Thursday, 17 April 2014
Home Dunia Islam Siti Usamah: Keberkahan Shalawat Haji
Siti Usamah: Keberkahan Shalawat Haji PDF Print E-mail
Saturday, 29 December 2012 11:43

www.majalah-alkisah.comDoanya yang tulus ikhlas kepada Allah SWT agar bisa menunaikan rukun Islam yang kelima akhirnya dikabulkan oleh Allah SWT.

Sudah sejak lama Ibu Siti Usamah memendam cita-cita ingin menunaikan ibadah haji, untuk menyempurnakan rukun Islamnya. Keinginan tersebut se­makin menggebu-gebu tatkala ia meng­antarkan dua keponakannya dalam ke­berangkatan haji di Bandara Adi Sucipto pada tahun 1994.

Keponakannya itu bernama Syaiful dan Ilhamiyati, yang baru berusia 19 dan 17 tahun. Dua remaja tersebut berangkat haji bersama kedua orangtua mereka, H. Muftin dan Hj. Jamaah, salah satu pemilik perusahaan alat-alat olahraga yang sukses di kampung Bu Siti. Saat itu adalah kedua kalinya pengusaha tersebut berangkat haji.

Di kampung Bu Siti, sebagaimana di kampung-kampung lain, sudah menjadi tradisi, warga yang akan berangkat haji diantar oleh sebagian besar warga kam­pung beramai-ramai. Dan tidak tang­gung-tanggung, calon haji saat itu di­antar dengan dua mobil dan 10 bus.

Dalam perjalanan, Bu Siti berkata ke­pada kedua keponakannya itu, “Kepo­nakanku, Syaiful dan Yati, yang baru ber­usia belasan tahun dan belum meni­kah sudah bisa naik haji, H. Muftin juga sudah haji dua kali. Lalu kenapa aku be­lum bisa naik haji?”

Semenjak itu Bu Siti semakin rajin ber­doa, memohon kepada Allah agar bisa segera datang ke Rumah Allah.

Tahun 1995, kembali Bu Siti meng­an­tarkan tetangganya berangkat haji. Dan sebagaimana sebelumnya, keingin­an Bu Siti untuk menunaikan ibadah haji muncul lagi, bahkan semakin kuat.

 

Amalan Shalawat Haji

Kemudian pada tahun 1996, Bu Siti mengantarkan tantenya untuk berangkat haji. Tapi kali itu ia tidak mengantarkan sang tante ke Bandara Adi Sucipto, me­lainkan ke kota Jepara, karena tantenya mendaftar di Jepara. Bu Siti mengantar­kan tantenya bersama sanak saudara lainnya, mereka berangkat mengguna­kan bus.

Di Jepara, rombongan menuju ru­mah adik tante Bu Siti, H. Busro.

Sebelum pulang ke Yogyakarta, Bu Siti beserta rombongan singgah dulu ke Pondok Al-Miftah, milik K.H. Mudhofar, yang masih famili tante Bu Siti. Di sana, Bu Siti dan rombongan memperoleh  taushiyah dari K.H. Mudhofar tentang ibadah haji.

Kiai Mudhofar juga memberikan amal­an agar rombongan bisa segera menunaikan rukun Islam yang terakhir tersebut. Amalan yang diberikan adalah Shalawat Haji, yang bunyinya, “Allahum­ma shalli ‘ala sayyidina muhammadin shalaatan tuballighunaa bihaa hajja baitikal haraami wa ziyaarata qabri nabiyyika muhammadin shallallahu ‘alaihi wa sallama fii luthfin wa ‘afiyatin wa salaamatin wa buluughil maraami wa’alaa aalihi wa shahbihi wa baarik wa sallim.” Artinya, “Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami, Nabi Muhammad, yang dengan rahmat itu semoga Engkau menyampaikan kami berhaji ke Rumah-Mu yang agung, dan berziarah ke makam Nabi-Mu Muham­mad SAW dengan selalu mendapat per­lindungan, sehat, selamat, dan tercapai cita-cita. Dan limpahkanlah pula rahmat berkah dan salam kepada keluarga dan para sahabatnya.”

Kiai Mudhofar berpesan agar shala­wat ini dibaca setiap malam sebanyak 10 kali.

Semenjak itu Bu Siti istiqamah meng­amalkan doa tersebut. Setiap malam Bu Siti membaca Shalawat Haji sebanyak 10 kali. Dan ikhtiarnya ditambah dengan semakin rajin melaksanakan shalat Tahajjud dan shalat Hajat.

Tahun 1997, kembali Bu Siti meng­an­tarkan Bapak dan Ibu H. Muftin beser­ta dua anaknya yang lain untuk berang­kat haji. Sama seperti sebelumnya, putra-putri pengusaha tersebut juga ma­sih berusia muda dan belum menikah. Hal tersebut lagi-lagi membuat Bu Siti benar-benar merasa iri.

