Thursday, 24 April 2014
Home Dunia Islam Rehal Anugerah Terindah
Rehal Anugerah Terindah PDF Print E-mail
Saturday, 19 January 2013 16:31

Majalah Islam Online alKisahPenulis : Sholeh Muhammad Basalamah

Penerbit : Kalam Pustaka, Tangerang, cetakan 1, Oktober 2010

Tebal : 670 halaman

“Apabila diberi kenikmatan, ia bersyukur, maka hal itu baik baginya. Dan apabila ditimpa kesulitan, ia bersabar, maka hal itu pun baik baginya.”
(HR Muslim 14/280).

Apa perlunya memahami hidup dan kehidupan? Per-tanyaan semacam ini, atau yang semakna dengannya, disadari ataupun tidak disadari, pastilah pernah ada pada benak setiap orang. Karena, setiap manusia, dengan akal dan perasaannya, pastilah akan merasa perlu untuk mengambil sikap dan tin­dak­an dalam setiap jengkal interaksinya de­ngan segala sesuatu yang berada di luar dirinya. Apa pun itu. Demikian pula da­lam menghadapi kenyataan demi kenya­ta­an, yang menyadarkannya tentang ke­hidupan.

Namun, pengetahuan manusia ten­tang kehidupan sangatlah terbatas. Dan sungguhlah beruntung orang-orang yang dikaruniai pengetahuan tentang ha­kikat kehidupan.

Mengenai hal ini, Allah SWT berfir­man dalam Al-Qur’an, “Tiap-tiap yang ber­jiwa akan merasakan mati. Dan se­sung­guhnya pada hari Kiamat sajalah di­sempurnakan pahala kalian. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dima­suk­kan ke dalam surga, sungguh ia telah beruntung. Dan kehidupan dunia itu ti­dak lain hanyalah kesenangan yang mem­perdayakan.” (QS Ali Imran: 185).

Pada hakikatnya, kehidupan di dunia ini tidak lain hanya sebuah kesenangan yang menipu, dan pasti akan berakhir. Ka­rena, semua kenikmatan duniawi, si­fat­nya tidak lebih dari sesaat. Sebagai con­toh saat kita berada di sebuah res­toran yang sangat mewah, dengan menu yang paling lezat. Saat menyantap ma­kanan yang paling lezat itu, berapa lama kita merasakan kelezatannya? Masih­kah kita merasakan kelezatan dan kenik­matannya saat makanan itu telah melewati ujung lidah?

Ya Allah, benarlah para kekasih-Mu, ahli ma‘rifat-Mu, yang berkata, “Sesung­guhnya manusia itu sedang terlelap da­lam tidur; dan bila telah datang ajal, baru­lah mereka terbangun.”

Dunia yang mempesona telah mem­buat manusia terbuai dalam mimpi. Bila ajal tiba, barulah mereka tersadar bahwa semua yang mereka kejar, buru, usaha­kan, dan rindukan dalam setiap hentak­an napas mereka, dari semua kesenang­an duniawi itu, tidak lebih dari mimpi se­saat.

Perjalanan sesungguhnya yang ter­amat panjang, meletihkan, penuh tanjak­an dan jurang yang curam, menuju ne­geri yang kekal dan abadi, telah berada di hadapan mata. Sedangkan diri me­rasa tidak sedikit pun bekal disiapkan. Yang ada hanyalah beban-beban berat yang harus dipikul, berupa kelalaian, ke­zha­liman, kerakusan, ketamakan, yang harus dipertanggungjawabkan di depan persi­dangan di hadapan Yang Maha Merajai Hari Kemudian, Maha Pemilik segala bukti yang tidak mungkin diing­kari.

Maka, alangkah meruginya bila kita ter­masuk orang-orang yang terbuai mim­pi dalam kehidupan.

Teramat beruntunglah kita yang te­lah ditakdirkan sebagai muslim, yang ber­iman kepada Allah dan digolongkan sebagai umat Rasulullah SAW. Hanya orang-orang berimanlah yang beruntung dalam kehidupannya. Karena, setiap de­tik waktunya, setiap inci langkahnya, dan setiap hentakan napasnya adalah karu­nia yang tiada bandingnya.

Nabi SAW bersabda, “Sungguh meng­herankan (selalu baik) perkara (urus­an) orang mukmin. Sesungguhnya semua perkaranya baik baginya, dan hal itu tidaklah terjadi kecuali pada diri se­orang mukmin. Apabila diberi kenikmat­an, ia bersyukur, maka hal itu baik bagi­nya. Dan apabila ditimpa kesulitan, ia bersabar, maka hal itu pun baik bagi­nya.” (HR Muslim 14/280).

Itulah sebabnya, agar karunia terin­dah itu kita dapatkan, hendaklah kita men­jaga hati kita dari berbagai kotoran dan penyakit hati yang dapat memaling­kan diri kita dari Allah SWT kepada moti­vasi dan tujuan-tujuan duniawi.

