Thursday, 17 April 2014
Home Dunia Islam Habib Ali Al-Jufri berkisah tentang: Detik-detik Wafatnya Rasulullah SAW: Wafatnya adalah Kehidupan Sejatinya
Habib Ali Al-Jufri berkisah tentang: Detik-detik Wafatnya Rasulullah SAW: Wafatnya adalah Kehidupan Sejatinya PDF Print E-mail
Friday, 14 December 2012 17:29

www.majalah-alkisah.comWahai, bagaimana hati kita tidak tergetar dan semakin merasakan kerinduan kepada Rasulullah SAW? Bagaimana hati kita tidak terkesan dengan beliau? Bagaimana kita dapat melupakan perintah untuk mencintai beliau? Bagaimana hati kita tidak terikat untuk senantiasa merindukan beliau? Bagaimana hati kita tidak tersentuh kala pribadi beliau diperdengarkan?

Dalam haji wada’nya (haji perpisahan), Rasulullah SAW berkhutbah di hadapan sekitar 120.000 orang, “Wahai manusia, dengar dan per­ha­tikan­lah, sesungguhnya aku tidak akan ber­temu lagi dengan kalian selepas tahun ini.”

Semuanya terdiam, sambil terus mende­ngarkan kata demi kata yang diucapkan Rasulullah SAW.

Beliau menasihati dan berwasiat ke­pada mereka tentang keterikatan mereka dengan Tuhan dan agama mereka. Ke­tika itu Allah menurunkan ayat, “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kalian agama kalian, Aku sempurnakan nikmat-Ku atas kalian, dan Aku ridha Islam men­jadi agama kalian.”

Allah menghidupkan makna kehidup­an yang dahsyat di tengah-tengah me­reka, dalam suasana perpisahan dengan Rasulullah SAW. Saat itu, perpisahan de­ngan beliau adalah sebuah sisi kehidupan bagi umatnya setelah itu.

Kemudian Ra­sulullah SAW pun pulang ke kota Madi­nah.

Bulan Rabi’ul Awwal tiba.

Di awal bulan itu, tubuh Rasulullah SAW terasa lemah. Beliau terserang sakit demam. Tubuhnya pun disirami air sejuk. Beliau bersabda, “Siramilah aku dengan air supaya aku dapat keluar untuk meng­ucapkan salam perpisahan dengan para sahabatku.”

Baginda pun disirami air itu, yang membuat tubuhnya terasa lebih segar.

 

“Sahabat Teragung”

Kemudian beliau keluar rumah, me­langkahkan kakinya dengan diiringi ke­dua sepupunya, Ali bin Abu Thalib dan Fadhl bin Abbas, radhiyallahu ‘anhuma.

Beliau menemui para sahabat.

Saat melihat hadirnya Rasulullah SAW di tengah-tengah mereka, tampak betapa kegembiraan menyemburat dari wajah para sahabat.

Kemudian Rasulullah SAW duduk di atas mimbarnya.

Para sahabat terdiam, bersiap untuk mendengarkan segala apa yang akan diucapkan Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW pun berkhutbah, khut­bah perpisahan. Beliau bersabda, “Se­seorang telah diberi pilihan, antara kehidupan di dunia atau menjumpai Ar-Rafiqul A’la (“Sahabat Teragung”, Allah SWT).”

Rasulullah SAW pun kemudian meng­ulang-ulang kata itu, “Ar-Rafiqul A’la, Ar-Rafiqul A’la, Ar-Rafiqul A’la…”

Wahai orang yang berakal, adakah kehidupan Allah akan berakhir? Adakah hubungan dengan Allah akan menemui titik penghabisan? Hubungan dengan Ar-Rafiqul A’la itu sesungguhnya merupakan kehidupan itu sendiri. Ucapan Rasulullah SAW itu menandakan bahwa ia memilih ke­hidupan yang sejati.

Hati sahabat Abubakar RA tersentuh. Ia pun berkata kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, demi ayah dan ibuku, biar­lah ruh-ruh kami, anak-anak kami, dan sanak keluarga kami, serta harta-har­ta kami, sebagai tebusan bagimu.”

