Friday, 18 April 2014
Home Dunia Islam Rasul, Nabi yang Ummi
Rasul, Nabi yang Ummi PDF Print E-mail
Friday, 07 December 2012 17:32

www.majalah-alkisah.comKata “ummi” dalam Al-Quran, baik ditujukan kepada Nabi, orang-orang Arab, atau orang-orang Yahudi, mempunyai arti tidak dapat membaca dan menulis.

Rasulullah SAW diutus kepada kaum Jahiliyah, yang ummi, tidak dapat baca-tulis. Dan beliau sendiri, juga kebanyakan dari kalangan kaumnya, pun seorang ummi.

Ke-ummi-an Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu keunikan dan se­kaligus  mukjizat Allah yang dianugerah­kan kepada beliau dalam menyampai­kan risalah yang datang dari langit.

Allah SWT berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, nabi yang ummi.” – QS Al-A’raf (7): 157.

Kata-kata “nabi yang ummi” terulang lagi dalam QS Al-A’raf (7): 158. Ada pula istilah ummiyyin (orang-orang ummi), seperti terdapat pada QS Ali Imran (3): 20, Ali Imran (3): 75, dan Al-Jumah (62): 21. Dalam tiga ayat terakhir, al-ummiyyin berarti orang-orang Arab. Memang mereka dikenal dengan nama itu karena sebagian besar terdiri atas orang-orang ummi. Dalam arti, tidak dapat membaca dan menulis. Sedang istilah ummiyyun pada QS Al-Baqarah (2): 78 berarti sekelompok orang Yahudi yang tidak dapat membaca dan menulis.

Dengan demikian kata “ummi” dalam Al-Quran, baik ditujukan kepada Nabi, orang-orang Arab, atau orang-orang Ya­hudi, mempunyai arti tidak dapat mem­baca dan menulis.

Namun, istilah masyarakat Makkah yang ummi bukan berarti seluruhnya ter­diri dari orang-orang buta huruf. Huruf-hu­ruf dalam Kitabat Al-Ammah lazim me­reka pergunakan dalam penulisan tran­saksi, kegiatan keseharian, dan ke­giatan keilmuan yang mereka lakukan. Hal se­rupa dapat ditemukan pada catat­an yang menyangkut perjanjian, perda­gangan, stem­pel, surat, dan selebaran-se­lebaran.

Di kalangan masyarakat Jahiliyah pun, terutama saat-saat kemunculan Islam, ditemukan beberapa orang yang belajar menulis dan menjadi guru bagi yang lain. Beberapa nama bisa disebut­kan: Uma bin Zawarah, Ghailan bin Salamah, Ibnu Mu’tah, Yusuf bin Hakam Ats-Tsaqafi, Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsa­qafi, dan Ubah bin Shamid.

Bahkan lebih dari itu, sebagian me­reka, di samping mampu membaca dan menulis, juga menguasai bahasa asing. Di antaranya, Adi bin Zaid Al-Ibadi, yang pernah belajar tulisan Arab dan Persia, sehingga dikenal sebagai orang yang paling fasih dan paling mahir menulis ke­dua bahasa itu. Waraqah bin Naufal, sau­dara sepupu Sayyidah Khadijah, yang telah menulis kitab Injil dengan ba­hasa Ibrani. Zaid bin Tsabit, yang belajar bahasa Suryani selama 19 hari atas pe­tunjuk Nabi. Di samping itu, ia pun giat me­nerjemahkan tulisan-tulisan berba­hasa Persia, Romawi, Qibthi, dan Habsyi untuk Nabi.

Bukti-bukti menunjukkan bahwa ada beberapa kalangan terpelajar yang da­pat baca-tulis, tetapi bukti semacam itu tidak menghapus ketenaran mereka se­bagai masyarakat ummi. Predikat ummi sudah melekat dan merupakan sifat se­bagian besar mereka, sehingga Islam berupaya menghilangkannya dari kebu­dayaan mereka.

Ke-ummi-an Nabi Muhammad SAW merupakan takdir dari Allah SWT dan hal itu merupakan anugerah sekaligus bukti. Sebab banyak kalangan Quraisy dan orang Arab lainnya menuduh Nabi men­dapatkan wahyu itu berasal atau mem­pelajari dari cerita nenek moyang pada zaman lalu. Sedang Nabi tidak pandai baca-tulis, bagaimana beliau mempela­jari literatur lama itu?

Begitu juga, ada yang menuduh bah­wa Nabi mengarang sendiri ayat-ayat Al-Qur’an, dan menganggap bahwa Al-Qur’an bukan berasal dari Allah. Hal itu langsung terbantahkan, sebab beliau ummi, tidak pandai membaca dan me­nulis, bagaimana dan kapan beliau mem­pelajari syair serta prosa bahasa Arab, sedang mereka mengenalnya se­jak kecil sebagai orang yang jujur?

Dr. Inayatullah Al-Masyriqi

Al-Qur’an, yang merupakan mukjizat Nabi Muhammad yang paling besar, ada­lah senjata dakwah Nabi yang tak terbantahkan oleh para musuh dan pe­nentangnya. Bahkan wahyu Al-Qur’an yang diterima Nabi yang ummi ini masih memberikan pesona kepada orang-orang di luar Islam hingga zaman mo­dern sekarang.