 

Terlahir dari Pencarian Panjang

Ustadz Sholeh Muhammad Basala­mah memahami betul kebutuhan utama manusia untuk selalu menjaga hatinya. Hasil karyanya yang satu ini, Sebaiknya Anda Tahu, merupakan salah satu kar­yanya yang terindah, yang dipersembah­kan bagi seluruh umat manusia, khusus­nya bagi umat Baginda Nabi SAW, umat termulia di antara para umat.

Dalam buku ini, terhimpun rangkum­an kata-kata mutiara dari para ulama be­sar, sebagai catatan akhir pada lembar­an-lembaran karya-karya emas mereka, yang terlahir dari pencarian panjang me­reka dalam meniti jalan menuju Allah SWT. Kata-kata mutiara dalam buku ini sarat dengan makna yang dalam, me­nerangi hati, dan membimbing para pem­bacanya untuk berakhlaq terpuji, baik kepada Allah SWT maupun kepada sesama makhluk.

Mari kita menengok satu riwayat dari Abu Hurairah RA, yang terdapat dalam buku ini, ia berkata, “Aku pernah mende­ngar Rasulullah SAW bersabda, ‘Di hari Kiamat kelak, orang yang pertama kali di­hadapkan kepada Allah adalah se­orang yang mati syahid, kemudian diper­lihatkan kepadanya berbagai karunia Allah sampai ia mengakuinya. Setelah itu Allah bertanya kepadanya, ‘Apa yang engkau lakukan dengan karunia itu?’

Aku berjuang di jalan-Mu sampai aku mati syahid.’

Engkau telah berdusta, tetapi eng­kau berjuang agar disebut sebagai se­orang pemberani dan hal itu telah eng­kau dapatkan.’

Kemudian Allah memerintahkan ma­laikat untuk menyeretnya ke neraka de­ngan wajah yang tersungkur.

Lalu dihadapkan pula seorang yang mencari ilmu dan mengajarkannya serta gemar membaca Al-Qur’an. Kemudian diperlihatkan karunia Allah kepadanya sampai ia pun mengakuinya. Setelah itu Allah bertanya, ‘Apa yang engkau laku­kan dengan karunia itu?’

Aku belajar ilmu di jalan-Mu dan meng­ajarkannya, dan aku juga gemar membaca Al-Qur’an karena-Mu.’

Engkau telah berdusta, karena eng­kau belajar ilmu dan Al-Qur’an agar eng­kau digelari orang alim dan qari, dan eng­kau telah mendapatkannya.’

Kemudian Allah memerintahkan ma­laikat untuk menyeret orang tersebut ke dalam neraka dengan wajah tersung­kur’.” (HR Muslim).

Renungkanlah hadits di atas. Sete­lah membacanya dan memahami kan­dungan maknanya, masih adakah di da­lam hati kita kebanggaan bahwa “Aku orang alim”, “Aku kiai”, “Aku pejabat”, “Aku orang dermawan”, dan aku-aku yang lainnya.


Niat yang Tulus

Sungguh, bahkan kesyahidan dalam membela agama sebagai derajat yang sangat tinggi di hadapan Allah sekalipun, tanpa dilandasi kemurnian niat yang tulus-ikhlas karena Allah SWT, hanya akan mem­bawa pelakunya kepada ke­hinaan yang tiada harapan kembali se­telahnya.

Itulah sebabnya, hal utama yang ha­rus selalu dipertahankan, dijaga, dan di­pelihara dalam menjalani hidup adalah mengarahkan hati untuk selalu ikhlas. Mem­­bersihkan hati dari semua motivasi dan tujuan duniawi. Namun, untuk me­na­namkan ikhlas dalam hati, mewujud­kan­nya dalam perbuatan, dan menjaga­nya, tidaklah semudah mengucapkan­nya.

Hal utama yang harus diketahui dan diyakini adalah, sebagaimana firman Allah SWT, dunia tidak lain hanyalah ke­senangan yang menipu. Kesenangan­nya menipu manusia untuk lalai kepada Allah, dan ujiannya menipu manusia un­tuk putus asa dari rahmat Allah SWT.

Sebab itulah, ma‘rifat tentang hakikat dunia dan tipu dayanya hendaklah di­jadikan dorongan bagi setiap orang un­tuk dapat meraih anugerah-anugerah ter­indah dari luas dan teramat maha­besarnya rahmat dan kasih sayang Allah SWT bagi hamba-hamba-Nya, dari se­tiap ujian ataupun karunia yang Allah te­tapkan sebagai ujian terhadap mereka di dunia, agar diketahui siapa yang ter­baik amal ibadahnya.

Sebagai renungan, marilah kita kem­bali menengok lembaran “catatan akhir” dalam buku ini:

Di antara hiburan bagi orang-orang yang tertimpa musibah atau cobaan ke­tika hidup di dunia, hendaklah seorang hamba melihat dengan pandangan hati sehingga mengetahui bahwa kepahitan dunia hakikatnya adalah kesenangan di akhirat yang Allah balik, dan kesenangan dunia hakikatnya adalah kepahitan di akhirat nanti. Dan bahwa berpindah dari kepahitan sementara kepada kesenang­an abadi adalah lebih baik daripada se­baliknya, yaitu berpindah dari kesenang­an sementara kepada kepahitan abadi.