Secara berturut-turut tahun 1998, 1999, dan 2000 Bu Siti juga mengan­tar­kan sanak keluarga yang lain untuk berangkat haji. Dan dari tahun ke tahun keinginan Bu Siti untuk berangkat haji semakin besar dan ia semakin banyak berdoa.

 

Allah Mengabulkan Doanya

Allah SWT mendengarkan doa-doa Bu Siti dan mengabulkannya.

Alhamdulillah, dengan menjual sa­wah, ditambah tabungannya, Bu Siti ber­sama suami, dua kakak kandung serta satu kakak iparnya, mendaftar haji tahun 2001.

Namun, berbagai kendala harus di­hadapinya. Pada tahun 2001, ongkos haji naik tajam, dari yang sebelumnya cuma sekitar Rp 10 juta per orang men­jadi Rp 20 jutaan.

Hal tersebut sempat membuat suami Bu Siti hendak mengurungkan niatnya untuk pergi haji. Uang Bu Siti tidak cukup untuk berangkat dua orang. Uang me­reka kurang Rp 5 juta.

Alhamdulillah, tiba-tiba ada saudara yang berkenan memberikan pinjaman Rp 5 juta, sehingga biaya haji tercukupi.

Ternyata Bu Siti harus menghadapi ke­sulitan yang lain lagi. Quota haji di kabupaten tempat tinggal Bu Siti sudah habis.

Lalu Bu Siti dan saudara-saudaranya harus bolak-balik ke kabupaten lain un­tuk mengurus pendaftaran.

Namun dengan izin Allah SWT, se­mua kesulitan tersebut bisa diatasi se­hingga pada akhirnya Bu Siti dan suami­nya bisa berangkat haji pada tanggal 31 Januari 2001.

Pada tanggal 10 Februari 2001 saat masuk waktu  maghrib, Bu Siti dan rom­bongan sampai di Makkah.

Ba’da isya, mereka menuju Ka’bah. Se­olah tak percaya dengan apa yang dilihatnya, Bu Siti meneteskan air mata melihat Ka’bah ada di depan matanya. Semua terasa seperti mimpi.

 

Kemudahan-kemudahan saat Haji

Di tanah haram itu, Bu Siti mendapat­kan berbagai kemudahan tatkala menu­naikan rukun-rukun haji.

Suatu saat, Multazam, salah satu tem­pat mustajab, dipenuhi dengan orang-orang yang berebut tempat untuk menunaikan shalat sunnah dua rakaat di sana. Bu Siti, yang bertubuh kecil, ter­desak-desak oleh jama’ah dari negara lain, yang rata-rata bertubuh besar. Ia hampir putus asa, karena tidak memper­oleh tempat yang nyaman untuk menu­nai­kan shalat.

Tapi tiba-tiba datanglah seorang pria asing bertubuh besar yang memberi ke­sempatan kepada Bu Siti untuk melak­sana­kan shalat dua rakaat dan melin­dunginya agar tidak terdesak jama’ah lain yang juga ingin melaksanakan shalat di tempat mustajab tersebut. Karena ban­tuan orang asing itu, Bu Siti berhasil menyelesaikan shalat sunnah tersebut dengan khusyu’.

Anehnya, setelah Bu Siti salam, orang asing tersebut tiba-tiba menghi­lang.

Kemudahan lainnya, jalur sa’i yang tadinya ramai dan padat tiba-tiba men­jadi lengang setelah Bu Siti memberikan air Zamzam yang dimilikinya kepada se­seorang yang meminta minum kepada­nya. Jalur sa’i yang lengang tersebut ten­tu saja memudahkan Bu Siti untuk me­nyelesaikan putarannya.

Bu Siti juga bisa mencium Hajar Aswad, walaupun hanya satu kali.

Pada tanggal 17 Maret 2001 pukul 18.00 WIB, sampailah Bu Siti dan suami di rumah.

Kedatangan Bu Siti disambut sau­dara-saudaranya dengan penuh tangis. Ketika ia berada di tanah Arab, putri ke­duanya opname di rumah sakit selama dua minggu. Meski begitu, hal itu tidak mengurangi rasa syukur Bu Siti dan suami, karena telah diizinkan oleh Allah untuk berangkat haji dan kembali ke tanah air dengan selamat.

Demikianlah kisah Bu Siti, yang istiqamah membaca Shalawat Haji. Se­telah memendam keinginan untuk haji ber­tahun-tahun, akhirnya ia bisa menu­nai­kan ibadah haji bersama suami. Se­moga kisah ini menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa dengan kesabaran yang disertai doa, shalat Hajat, shalat Tahajjud, juga shalawat, insya Allah cita-cita kita akan terkabul.

 

IMR, diolah dari naskah
Betty Marfuah

 

 

Add comment


Security code
Refresh