Melihat Abubakar RA mengatakan itu, sahabat Abu Sa’id Al-Khudri RA berkata, “Ada apa dengan orang tua ini? Apakah ia (Abubakar) sudah pikun?”

Rasulullah SAW telah menceritakan ihwal lelaki ini (Abubakar RA), yaitu se­orang yang telah meyakini penuh bahwa diri beliau sebagai utusan Allah SWT (saat yang lain banyak yang menging­kari­nya). Kelak Abu Sa’id mengatakan, “Se­lepas wafatnya Rasulullah SAW, Abu baru tahu, perkataan Abubakar itu per­kataan yang tepat.”

Rasulullah SAW memandang Abu­bakar RA. Pandangan yang penuh mak­na. Kemudian beliau berkata, “Biarkanlah sahabatku berkata kepadaku. Orang yang paling percaya kepadaku adalah Abubakar. Sekiranya aku memilih kawan dekat, niscaya aku akan memilih Abu­bakar. Tutuplah pintu rumah kalian yang menuju masjidku, kecuali pintu rumah Abubakar.”

 

Wasiat-wasiat Rasulullah

“Ya Rasulullah, berwasiatlah kepada kami,” ujar para sahabat.

Kala itu, di antara yang diwasiatkan Ra­sulullah SAW, “Berwasiatlah kalian ter­hadap para wanita dengan kebaikan.”

Wasiat ini menyimpan makna yang luar biasa yang beliau katakan di saat be­liau hendak mengucapkan salam perpi­sah­an kepada sekalian umatnya. Makna­nya, agar kita mewujudkan hubungan yang baik sesama kita sepeninggal be­liau, yang dengannya kehidupan akan berjalan harmonis. Beliau mewasiatkan ini agar kita dapat menggapai kehidupan yang sebe­narnya, yaitu tatkala kita men­jalani ke­hidupan ini dengan penuh ke­baikan.

Beliau juga berwasiat, “Dan berwa­siatlah kalian dengan baik terhadap ke­luargaku.” Beliau ingin kita dapat terus hidup berkesinambungan dengan beliau.

Kenapa beliau mengatakan “ke­luarga” yang dinisbahkan sebagai ke­luarga beliau, “keluargaku”. Hal itu di­sebabkan beliau ingin mengajarkan ke­pada kita bahwasanya perpindahan be­liau dari alam dunia tidak dimaksudkan se­bagai terputusnya hubungan umat de­ngan beliau. Seakan beliau mengatakan, “Hubungan kalian denganku tak akan ter­putus selagi kalian berhubungan dengan ke­luargaku.”

Wasiat beliau lainnya, “Janganlah ka­lian menjadi kafir selepas kepergianku dan janganlah kalian berperang satu sama lain.”

Beliau pun terus berwasiat kepada para sahabat dengan wasiat-wasiat lain yang beliau berikan kepada mereka.

Sebagian di antara mereka menga­takan, “Ya Rasulullah, jika engkau wafat, siapakah yang akan memandikanmu?”

Beliau menjawab, “Seseorang di an­tara ahlul baytku.”

Hati mereka amat tersentuh dengan perpisahan yang akan mereka lalui, per­pisahan antara mereka dengan Ra­sul­ullah SAW.

Kemudian mereka berkata lagi, “De­ngan apa engkau akan kami kafankan?”

Saat melihat rasa gundah melanda hati para sahabatnya, air mata Rasulullah SAW pun berlinang. Beliau menjawab, “(Bahan) dalam pakaianku ini, atau kain dari Yaman, atau jubah dari Syam, atau kapas dari Mesir.”

 

Abubakar Mengimami Shalat

Mereka terus bertanya kepada Ra­sulullah SAW dengan beberapa perta­nyaan lainnya.

Setelah banyaknya pertanyaan seba­gai persiapan bagi para sahabat bila se­waktu-waktu Rasulullah SAW wafat dan meninggalkan mereka, Rasulullah SAW pun menangis. Lalu beliau bersabda, “Ber­laku lembutlah kepada nabi kalian.”

Kemudian beliau berdiri, melangkah pulang, dan memasuki rumah beliau. Be­liau pun merebahkan diri di pembaringan.

