Wednesday, 23 April 2014
Home Dunia Islam Harta yang Berkah
Harta yang Berkah PDF Print E-mail
Thursday, 29 November 2012 15:16

www.majalah-alkisah.comRizqi yang berkah mendorong seseorang semakin bersemangat menunaikan ibadah, baik yang bersifat hablun minallah maupun hablun minannas.

 

 

Beberapa waktu lalu telah dikisahkan ihwal makanan yang halal dan thayib. Pada nomor ini dilanjutkan de­ngan harta yang bermanfaat.

Setiap anugerah dan kenikmatan yang diberikan oleh Allah kepada se­luruh makhluk ciptaan-Nya dinamakan riz­qi. Se­tiap makhluk pasti akan mem­peroleh rizqi, baik yang konkret  mau­pun yang abstrak.

Rizqi yang konkret seperti harta ke­kayaan, pangkat, jabatan, dan se­bagai­nya. Sedang­kan rizqi yang abstrak se­perti rasa senang, te­nang, gem­­bira, dan se­bagainya.

Besar-kecilnya ka­dar rizqi yang di­berikan itu adalah hak Allah, Yang Maha Menentu­kan, dan Allah adalah Dzat Yang Mahasuci dari segala kesalahan. Allah SWT berfirman, “Dan tidak ada se­suatu binatang melata pun di bumi me­lainkan Allah-lah yang memberi rizqinya. Dia mengetahui tempat kediaman itu dan tempat penyimpanannya. Semua ter­tulis dalam kita yang nyata (Lauh Mahfuzh) – QS Hud (11): 6.

Allah telah menjamin rizqi manusia, termasuk keperluan pokok, yaitu makan dan minum. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman, “Wahai hamba-Ku, tiap-tiap dari kalian berada dalam kelaparan kecuali orang-orang yang Kuberi makan. Oleh karena itu, mintalah makan ke­pada-Ku, niscaya Aku akan memberimu makan.”

Bagaimana dengan keberkahan rizqi? Makna berkah adalah kebaikan yang bertambah (al-khair mutazayyid). Rizqi yang berkah adalah rizqi yang me­lahirkan kebaikan. Semakin bertam­bah rizqi, semakin bertambah pula nilai ke­baikan. Nilai kebaikan rizqi yang berkah dapat dilihat dari kehidupan seorang yang memperolehnya, baik dilihat dari aspek spiritual maupun sosial.

Rizqi yang berkah mendorong diri­nya semakin bersemangat menunaikan ibadah, baik yang bersifat hablun minal­lah maupun hablun minannas. Apabila se­seorang semakin banyak rizqinya men­jadi semakin jauh dari ajaran-ajaran Tuhan, semakin sombong, riya’, malas ber­ibadah, dan membawa berbagai ke­mudharatan, dikhawatirkan rizqinya ti­dak berkah.

Keberkahan rizqi dapat ditinjau dari beberapa aspek: diperoleh dengan cara yang benar, termasuk kategori yang ha­lal, ditunaikan zakatnya, ada yang di­sisihkan untuk orang lain (sedekah), ha­sil usaha sendiri (bukan minta-minta), ti­dak berlebihan, tidak menimbun, disikapi sebagai sebuah amanah.

Kita ambil contoh aspek bahwa rizqi harus diperoleh dengan cara halal. Be­berapa contoh rizqi yang diperoleh de­ngan cara halal: menjual jasa, menjual barang yang halal, bekerja, bertani, be­ternak, mengajar ilmu yang baik.

Sedang rizqki yang haram, antara lain, berasal dari mencuri, korupsi, me­nyuap, menjadi rentenir, merampok, men­jual narkoba, menjual barang najis, menjadi pelacur, menjadi mucikari.

Salah satu akibat dari “pekerjaan” men­jadi rentenir, misalnya, diperingat­kan oleh Allah dalam Al-Quran, “Orang-orang yang makan (mengambil) riba ti­dak dapat berdiri melainkan seperti ber­dirinya orang yang kemasukan setan lan­taran penyakit gila.” – QS Al-Baqarah (2): 275.