Inilah kisah seorang cendekiawan muslim asal India, Dr. Inayatullah Al-Masyriqi. Dia adalah seorang sarjana ilmu alam dan matematika India yang terkenal. Di dunia Barat, dia dikenal ka­rena berbagai penemuannya dan pemi­kirannya yang baru. Dialah penemu per­tama konsepsi tentang bom atom. Per­nah Panitia Hadiah Nobel ingin mem­berikan anugerah kepadanya, asal kar­ya-karya yang berbahasa Urdu diter­je­mahkan ke dalam bahasa Inggris. Dia menolak, dengan alasan, “Saya tidak perlu hadiah yang yayasannya tidak mau mengakui bahasa Urdu.”

Di Majalah Nuqush, edisi khusus yang terbit di Pakistan, Dr. Inayatullah berkisah:

Hari itu Ahad tahun 1909, hujan turun demikian hebatnya. Tiba-tiba aku me­lihat Sir James Jeans, ahli astronomi ter­kenal asal Inggris, guru besar Cam­bridge University, sedang menuju ge­reja, dengan membawa Injil dan payung yang dikepit di ketiaknya. Aku mendekat dan memberi salam kepadanya. Tapi dia diam saja.

Sekali lagi aku memberi salam, “Saya ingin bertanya kepada Tuan ten­tang dua hal. Pertama, mengapa payung Tuan masih saja terkepit di ketiak pada­hal hujan turun demikian derasnya?”

Dia tersenyum dan segera membuka payungnya.

Aku pun bertanya lagi, “Pertanyaan kedua, apakah yang mendorong se­orang tokoh yang demikian lantang sua­ranya seperti Tuan ini pergi ke gereja?”

Mendengar pertanyaan yang demi­kian, dia berhenti sebentar, kemudian berkata, “Saya undang Anda nanti sore untuk minum teh di rumah saya.”

Sorenya ketika aku sampai ke ru­mahnya, keluarlah Lady James, tepat jam empat sore.

Lady James memberi tahu bahwa Sir James Jeans sedang menungguku.

Pada waktu aku masuk ke dalam ruangan, dia sedang tenggelam dalam pemikiran menghadapi sebuah meja kecil tempat teh.

“Apa yang Anda tanyakan tadi?”

Tanpa menunggu jawaban, dia pun mulai memberikan kuliahnya tentang terjadinya benda-benda langit, sistem­nya yang mengagumkan, jaraknya yang tanpa batas, perjalanannya, peredaran­nya, gaya tariknya, dan cahaya yang menakjubkan.

Hatiku merasa gemetar melihat ke­agungan dan kebesaran Allah ini.

Sir James Jeans, aku lihat sendiri, ram­butnya sampai berdiri, air matanya berlinang, dan tangannya menggigil, karena ketakutan kepada Allah.

Tiba-tiba dia berdiri dan berkata lagi, “Inayatullah! Ketika aku melayangkan padangan pada kehebatan ciptaan Allah, tubuhku menggigil berhadapan dengan keagungan Allah. Dan setiap berlutut di hadapan Allah dan berkata ‘Sungguh Engkau Mahaagung’, rasanya seluruh bagian tubuh ikut berdoa dan aku merasa sangat tenteram dan damai. Aku merasakan suatu kebahagiaan se­ribu kali lipat dibandingkan dengan keba­hagian yang dirasakan oleh orang lain.

Mengertikah engkau sekarang, Ina­yatullah Khan, mengapa aku tadi pergi ke gereja?”

Kuliah itu menimbulkan gelora dalam benakku. Aku pun berkata kepadanya, “Tuan, saya demikian terpesona mende­ngar keterangan-keterangan ilmiah yang Tuan kuliahkan tadi, hal tersebut meng­ingatkan saya pada suatu ayat dari Kitab Suci. Dan kalau Tuan berkenan, akan saya bacakan.”

Dia pun mengangguk seraya ber­kata, “Silakan....”

Aku pun membaca ayat berikut, “Dan di antara gunung-gunung ada garis-garis putih dan merah yang beraneka ragam warnanya dan ada (pula) yang hitam pe­kat. Dan demikian (pula) di antara manu­sia, binatang-binantang melata, dan bi­na­tang-binatang ternak ada bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Se­sungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ula­ma.” – QS Faathir (35): 27-28. Yang di­maksud dengan “ulama” dalam ayat ini adalah orang-orang yang mengetahui ke­besaran dan kekuasaan Allah.

Sir James Jeans pun berseru, “Apa­kah yang kau katakan? Yang takut ke­pada Tuhan di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama! Hebat! Ajaib dan aneh sekali!! Hasil penemuan dengan penelitian dan pengamatan selama lima puluh tahun itu, semua termasuk yang telah disebutkan Muhammad? Benarkah ayat-ayat tersebut terdapat dalam Al-Qur’an? Jika benar, tuliskanlah pernya­taanku bahwa Al-Qur’an memang kitab yang diwahyukan oleh Allah.”

Sir James Jeans pun melanjutkan, “Bukankah Muhammad itu buta huruf? Tidak mungkin dia dapat mengungkap­kan rahasia alam dengan kemampuan dirinya sendiri. Pastilah Tuhan telah mem­beri tahu rahasia tersebut…. Hebat! Ajaib dan aneh!”

SB


Pasang iklan dilihat ribuan orang? klik > murah dan tepat sasaran">Serbuanads >> MURAH dan TEPAT SASARAN

 

Add comment


Security code
Refresh