Saturday, 19 April 2014
Home Dunia Islam Orang Kristen Naik Haji : Kisah Tiga Petualang ke Tanah Terlarang (Tamat)
Orang Kristen Naik Haji : Kisah Tiga Petualang ke Tanah Terlarang (Tamat) PDF Print E-mail
Wednesday, 13 March 2013 17:45

www.majalah-alkisah.comBangsa Barat ternyata telah berabad-abad lamanya menyimpan keinginan menguak misteri kehidupan spiritualitas dan sosial yang berada di dua kota suci yang amat dihormati kaum muslimin: Makkah dan Madinah.


Kisah Perjalanan Haji

Abdullah bin Mubarak RA

Abdullah bin Al-Mubarak RA, Abu Abdurrahman Abdullah bin Al-Mubarak Al-Hanzhali Al-Mar­wazi, lahir pada tahun 118 H/736 M. Ayah­nya seorang Turki dan ibunya se­orang Persia. Ia adalah seorang ahli ha­dits yang terkemuka dan seorang zahid termasyhur.

Abdullah bin Mubarak telah belajar di ba­wah bimbingan banyak guru, dan ia sa­ngat ahli di dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan, termasuk gramatika dan kesusastraan.

Ia adalah seorang saudagar kaya yang banyak memberi bantuan kepada orang-orang miskin. Ia meninggal dunia di kota Hit, yang terletak di tepi Sungai Euphrat, pada tahun 181 H/797 M.

 

Membagi-bagikan Keuntungan

Alkisah, Abdullah bin Mubarak sangat tergila-gila kepada seorang gadis hingga membuat dirinya terus-menerus dalam kegundahan. Hingga pada suatu malam di musim dingin ia berdiri di bawah jendela kamar kekasihnya sampai pagi hari, hanya karena ingin melihat kekasihnya itu walau untuk sekilas.

Salju turun sepanjang malam itu. Ketika adzan subuh terdengar, ia masih mengira bahwa itu adalah adzan untuk shalat Isya. Sewaktu fajar menyingsing, barulah ia sadar betapa ia sedemikian terlena dalam merindukan kekasihnya itu. Ia tersentak, lalu termenung menye­sali apa yang telah dilakukannya se­malaman.

Hati kecilnya pun berkata, “Wahai putra Mubarak yang tak tahu malu, di malam yang indah seperti ini engkau dapat tegak terpaku sampai pagi hari karena hasrat pribadimu, tetapi apabila seorang imam shalat membaca surah yang panjang engkau menjadi sangat gelisah.” Begitu dalam ia menyesali per­buatannya malam itu.

Sejak saat itu hatinya sangat gundah. Kemudian ia bertaubat dan menyibukkan diri dengan beribadah kepada Allah.

Sedemikian sempurna kebaktiannya kepada Allah sehingga pada suatu hari, ketika ibunya memasuki taman, sang ibu melihat anaknya itu tertidur di bawah rum­pun mawar sementara seekor ular de­ngan bunga narkisus di mulutnya meng­usir lalat yang hendak mengusiknya. Kali itu, yang ia lihat betapa Allah kini ridha kepadanya.

Setelah bertaubat, Abdullah bin Mu­barak meninggalkan kota Merv untuk me­netap di Baghdad. Di kota inilah ia bergaul dengan tokoh-tokoh sufi.

Dari Baghdad ia pergi ke Makkah ke­mudian kembali lagi ke Merv.

Penduduk Merv menyambut keda­tangannya dengan hangat. Mereka ke­mudian mengorganisir kelas-kelas dan kelompok-kelompok pelajar. Di kota Merv, Abdullah mendirikan dua buah se­kolah tinggi.

Kemudian ia berangkat ke Hijaz dan untuk kedua kalinya menetap di Makkah.