Di saat yang sama, rasa bimbang semakin menggelayuti hati para sahabat. Kemudian mereka meninggalkan peker­jaan dan urusan mereka dan berkeliling di sekitar rumah Rasulullah SAW dan masjid beliau. Mereka ingin mengetahui perkembangan berita tentang Rasulullah SAW. Sampai tiba pada waktu shalat, se­dangkan imam mereka (Rasulullah SAW) tidak kunjung keluar untuk shalat ber­sama mereka. Para sahabat pun semakin bertambah bimbang.

Kemudian Rasulullah SAW berkata ke­pada Aisyah RA, “Perintahkan Abu­bakar untuk mengimami shalat.”

Aisyah RA (putri Abubakar RA) ber­kata kepada beliau, “Ayahku seorang yang kurus dan aku khawatir ia akan me­nangis dan tak sanggup berdiri. Mintalah dari Umar, ya Rasulullah.”

Rasulullah SAW menjawab, “Kalian se­perti sahabat Nabi Yusuf AS. Perintah­kanlah Abubakar untuk mengimami shalat.”

Abubakar RA pun bangkit mengimami jama’ah shalat fardhu yang pertama dan shalat-shalat berjama’ah berikutnya.

 

Salam Perpisahan

Senin waktu shalat Subuh, 12 Rabi’ul Awwal. Rasulullah SAW menyingkap tabir kain dari pintu rumah beliau. Pan­dangannya mengarah kepada para sa­habat. Tampak mereka tengah shalat de­ngan khusyu’ dan tunduk di hadapan Allah SWT, di bawah pimpinan Abubakar RA.

Segala puji bagi Allah, saat Rasulullah SAW memperhatikan para sahabatnya itu, masjid pun bercahaya dengan ke­munculan beliau. Sampai sebagian saha­bat mengatakan, “Hampir saja kami ter­lalaikan dari shalat kami ketika Rasulullah muncul.”

Abubakar RA hampir saja mundur dari pengimaman, sementara para saha­bat yang lainnya hampir saja memaling­kan pandangannya kepada Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW menunjuk dengan tangan beliau, “Tetaplah di tempat kalian.” Kemudian beliau menutup kembali tirai di pintu masuk rumah beliau itu.

Para sahabat mengatakan, “Itulah saat terakhir Rasulullah SAW meman­dangi para sahabatnya.”

Abdullah bin Mas’ud RA, pembantu Rasulullah SAW, mengatakan, ketika Rasulullah SAW melihat mereka, beliau mengatakan, “Allah memelihara kalian, Allah memberkati kalian, Allah menguat­kan kalian, Allah menolong kalian, Allah membantu kalian.”

Inilah salam perpisahan dari seorang yang merindukan para sahabatnya.

Para sahabat pun memberi salam ke­pada Rasulullah SAW dan keluar dari masjid.

Dikatakan, para sahabat bergembira saat mendapati Rasulullah SAW mem­per­hatikan mereka dari pintu rumah be­liau. Mereka menyangka kondisi kese­hatan Rasulullah SAW telah berangsur pulih. Karenanya, sebagian dari mereka ke­mudian beraktivitas lagi seperti sedia kala, dan mereka menyangka bahwa itu ada­lah rahmat Allah SWT terhadap mereka.

 

Berita Kematian yang Menggembirakan

Aisyah RA berkata, “Rasulullah SAW meminta izin dari sekalian istri beliau un­tuk dirawat di rumahku, lalu mereka meng­izinkan. Saat hari Senin itu, hari wafatnya Rasulullah SAW, tiba, ruh beliau diambil di rumahku sedangkan beliau ada dalam de­kapanku.”

Ia berkisah, “Ketika kami semua se­dang duduk, datanglah Fathimah sambil menangis. Cara berjalannya mirip cara berjalan ayahandanya, Rasulullah SAW.

Kemudian beliau mendekap dan me­ng­ecupnya. Lalu beliau membisikkan sesuatu di telinganya.

Sesaat kemudian Fathimah meng­angkat kepalanya. Ia menangis.

Kemudian Rasulullah memberi isya­rat kepadanya, beliau ingin membisikkan lagi sesuatu kepada Fathimah.

