bin Harisy, yang mengikuti Rasulullah SAW menuju ru­mah Sa’ad, menceritakan, “Rasulullah me­masuki rumah Sa’ad tetapi tidak me­nemukan siapa-siapa kecuali  Sa’ad yang ditutupi kain. Beliau memintaku mundur dan beliau keluar.

‘Aku tidak kebagian tempat,’ kata be­liau, ‘karena semua telah dipenuhi ma­laikat.’

Sebelum itu, beliau merapatkan ke­dua lutut Sa’ad untuk memberikan tem­pat kepada malaikat.”

Ketika orang-orang mengangkat je­nazah Sa’ad, salah seorang berkata, “Kami belum pernah mengusung jena­zah seringan ini.” Padahal tubuh Sa’ad termasuk besar.

Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Jenazah Sa’ad diusung dan diiringi 70 ribu malaikat, yang tidak menginjak bumi.” (Riwayat Abu Naim dari Asy’ats bin Ishaq bin Sa’ad bin Abi Waqash).

Salah seorang sahabat yang ikut menggali kubur Sa’ad, Abu Sa’id Al-Khudri, mengatakan, “Ketika kami meng­gali kubur, tanahnya tercium bau wangi hingga sampai ke liang lahat.”

Karena aroma wangi itu, orang-orang mengambil sebongkah untuk di­bawa pulang. Setiba di rumah, tanah ter­sebut berubah menjadi minyak wangi.

Rasulullah SAW berkata, “Mahasuci Allah, Mahasuci Allah.” Lalu beliau meng­usap wajahnya dengan minyak wangi tersebut.

Kepada para pelayat, beliau bersab­da, “Sungguh, arsy Tuhan, Yang Maha­rah­man, bergetar dengan berpulangnya Sa’ad bin Mu’adz. Segala puji bagi Allah. Kalau ada orang yang selamat dari him­pitan kubur, Sa’ad-lah orangnya. Ia di­kenai satu himpitan, lalu Allah membe­baskannya.”

Pengkhianatan Bani Quraidhah

Kala itu, Perang Khandaq (Parit) te­ngah berkecamuk. Kota Madinah dike­pung tentara Quraisy yang khusus da­tang dari kota Makkah, yang bekerja sama dengan suku Ghatfan, suku ter­besar di kalangan bangsa Arab. Sedang­kan pemicunya adalah kaum Yahudi Bani Quraizhah, yang juga penduduk Madinah. Yahudi Bani Quraizhah ini meng­khianati perjanjiannya dengan Ra­sulullah SAW, yang kala itu tengah hijrah di kota tersebut. Bani Quraizhah meng­ajak kaum Quraisy, musuh bebuyutan Nabi, dan mempengaruhi kabilah Ghat­fan tadi. Bani Quraizhah sendiri akan menusuk dari dalam. Dengan begitu, mereka yakin akan dapat mengalahkan kaum muslimin, terutama menghentikan syiar agama baru yang dibawa oleh Nabi Muhammad, yang mereka anggap telah merusak tatanan hidup nenek moyang.

Mengetahui persekongkolan terse­but, Rasulullah SAW berencana meng­hubungi Bani Quraizhah dan menawar­kan sepertiga hasil pertanian kota Madi­nah untuk mereka tapi dengan syarat me­reka mundur dari persekutuan jahat tersebut. Beliau ingin menyelamatkan Madinah dan rakyatnya dari serangan tiga kekuatan itu.

Tapi Rasulullah SAW menyadari bahwa langkah beliau itu belum dibicara­kan dengan para sahabat Anshar selaku penduduk pribumi Madinah. Dan ter­nyata, ketika hal itu disampaikan kepada Sa’ad bin Mu’adz dan Sa’ad bin Ubaidah se­laku pimpinan Anshar, mereka meno­lak tegas ide Rasulullah untuk berkom­promi tersebut.

“Demi Allah, kami tidak akan mem­beri mereka kecuali pedang,” kata Sa’ad bin Mu’adz, dengan suara bergetar. “Sam­pai Allah memberikan keputusan-Nya dalam mengadili kami dengan mereka.”

Maka, dalam masa Perang Khandaq itu juga, Rasulullah SAW mengirim pa­sukan untuk menghukum Bani Qura­izhah.

Bani Quraidhah bertahan, sehingga hunian mereka dikepung rapat.

Setelah pengepungan berjalan 25 hari, akhirnya mereka menyerah.

Namun Rasulullah me­nyerahkan per­soalan itu sepenuhnya kepada Sa’ad bin Mu’adz, yang lebih tua daripada Sa’ad bin Ubaidah. “Wahai Sa’ad, berilah ke­putusan terhadap Bani Quraidhah.”

Sa’ad pun pergi menemui mereka.

Dengan mempertimbangkan peng­khia­natan Bani Quraizhah, Sa’ad pun mengambil keputusan: “Orang-orang yang ikut perang dihukum mati, perem­puan dan anak-anak diambil jadi tawan­an, dan harta kekayaan mereka dibagi-bagi.”

“Terimalah Ruhnya, Ya Allah...”

Sa’ad bin Mu’adz adalah pemuka Ma­dinah bersama Sa’ad bin Ubaidah. Ia ma­suk Islam ketika telah berumur 31 tahun dan pada usia 37 tahun ia mati syahid dalam Perang Khandaq.

Dalam rentang waktu yang singkat itu, ia berhasil mengukir prestasi yang ge­milang dalam membela Islam dan Rasulullah SAW sehingga Allah SWT memberikan kemuliaan kepadanya.

Keislamannya bermula ketika ia hen­dak mengusir Mush’ab bin Umair, yang di­utus Rasulullah SAW, untuk memberi­kan pelajaran agama kepada penduduk Yatsrib yang kemudian berganti nama menjadi Madinah. Tapi begitu sampai di majelis di rumah sepupunya, dadanya bergetar ketika mendengar firman Allah SWT. Hidayah dan petunjuk Allah telah me­nerangi jiwanya. Ia pun mengangkat bai’at kepada utusan Nabi tersebut, dan menyatakan diri masuk Islam.

Sejarah mencatat bagai­mana per­juangannya dalam membela agama dan Ra­sulullah ketika terjadi Pe­rang Khan­daq. Dalam Perang Khandaq itulah Sa’ad mengalami luka berat pada matanya, ter­kena tombak musuh. Ka­rena lukanya itu ia kemudian dibawa ke masjid Nabi untuk mendapat perawatan.

Ketika Rasulullah SAW menjenguk­nya, kondisinya sudah sangat kritis. Be­liau mendoakan, “Ya Allah, Sa’ad telah ber­jihad di jalan-Mu, ia telah membenar­kan Rasul-Mu, dan memenuhi kewajib­an­nya. Maka terimalah ruhnya dengan sebaik-baiknya.”

Ucapan Rasulullah itu telah mem­berikan kesejukan bagi ruh yang akan pergi itu. Dengan susah payah dibuka­nya kelopak matanya. ”Salam atasmu, wahai Rasul. Aku mengakui, engkau ada­lah rasul Allah,” ujar Sa’ad lirih.

“Kebahagiaan bagimu, wahai Abu Amr,” jawab Rasulullah.

Bill

Pasang iklan dilihat ribuan orang? klik > murah dan tepat sasaran">Serbuanads >> MURAH dan TEPAT SASARAN

 

Add comment


Security code
Refresh