Ia cukup lama tinggal di kota ini. Tahun pertama ia menunaikan ibadah haji, tahun kedua pergi berperang, dan tahun ketiga ia berdagang. Keuntungan dari perdagangannya itu dibagikannya kepada para pengikutnya. Ia biasa mem­bagi-bagikan kurma kepada orang-orang miskin.

 

“Hanya” karena sebuah Pena

Abdullah sangat teliti dan berhati-hati dalam hal keshalihan. Suatu ketika ia mam­pir di sebuah warung kemudian per­gi shalat. Sementara itu kudanya yang ber­harga sangat mahal menerobos ke da­lam sebuah ladang gandum. Karena ia merasa bahwa dirinya telah melakukan kesalahan, kuda itu ditinggalkannya dan meneruskan perjalanannya dengan ber­jalan kaki.

Pada peristiwa lain, Abdullah melaku­kan perjalanan dari Merv ke Damaskus un­tuk mengembalikan sebuah pena yang dipinjamnya dan lupa mengembali­kan­nya. Ia dengan besar hati kembali lagi ha­nya untuk mengantar sebuah pena yang telah dipinjamnya, yang saat itu tanpa disengaja terbawa olehnya.

Suatu hari, ketika Abdullah melalui suatu tempat, orang-orang mengatakan kepada seorang buta yang ada di situ bah­wa Abdullah sedang melewati tempat tersebut.

“Mintalah kepadanya segala sesuatu yang engkau butuhkan!”

Maka orang buta itu pun berseru, “Ab­dullah, berhentilah!”

Abdullah lalu berhenti.

“Doakanlah kepada Allah agar me­ngembalikan penglihatanku ini.”

Abdullah menundukkan kepala lalu berdoa.

Seketika itu juga, atas izin Allah, orang buta itu dapat melihat kembali.  Subhanallah.…

 

Hajinya Tukang Sepatu

Dalam suatu riwayat, pada suatu hari, setelah menyelesaikan ritus ibadah haji, Abdullah bin Al-Mubarak tertidur dan ber­mimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit. Ia bercerita:

“Berapa banyak yang datang berhaji tahun ini?” tanya malaikat kepada ma­laikat lainnya.

“Enam ratus ribu,” jawab malaikat lainnya.

“Berapa banyak mereka yang ibadah hajinya diterima?”

“Tidak satu pun.”

Percakapan ini membuat aku geme­tar dan menangis. Semua orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, de­ngan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana me­nyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?

“Ada seorang tukang sepatu di Da­maskus yang biasa dipanggil ‘Ali bin Mowaffaq’,” kata malaikat yang pertama.

“Ia tidak datang menunaikan ibadah haji tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah dihapuskan. Dan berkat dia seluruh haji mereka diterima oleh Allah.”

Ketika mendengar hal ini, aku terba­ngun dan memutuskan untuk pergi me­nuju Damaskus dan mengunjungi orang itu.

Aku pergi ke Damaskus dan mene­mukan tempat ia tinggal.

Aku menyapanya dan ia keluar.

“Siapakah namamu dan pekerjaan apa yang kau lakukan?” tanyaku.

“Aku Ali bin Mowaffaq, penjual se­patu.”

Kepadanya aku menceritakan mimpi­ku dan memohon agar ia bercerita ke­padaku mengapa ia mendapatkan ke­dudukan yang sedemikian tinggi.

Ia bercerita: Selama 40 tahun aku te­lah rindu untuk melakukan perjalanan haji. Aku telah menyisihkan 350 dirham dari hasil berdagang sepatu. Tahun ini aku memutuskan untuk pergi ke Makkah, sejak istriku mengandung.

Suatu hari istriku mencium aroma ma­kanan yang sedang dimasak oleh tetang­ga sebelah, dan memohon kepadaku agar ia bisa mencicipinya sedikit.

Aku pergi menuju tetangga sebelah, mengetuk pintunya, kemudian menjelas­kan maksud kedatanganku.

Tetanggaku itu mendadak menangis.