Fathimah mendekati ayahnya dan Rasulullah kemudian berbisik kepadanya.

Sesaat setelah itu Fathimah kembali mengangkat kepalanya dengan penuh rasa gembira yang merona di wajahnya.

Aku tidak pernah melihat tangisan yang kemudian disusul dengan tertawa seperti itu.”

Aisyah RA pun bertanya kepada Fa­thimah RA, “Apa yang dibisikkan ayah­andamu kepadamu?”

Fathimah RA menjawab, “Jangan eng­kau hiraukan hal itu, karena aku tak mau membuka rahasia ini selagi beliau masih hidup.”

Kelak setelah Rasulullah SAW wafat, Aisyah bertanya lagi tentang hal itu.

Fathimah mengatakan, “Ya, ketika aku mendekati ayahku, beliau berbisik kepadaku, ‘Wahai Fathimah, sekali dalam setahun Jibril mendatangiku untuk mem­bacakan Al-Qur’an kepadaku dan pada tahun ini ia telah mendatangiku dua kali. Dan Allah telah memberi pilihan kepada ayahmu, antara dunia dan Ar-Rafiqul A’la.’ Ayahku memilih Ar-Rafiqul A’la. Dan aku diberi tahu bahwa nyawanya akan di­cabut pada hari itu. Lalu aku pun me­nangis.

Kemudian beliau memanggilku lagi dan membisikkan kepadaku, ‘Apakah eng­kau suka bahwa engkau menjadi peng­hulu wanita sekalian alam dan men­jadi orang yang pertama kali akan me­nyusulku?’.

Aku pun bergembira dengan berita dari ayahku itu.”

Kematian adalah sesuatu yang me­nyedihkan. Bagaimana dengan kabar kematianmu ini, wahai Zahra?

Fathimah mengatakan, “Berita ke­ma­ti­anku ini mempercepat pertemuanku dengan orang yang aku kasihi, dan inilah kehidupan yang sesungguhnya bagiku.”

 

Dialog dengan Malaikat Maut

Aisyah melanjutkan kisahnya, “Sebe­lum itu kami mendengar ada sesuatu yang bergerak di balik pintu. Dan itu ada­lah Jibril.

Jibril meminta izin Rasulullah untuk masuk.

Beliau mengizinkannya.

Kemudian aku mendengar Rasulullah berkata kepadanya, ‘Wahai Jibril, Ar-Rafiqul A’la…, Ar-Rafiqul A’la… Kami tahu bahwa sangkaan kami adalah tepat.’

Kemudian aku bertanya kepada Ra­sulullah SAW, ‘Apa yang telah terjadi, wahai Rasulullah?’

Rasulullah SAW menjawab, ‘Itulah Jibril yang datang dan berkata: Malaikat maut telah berada di depan pintu dan meminta izin. Dan tidaklah malaikat maut meminta izin kepada seorang pun baik se­belum dan sesudahmu.

Dan ia (Jibril) mengatakan: Allah me­nyampaikan salam kepadamu dan Dia telah merindukanmu’.”

Maka, wahai orang-orang yang ber­akal, apakah perpindahan kepada Tuhan yang merindukannya merupakan suatu kematian?

Bukan. Kehidupan yang sebenarnya adalah perpindahan kepada Allah, Yang Mahahidup.

Kemudian malaikat maut mengata­kan kepada Rasulullah SAW, “Jikalau engkau berkenan, aku akan mencabut ruhmu untuk menemui Ar-Rafiqul A’la. Na­mun jika engkau tak berkenan, aku akan biarkan mengikuti berlalunya masa sampai tempo waktu yang engkau ingin­kan.”

Rasulullah memilih Allah Ta’ala. Ya, beliau memilih Sahabat Yang Teragung.

Kemudian malaikat maut pun masuk dan mengucapkan salam kepada Rasul­ullah SAW. Ia berkata lagi, “Wahai Ra­sulullah, apakah kau mengizinkanku?”

Rasulullah SAW menjawab, “Terse­rah apa yang akan kau lakukan, wahai ma­laikat maut. Dan berlaku lembutlah sewaktu mencabut ruhku.”