Apabila hal itu belum jelas dalam pan­danganmu, perhatikanlah sabda Rasulullah SAW, “Surga itu diliputi de­ngan berbagai hal yang dibenci, sedang­kan neraka diliputi dengan berbagai hal yang disenangi.”

Perhatikan pula sabda beliau SAW dalam hadits yang shahih, “Pada hari Kiamat kelak akan didatangkan seorang penghuni neraka yang paling senang hidupnya selama di dunia, kemudian ia dicelupkan ke dalam neraka satu celup­an dan ditanyakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah engkau melihat ada kebaikan? Apakah engkau pernah men­dapatkan satu kenikmatan?’

Maka orang tersebut berkata, ‘Demi Allah, tidak pernah, wahai Tuhanku.’

Kemudian didatangkan seseorang yang paling sengsara hidupnya di dunia dari ahli surga, lalu ia dicelupkan ke da­lam surga dengan satu celupan. Ke­mu­dian ditanyakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah engkau pernah me­­rasa­kan kesusahan? Apakah eng­kau pernah mengalami satu kesengsara­an?’

Orang itu menjawab, ‘Demi Allah, tidak pernah, wahai Tuhanku’.”

Kedudukan semacam ini memiliki ber­macam-macam pandangan orang ter­hadapnya, yang dengannya akan terlihat jelas hakikat orang-orang yang besar.

Kebanyakan orang di zaman seka­rang lebih mementingkan kesenangan se­mentara dibanding kebahagiaan aba­di, yang tidak akan pernah sirna, dan me­reka enggan untuk menanggung kepa­hitan sesaat untuk kebahagiaan abadi, kehinaan sementara untuk kemuliaan yang kekal, dan enggan menanggung ujian sesaat untuk mendapatkan kese­jahteraan abadi selama-lamanya. Ka­rena, bagi mereka, yang nyata adalah apa yang ada saat ini, sedangkan yang ditunggu tidaklah nyata.

Iman yang lemah dan kekuasaan syahwat yang telah menjadi hakim me­lahirkan sikap mengutamakan dunia dan meninggalkan akhirat.

 

Rahmat dan Kasih Sayang Allah

Selanjutnya, marilah kita renungkan betapa mahabesarnya kasih sayang Allah terhadap hamba-hamba-Nya, de­ngan kembali menengok lembaran-lem­baran dari buku ini.

Al-Qur’an banyak menyebutkan ih­wal kecintaan Allah kepada para hamba-Nya, di antaranya Allah akan me­nerima taubat seseorang yang ber­taubat ke­pada-Nya. Allah akan me­ridhainya dan Allah juga akan meng­ampuninya setelah ia bertau­bat. Allah SWT berfirman, “Dan hendak­lah kamu meminta ampun ke­pada Tuhan­mu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang de­mikian), nis­caya Dia akan memberi ke­nikmatan yang baik (terus-menerus) ke­padamu sampai kepada waktu yang te­lah di­tentukan dan Dia akan memberikan ke­pada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (ba­lasan) keutamaannya.” (QS Hud: 3).

Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan ke­padamu dengan lebat, dan membanyak­kan harta dan anak-anakmu, dan meng­adakan untukmu kebun-kebun, dan meng­adakan (pula di dalamnya) untuk­mu sungai-sungai.” (QS Nuh: 10-12).

Dan barang siapa mengerjakan ke­jahatan dan menganiaya dirinya, kemu­dian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Peng­ ampun lagi Maha Penyayang.” (QS An-Nisa: 110).

Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri me­reka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah menghapuskan dosa-dosa semua­nya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Az-Zumar: 53).

Sesungguhnya Tuhanmu benar-be­nar mempunyai ampunan (yang luas) bagi manusia meskipun mereka zhalim.” (QS Ar-Ra`ad: 6).

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyu­kai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS Al-Baqarah: 222).

Maka mengapa mereka tidak ber­taubat kepada Allah dan memohon am­pun kepada-Nya. Dan Allah Maha Peng­ampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Maidah: 74).

Maka bertaubat itu lebih baik bagi­mu.” (QS At-Tawbah: 3).

Kemudian Allah menerima taubat me­reka agar mereka tetap dalam taubat­nya.” (QS At-Tawbah: 118).

Karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertaubatlah kepada-Nya, se­sungguhnya Tuhanku amat dekat (rah­mat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).” (QS Hud: 61).

Sekali lagi, marilah kita renungkan, dunia yang kini kita hidup di dalamnya bu­kan hanya ladang untuk mempersiap­kan bekal bagi kehidupan yang abadi, tetapi juga menjadi tempat belajar yang sangat indah untuk memahami bahwa setiap inci dan jengkal dari kenyataan-kenyataan hidup yang kita jalani tidak lain adalah rahmat dan kasih sayang Allah SWT.

 

MS*AP

 

Add comment


Security code
Refresh