“Sudah tiga hari ini anakku tidak ma­kan apa-apa,” katanya.

“Hari ini aku melihat keledai mati ter­geletak dan memotongnya kemudian me­masaknya untuk mereka. Ini bukan ma­kanan yang halal bagimu.”

Hatiku begitu tersentuh ketika aku men­dengar ceritanya. Aku mengambil 350 dirhamku dan memberikan kepada­nya.

“Belanjakan ini untuk anakmu,” kataku.

Inilah yang aku alami.

 

Berbicara dengan Al-Qur’an

Dalam kisah lain, Abdullah bin Al-Mubarak RA mengisahkan: Aku keluar untuk menunaikan ibadah haji ke Baitul­lah dan berziarah ke makam Nabi SAW.

Ketika berada di suatu jalan, aku me­lihat titik hitam di jalan. Dan kulihat se­orang nenek mengenakan baju dan jilbab dari wol. Aku menyapa, “Assalamu ‘alai­kum warahmatullahi wabarakatuh.”.

“(Kepada mereka dikatakan) ‘Salam’, sebagai ucapan selamat dari Tuhan, Yang Maha Penyayang (QS 36: 58),” ja­wab sang nenek.

Kemudian aku bertanya kepadanya, “Semoga Allah mengasihimu. Apa yang engkau lakukan di tempat ini?”

Nenek itu menjawab, “Barang siapa disesatkan oleh Allah, tidak ada orang yang memberikan petunjuk kepadanya (QS 7: 186).”

Saat itu aku berkata dalam hati, “Se­sungguhnya dia tersesat dari jalan.”

Aku bertanya, “Akan ke manakah engkau?”

Ia menjawab, “Mahasuci Allah, yang te­lah memperjalankan hamba-Nya di ma­lam hari dari Masjid Al-Haram ke Masjid Al-Aqsha (QS 17: 1).”

Dalam hati aku berkata, “Sesung­guh­nya ia telah menunaikan ibadah haji dan ingin ke Baitul Maqdis.”

Aku lalu bertanya kepadanya, “Sejak kapan engkau berada di sini?”

Ia menjawab, “Selama tiga malam dalam keadaan sehat (QS 19: 10).”

Aku bertanya, “Aku tidak melihat eng­kau membawa makanan yang dapat kau makan.”

Ia menjawab, “Dia memberikan ma­kan dan minum kepadaku (QS 26: 79).”

Aku bertanya, “Dengan apakah eng­kau berwudhu?”

Ia menjawab, “Bila kamu tidak mene­mukan air, bertayamumlah dengan debu yang bersih (QS 4: 43).”

Aku berkata kepadanya, “Aku mem­bawa makanan, apakah engkau mau makan?”

Ia menjawab, “Kemudian sempurna­kanlah puasa itu sampai malam (QS 2: 187).”

Aku berkata, “Ini bukan bulan Rama­dhan.”

Ia menjawab, “Dan barang siapa mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui (QS 2: 158).”

Aku berkata, “Dalam perjalanan, kita dibolehkan untuk berbuka.”

Ia menjaawab, “Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui (QS 2: 184).”

Aku bertanya, “Mengapa engkau tidak berbicara kepadaku sebagaimana aku berbicara kepadamu?”

Ia menjawab, “Tiada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir (QS 50: 18).”

Aku bartanya, “Dari golongan apakah engkau?”

Ia menjawab, “Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ke­tahui ilmunya. Sesungguhnya pende­ngaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban (QS 17: 36).”

Aku berkata, “Aku telah berbuat salah, maafkanlah aku.”

Ia berkata, “Pada hari ini tiada cerca­an terhadap kamu. Mudah-mudahan Allah mengampunimu (QS 12: 92).”

Aku berkata, “Apakah engkau berke­nan menaiki untaku, sehingga engkau dapat bertemu dengan kafilah?”

Ia berkata, “Dan apa yang kau kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahui (QS 2: 197).”