“Hhhhhhhhh………..” (Desis suara Rasulullah SAW menahan rasa sakit).

Rasulullah SAW kembali mengatakan kepada malaikat maut, “Berlaku lembut­lah kepadaku, wahai malaikat maut.”

Perhatikanlah (meski dicabut dengan se­lembut-lembutnya pencabutan ruh yang pernah dilakukan malaikat maut), Rasulullah SAW pun merasakan sakitnya sakaratul maut. Maka bagaimana (yang akan dirasakan) oleh orang yang lalai de­ngan kematian dalam kehidupan mere­ka? Mereka tidak merenungi saat-saat ketika nyawa dicabut pada saat sakaratul maut.

 

“Beratkan bagiku, Ringankan bagi Umatku”

Maka menanjak naiklah ruh mulia Ba­ginda Rasulullah SAW, yang ditandai de­ngan sentakan kedua kaki beliau. Peluh pun bercucuran dari dahi Baginda. Peluh yang bagaikan butiran permata berbau kesturi.

Rasulullah SAW menyapu peluhnya itu dengan tangannya dan kemudian me­letakkan tangannya pada sebuah wadah di tepinya untuk menyejukkan tubuhnya.

Kembali suara berdesis dari lisan suci beliau, “Hhhhhhhh……” Lantaran rasa sa­kit yang ia alami pada saat sakaratul maut.

Beliau pun mengatakan, “Sesung­guh­nya maut itu amatlah berat. Ya Allah, ringankan beratnya maut terhadapku.”

Maka para malaikat dari langit pun turun kepada beliau. Mereka berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah me­nyam­paikan salam atasmu dan Dia me­ngatakan bahwa sesungguhnya perihnya sakaratul maut 20 kali lipat (dalam riwayat lain 70 kali lipat) dari rasa sakit akibat pedang yang menusuk tubuh.”

Rasulullah SAW pun menangis de­ngan tangisan yang tiada tangisan lain yang lebih menyedihkan bagi kalian se­mua. Beliau berdoa, “Ya Allah, berat­kan­lah (sa­karatul maut) ini atasku, tapi ri­ngankanlah atas umatku.”

Wahai, bagaimana hati kita tidak ter­getar dan semakin merasakan kerinduan kepada Rasulullah SAW? Bagaimana hati kita tidak terkesan dengan Rasulullah SAW? Bagaimana kita dapat melupakan perintah untuk mencintai beliau? Bagai­mana hati kita tidak terikat untuk senan­tiasa merindukan beliau? Bagaimana hati kita tidak tersentuh kala pribadi beliau diperdengarkan?

 

Pesan Terakhir

Aisyah RA berkata, “Saudaraku, Abdurrahman bin Abubakar, masuk dan ia sedang membawa sebatang kayu si­wak yang ujungnya belum dilembutkan. Aku lihat Rasulullah memandang ke arah­nya dan adalah Rasulullah SAW menyu­kai bersiwak.”

Maka, apakah kalian menyukai apa yang beliau suka dari sunnah-sunnah be­liau? Adalah Rasulullah SAW menyukai bersiwak.

Aisyah mengatakan, “Aku berta­nya kepada Rasulullah, ‘Ya Rasulullah, apa­kah engkau menginginkannya (siwak)?’

Rasulullah, di saat beliau sudah tak dapat lagi berkata-kata dan kami pun tak dapat mendengar sesuatu pun darinya, memberi isyarat dengan menganggukkan kepala beliau, pertanda beliau meng­ingin­kan untuk bersiwak. Dan perkara yang terakhir beliau katakan adalah, ‘Ash-shalah…. ash-shalah… ash-shalah…’ – ‘Shalat… shalat… shalat....’

Maka, apakah yang kalian lakukan terhadap wasiat Nabi kalian di saat-saat akhir dari kehidupannya di dunia ini? Shalat adalah hubungan kalian dengan Tuhan, agar terjalin hubungan yang hakiki dengan-Nya.

