Saturday, 19 April 2014
Home Dunia Islam Sidogiri Membedah Agus Mustofa: Akhirat Memang Kekal
Sidogiri Membedah Agus Mustofa: Akhirat Memang Kekal PDF Print E-mail
Friday, 16 November 2012 16:08

www.majalah-alkisah.comSederet pemikiran kontroversial muncul pada buku-buku bertajuk serial diskusi tasawuf modern karya Agus Mustofa. Tapi hingga terbitnya serial yang ke-22, tak satu buku pun memberikan koreksi atau paling tidak pemikiran pembanding. Sampai kemudian, karya terbitan komunitas Pesantren Sidogiri hadir dan menunjukkan berbagai penyimpangan dari pemikiran Agus Mustofa secara utuh dan mantap.

 

 

Allah SWT berfirman, “(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya (di Padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah, Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa.” – QS Ibrahim: 48. Jadi, menurut Agus Mustofa, proses terjadinya alam akhirat akan digelar di bumi ini dan hal ini searah dengan pemahaman pada ayat, “Allah berfirman, ‘Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan’.” –QS Al-A’raf: 25.

Kehidupan akhirat yang terjadi di bumi ini berakhir dengan kehidupan manusia di surga dan neraka. Sedangkan surga dan neraka tidaklah kekal, sebab, “Ada­pun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain), sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.” – QS Hud: 108.

Allah SWT mengaitkan kekalnya surga dan neraka dengan kekekalan langit dan bumi, sementara langit dan bumi akan mengalami kehancuran. De­ngan demikian, surga dan neraka pun akan mengalami kehancuran. Agus Mustofa kemudian “merasionalisasi” ke­simpulannya mengenai ketidak-kekal­an akhirat lewat logika-logika sains yang ia bangun, seperti, “Langit pertama yang berdimensi tiga ini tidak bertepi, tapi terbatas oleh dimensi keempat. Dimensi keempat itulah yang merupakan titik tolak langit kedua. Begitu pula seterusnya untuk langit-langit berikutnya.” Lalu, “Surga dan neraka terletak di bumi ini pula, namun pada dimensi kesembilan.”

Selanjutnya, asumsi ini dikaitkan dengan “rekonstruksi” pemahaman ten­tang hari Kiamat. Secara “ilmiah”, dunia akan mengalami kiamat dua kali, yaitu kehancuran planet bumi dan kehancuran alam semesta. Ternyata, agama pun mengenal dua macam kiamat, yaitu kiamat shugra (kiamat kecil) dan kiamat kubra (kiamat besar). Kedua pemahaman ini sebenarnya sudah berjalan seiring. Kesimpulannya, kiamat kecil adalah hancurnya bumi, kiamat besar adalah hancurnya alam semesta.

Pada waktunya, bumi pun ditengge­lam­kan Allah SWT ke suatu wilayah yang penuh dengan batu komet di angkasa luas, dibombardir jutaan batu-batu ang­kasa, dan akan berguncang sangat dah­syat, bahkan sampai terjungkir balik di­serbu badai berbatu. Dasarnya, “Apakah kamu merasa aman terhadap Allah, yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan men­jungkirbalikkan bumi bersama kamu, se­hingga dengan tiba-tiba bumi itu bergun­cang? Atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah, yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan menge­tahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku? – QS Al-Mulk: 16-17.

Menurutnya lagi, berita ini dibenarkan ilmu astronomi, bahwa secara alamiah suatu ketika bumi akan mengalami pe­ristiwa tersebut. Seorang ilmuwan Be­landa memperkirakan, beberapa ribu tahun lagi bumi akan memasuki suatu wilayah berkabut di luar tata surya yang berisi jutaan komet. Wilayah yang sangat luas itu diberi nama Oort, sesuai nama penemunya.

Kehancuran pada saat itu merupakan mekanisme terjadinya kiamat kecil. Se­telah itu, lambat laun bumi akan kembali pada keadaan semula, bahkan menjadi lebih baik, dan inilah yang disebut ke­hidupan fase akhirat. Diperkirakan, fase ini berlangsung selama 15 miliar tahun. Baru kemudian terjadilah kiamat besar.