Kemudian kurendahkan untaku.

Ia berkata, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya (QS 24: 30).”

Aku tundukkan pandanganku darinya dan kukatakan kepadanya, “Naiklah.”

Saat ia akan naik, unta itu meloncat sehingga pakaiannya sobek.

Ia berkata, “Dan apa musibah yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatanmu sendiri (QS 42: 30).”

Aku berkata kepadanya, “Sabarlah, sehingga unta ini kuikat.”

Ia berkata, “Maka Kami telah membe­rikan pengertian kepada Sulaiman ten­tang hukum (yang lebih tepat) (QS 21: 79).”

Aku mengikat unta itu dan berkata, “Naiklah!”

Tatkala menaiki unta, ia berkata, “Maha­suci Tuhan, yang telah menun­duk­kan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasai­nya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami (QS 43: 13-14).”

Kemudian kuambil tali unta itu dan aku bergerak dan berteriak.

Ia berkata, “Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu (QS 31: 19).”

Lalu aku berjalan pelan-pelan dan menyenandungkan syair.

Dia berkata, “Maka bacalah apa yang mudah dari Al-Qur’an (QS 73: 20).”

Aku berkata, “Sungguh engkau telah diberi kebaikan yang banyak.”

Ia berkata, “Dan tidak dapat mengam­bil pelajaran (daripadanya) kecuali orang-orang yang berakal (QS 3: 7).”

Saat berjalan sedikit, aku berkata, “Apakah engkau punya suami?”

Ia menjawab, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan sesuatu yang jika diterangkan kepada­mu niscaya menyusahkanmu (QS 5: 101).”

Aku terdiam dan tidak berkata lagi hingga kami menjumpai kafilah.

Aku berkata, “Kita telah sampai di kafilah. Di manakah rombonganmu?”

Ia menjawab, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia (QS 18: 46).”

Dari situ aku tahu bahwa ia mempu­nyai anak.

Aku bertanya, “Bagaimana keadaan mereka dalam haji?”

Ia menjawab, “Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan de­ngan bintang-bintang itulah mereka men­dapat petunjuk (QS 16: 16).”

Sehingga aku mengetahui bahwa mereka adalah para penunjuk jalan.

Aku menuju kubah dan keramaian. Ke­mudian aku bertanya, “Kita telah sam­pai di kubah-kubah. Dari golongan mana­kah engkau?”

Ia menjawab, “Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih (QS 4: 125). Dan Allah telah berfirman kepada Musa de­ngan firman yang sebenarnya (QS 4 : 164). Hai Yahya, ambillah kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh (QS 19: 12).”

Maka aku memanggil, “Hai Ibrahim, Musa, dan Yahya.”

Tiba-tiba muncullah para pemuda menghadap dengan wajah bersinar bagai rembulan.

Ketika mereka telah duduk, perempu­an itu berkata, “Maka suruhlah salah seorang di antara kalian pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah ia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia mem­bawa makanan itu untukmu, dan hendak­lah ia berlaku lemah lembut (QS 18: 19).”

Salah seorang di antara mereka pergi membeli makanan yang kemudian dihi­dangkan untukku.

Perempuan itu berkata, “(Kepada me­reka dikatakan): Makan dan minumlah dengan sedap karena amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu (QS 69: 24).”

Aku berkata, “Makananmu tidak akan kumakan, sampai kalian ceritakan ihwal perempuan ini.”

Mereka berkata, “Dia adalah ibu kami yang sejak 40 tahun yang lalu tidak berbicara, kecuali dengan ayat Al-Qur’an, karena takut tergelincir dan mendapat murka Allah.”

Aku berkata, “Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dike­hen­daki-Nya (QS 57: 21).”

Morena Cindo


Pasang iklan dilihat ribuan orang? klik > murah dan tepat sasaran">Serbuanads >> MURAH dan TEPAT SASARAN

 

Add comment


Security code
Refresh