Wahai orang yang mendahulukan pe­kerjaan dunianya dan hawa nafsunya se­belum shalat, yang mendahulukan keter­lenaannya dibanding shalatnya, ingatlah, wasiat yang terakhir dituturkan oleh kekasih kalian di akhir usianya adalah, ’Ash-shalah…. ash-shalah… ash-sha­lah…’, di samping ‘Berwasiatlah dengan kebaikan terhadap para wanita’, dan juga, ‘Aku berwasiat kepadamu dengan ke­baikan terhadap keluargaku.’

Sesaat kemudian, lidah Rasulullah SAW tampak kaku. Tapi, ruh beliau belum tercabut. Beliau masih berkata-kata.”

Dan majelis ini, kata Habib Ali, adalah salah satu kenyataan yang menggambar­kan keadaan ruh Rasulullah SAW.

Kalaulah tidak karena kehidupan Ra­sulullah SAW yang wujud dalam diri kita, niscaya kita tidak tersentak saat disebut perihal kisah wafatnya Rasulullah SAW. Bergetarnya hati kalian saat disebutkan perihal kejadian-kejadian pada saat wa­fatnya Rasulullah SAW adalah sebagian dari petunjuk yang nyata bahwa kemati­an beliau adalah sebuah kehidupan. Adakah kematian yang dapat mengge­rak­kan banyak hati?

Sejahteralah Jasad Beliau

Kemudian, Aisyah melanjutkan, “Ra­sulullah SAW memberikan isyarat lewat anggukan kepalanya, sebagai pertanda keinginannya.

Maka aku berikan kepada beliau kayu siwak yang belum dilembutkan itu.

Tapi kemudian aku mengambilnya dari tangan beliau ketika kulihat siwak itu tak dapat beliau gunakan karena keras, be­lum dilembutkan. Lalu aku melembut­kannya dengan mulutku.

Aku bangga, karena, di kalangan para sahabat, benda terakhir yang masuk ke mulut beliau adalah air liurku.

Lalu aku meletakkannya dalam mulut beliau.

Beliau pun memegangnya dengan ta­ngan beliau sendiri.”

Sakaratul maut yang dialami Rasul­ullah semakin mendalam. Cahaya me­mancar dari wajah beliau, dan cahaya itu meliputi keluarganya.

Waktu terus berjalan. Ruh mulia Ra­sulullah SAW telah sampai pada kerong­kongannya. Beliau membuka kedua ke­lopak bola matanya. Kemudian beliau me­nunjukkan isyarat dengan jari telun­juknya sebagai kesaksian atas keesaan Sang Pencipta, yaitu isyarat ketauhid­an­nya.

Tak lama kemudian, beliau pun meng­embuskan napas terakhir.

Sejahteralah jasad beliau yang agung setelah melalui hari-hari yang melelah­kan, lantaran segala hal ia baktikan demi keselamatan kita.

Sejahteralah jasad beliau setelah pe­rutnya kerap kali diikat dan diganjal batu karena kelaparan, demi pengorbanannya kepada kita.

Sejahteralah jasad beliau, yang per­nah dilempari batu hingga melukai beliau, demi dakwahnya kepada kita.

Sejahteralah jasad beliau, yang ge­rahamnya pernah dipatahkan, lantaran kesungguhan beliau dalam membela agama yang akan menyelamatkan kita.

Sejahteralah jasad beliau, yang dahi­nya pernah dilukai sampai mengalir darah dari dahinya yang mulia itu, lalu beliau menahannya dengan tangan beliau agar darah suci beliau tak sampai jatuh ke ta­nah, sebagai rahmat bagi mereka, kaum yang memerangi beliau, dan bagi kita, dari kemurkaan Allah SWT.

Sejahteralah jasad beliau, yang mata panah pernah menembus daging pipinya, demi kita.

Sejahteralah jasad beliau, yang kaki­nya sampai bengkak disebabkan peng­ab­dian beliau kepada Allah SWT dan demi dakwah kepada kita.

Sejahteralah jasad yang telah memi­kul kesukaran, keletihan, kesakitan, dan kelaparan karena kita.

(Bersambung)

 

IY

Pasang iklan dilihat ribuan orang? klik > murah dan tepat sasaran">Serbuanads >> MURAH dan TEPAT SASARAN

 

Add comment


Security code
Refresh