Allah SWT berfirman, “(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagaimana menggulung lembaran-lembaran kertas, sebagaimana Kami telah memulai pen­cip­taan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati. Sesungguhnya Kami-lah yang akan melaksanakannya. – QS Al-Anbiya’: 104.

Allah terus menggulung alam se­mes­ta, bergerak menuju pusatnya. Ruang dan waktu terus mengecil, mengecil, dan mengecil. Sekitar 18 miliar tahun dari sekarang, alam semesta akan lenyap kembali seperti awal mulanya. Yang ada hanyalah Allah SWT.

Demikian pandangan Agus Mustofa tentang tidak kekalnya akhirat. Sebagai penutup, ia memperkukuh pendapat lenyapnya alam semesta pasca-“periode akhirat” ini dengan ayat, “Janganlah kamu sembah, di samping (menyembah) Allah, Tuhan apa pun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melain­kan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nya-lah segala pe­nentuan, dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” – QS Al-Qash­shash: 88.

Sebuah pertanyaan “filosofis” pun diajukan Agus Mustofa, “Kalau kita masih juga ragu untuk mengatakan bahwa alam akhirat itu tidak kekal, atau dengan kata lain masih juga berpendapat bahwa akhirat adalah kekal adanya, marilah kita melakukan tes terakhir, yaitu menguji pendapat tersebut dengan pertanyaan berikut ini, ‘Kekal manakah alam akhirat dengan Allah?’

Pertanyaan tersebut memaksa kita untuk memilih salah satu. Ini konsekuen dengan pembahasan kita sebelumnya, bahwa Allah bukanlah akhirat, dan akhirat bukanlah Allah…. Maka jawaban kita cuma satu, yaitu: Pastilah Allah lebih kekal.”

Sebagaimana dinyatakan Agus Mus­tofa dalam tulisannya, “kajian mendalam” inilah yang membuatnya “sadar” dari ke­yakinan semula. Ia mengatakan, “Awal­nya saya mengira akhirat itu kekal; tapi setelah melakukan kajian yang menda­lam terhadap ayat-ayat yang terkait de­ngan kekekalan akhirat itu, saya malah memperoleh kesimpulan sebaliknya. Ee, ‘ternyata’ akhirat itu tidak kekal!”

Kiamat Shugra dan Kiamat Kubra

Pemahaman Agus Mustofa di atas tentang tidak kekalnya akhirat termuat dalam karyanya, Ternyata Akhirat Tidak Kekal, salah satu karya dari rangkaian buku karyanya yang ia namakan sebagai “serial diskusi tasawuf modern”.

Banyak pihak menilai, pandangan-pandangannya tentang sejumlah hal yang kemudian diterbitkan lewat buku serial tersebut menyimpang dari aqidah yang diajarkan para ulama salafush shalih dan diyakini umat Islam sejak dulu sampai sekarang. Namun, hingga ditulis­nya serial ke-22, tak seorang pun memberikan ko­reksi atau paling tidak pemikiran pemban­ding dalam sebuah buku secara spesifik untuk beberapa tema krusial yang di­angkat Agus Mustofa. Kalaupun ada tu­lisan yang menanggapi, kebanyakan masih bersifat sporadis, di internet misal­nya, atau hanya ditulis dalam forum-forum diskusi atau tulisan-tulisan pendek, yang tentu saja tidak banyak berkesempatan memaparkan jawaban-jawaban mende­tail, dengan dalil-dalil yang lengkap dan mantap. Sampai kemudian terbitlah buku Menelaah Pemikiran Agus Mustofa, terbitan Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur.

Dengan telaten dan seksama, penyu­sun buku itu mengurai ayat demi ayat Al-Quran di atas, yang dijadikan argumen­tasi oleh Agus Mustofa lewat penafsiran pribadinya, dengan penafsiran yang di­rujuk pada pendapat para ulama yang lurus dan dapat dipertanggungjawabkan. Berikut sebagian petikannya:

Secara tekstual, istilah kiamat shugra dan kiamat kubra tidak tercantum dalam Al-Quran dan hadits. Karenanya, Agus Mustofa kemudian memunculkan pema­haman pribadinya mengenai kiamat kecil dan kiamat besar, bahwa kiamat kecil adalah kehancuran planet bumi dan kiamat besar adalah kehancuran alam semesta.