Dalam kenyataannya, orang yang memperoleh rizqi yang berkah, hidupnya terlihat tenang, senang, dan bahagia. Jika diberi lebih, mereka akan berbagi rizqi dengan orang lain. Karena itu, se­makin banyak rizqi, semakin banyak ke­baikan yang dilakukannya. Apabila mem­peroleh rizqi yang sedikit, mereka tetap mensyukuri dan ridha menerima­nya, bahkan merasa cukup, dan tetap melakukan amal kebaikan.

Allah berfirman, “Kata­kanlah (Mu­hammad), tidak sama yang buruk de­ngan yang baik, meskipun ba­nyak yang buruk itu mena­rik hatimu. Maka bertaq­walah kepada Allah, wahai orang-orang ber­akal, agar kamu mendapat keberun­tungan.” – QS Al-Maidah (5): 100.

Rizqi yang berkah mes­ti dihasilkan dengan cara yang baik dan benar. Benar menurut Allah dan baik menurut manu­sia. Allah menghendaki agar kita makan, minum, berpakaian, dan bertempat ting­gal dari hasil yang baik, sebagaimana firman Allah, “Ma­kan­lah dari makanan yang baik yang telah Kami berikan ke­padamu.” – QS Al-Baqarah (2): 72.

Sebaliknya, rizqi yang haram akan berdampak tidak baik pada diri kita. Bahkan bukan hanya kepada kita, tetapi juga kepada anak keturunan kita. Ra­sulullah bersabda, “Setiap daging yang tumbuh dari perkara yang haram, api ne­raka yang layak baginya.”

Rizqi yang didapat dari jalan yang ti­dak benar tidak akan melahirkan kete­nangan dan kebahagian dalam kehidup­an manusia. Apabila dimakan, akan me­lahirkan sifat malas untuk beribadah. Ia menjadi orang yang senang berbuat keburukan, bersenang-senang, berfoya-foya, berleha-leha. Kesenangannya ter­batas pada kehidupan dunia saja, se­dangkan untuk akhirat tidak tersisa apa-apa. Dan di akhirat kelak ia akan celaka.

Hisab yang terberat di akhirat adalah hisab yang erat kaitannya dengan harta atau rizqi. Karena di akhirat akan ditanya dari mana rizqi itu didapat dan ke mana dipergunakan. Apabila rizqi kita dapat dari jalan yang benar dan digunakan ke jalan yang benar pula, kita akan selamat.

Namun, apabila rizqi diperoleh de­ngan cara yang tidak benar, walaupun di­gunakan pada jalan yang benar, tidak akan memberikan keselamatan bagi pe­miliknya. Kecuali yang bersangkutan te­lah melakukan taubat nasuha.

Demikian pula, apabila rizqi didapat dari  jalan yang benar, tetapi digunakan pada jalan tidak benar, tetap tidak mem­berikan keselamatan bagi pemiliknya.

Walhasil, untuk urusan rizqi, ada dua hal yang harus kita perhatikan. Yaitu cara mendapatkan dan mengeluarkan atau penggunaannya harus benar. De­ngan demikian, insya Allah, kita akan se­lamat di dunia dan akhirat.

Allah memperingatkan, “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik (halalan thayyiban) dari apa yang ada di bumi, dan janganlah kamu mengikuti lang­­kah-langkah setan. Karena sesung­guh­nya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” – QS Al-Baqarah (2): 168.

Bekerja dan berusaha adalah se­sua­tu yang sangat mulia. Bekerja haruslah didasari dengan niat ibadah, mencari karunia Allah. Rizqi yang baik adalah rizqi yang dihasilkan oleh diri sendiri, bukan rizqi hasil meminta-meminta atau memeras orang lain. Nabi bersabda, “Ti­dak ada makanan yang lebih baik untuk se­seorang daripada makanan yang di­hasilkan dari hasil pekerjaannya sendiri, dan sesungguhnya Nabi Daud makan dari hasil keringatnya sendiri.”

SB


Pasang iklan dilihat ribuan orang? klik > murah dan tepat sasaran">Serbuanads >> MURAH dan TEPAT SASARAN

Last Updated on Thursday, 29 November 2012 15:38
 

Add comment


Security code
Refresh