Kedua istilah itu sebenarnya merupa­kan ungkapan para ulama dalam menaf­sirkan Al-Quran dan hadits, di mana para ulama mengistilahkan kematian dengan “kiamat shugra” dan hari Kiamat sebagai “kiamat kubra”. Dalam hadits, misalnya, terdapat penggunaan kata kiamat atau yang searti, seperti sa’ah, sebagai makna kematian.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Aisyah RA, ia berkata, “Orang-orang Arab pe­dalaman yang memiliki tabiat kasar men­datangi Nabi SAW, lalu mereka bertanya kepada beliau mengenai waktu Kiamat. Lalu Nabi SAW melihat kepada orang yang paling muda, lalu bersabda, ‘Yang paling muda ini hidup tidak sampai tua, kalian sudah menemui kiamat kalian semua (sa’atukum)’.”

Hisyam berkata, “Kiamat kalian se­mua bermakna kematian kalian semua.” Hadits yang sama juga diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahih-nya.

Hadits di atas, dan pada banyak ha­dits lainnya, secara eksplisit menjelaskan, Rasulullah SAW menyebut kematian se­bagai sa’ah atau qiyamah. Artinya, orang yang meninggal atau menemui ajalnya, berarti kiamat telah terjadi padanya.

Dari sinilah kemudian para ulama me­munculkan istilah kiamat shugra, atau kiamat kecil. Sedangkan kiamat yang se­sungguhnya, kiamat yang menghancur­kan seluruh alam semesta, yang selan­jutnya episode akhirat digelar, diistilahkan para ulama sebagai kiamat kubra, atau kiamat besar.

Sehingga, QS Ibrahim: 48 tidak dapat dipahami sebagai proses terjadinya kia­mat kecil, tapi justru menjelaskan kiamat besar. Sebab, ayat tersebut tidak menje­laskan terjadinya kematian seseorang, yang berarti kiamat kecil. Demikian pula semua ayat Al-Quran yang menjelaskan proses terjadinya hari Kiamat, berarti memaparkan peristiwa kiamat besar. Kiamat kecil versi Agus Mustofa sama sekali tidak ada dan tidak pernah dikenal dalam kamus ilmu-ilmu keislaman.

Penggantian Bumi dan Langit

Berkenaan dengan penggantian bumi dan langit dalam proses terjadinya hari Kiamat (QS Ibrahim: 48), sebuah hadits shahih riwayat dari Imam Muslim menye­butkan, “…. Orang Yahudi itu berkata, ‘Saya datang kemari untuk bertanya kepadamu.’

Kemudian Rasulullah SAW berkata kepadanya, ‘Akankah kamu mendapat­kan suatu manfaat jika aku ceritakan ke­padamu?’

Si Yahudi berkata, ‘Saya akan men­dengarkan dengan baik.’

Kemudian Rasulullah SAW memukul tanah dengan kayu yang beliau pegang, lalu bersabda, ‘Bertanyalah!’

Lalu si Yahudi berkata, ‘Di manakah manusia berada ketika bumi dan langit diganti dengan bumi dan langit yang lain?’

Rasulullah SAW bersabda, ‘Mereka berada dalam kegelapan di bawah jem­batan (jisr)’.”

Dalam riwayat Muslim lainnya, Sahl bin Sa’d mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Pada hari Kiamat, orang-orang digiring dan dikum­pulkan di atas bumi putih kemerahan, seperti roti yang bersih. Di bumi itu tidak ada tanda-tanda serta bangunan apa pun’.” Hadits terakhir ini juga diriwayatkan Al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya.

Dari kedua hadits itu saja sudah dapat diambil pengertian bahwa “penggantian bumi” seperti diinformasikan dalam QS Ibrahim: 48 bukan semacam recovery atau perbaikan bumi (yang sangat lama, memakan waktu dua hingga tiga miliar tahun), hingga kondisi bumi sangat ideal untuk kehidupan selanjutnya, seperti dipaparkan Agus Mustofa.

Hadits pertama menjelaskan, pergan­tian bumi dan langit merupakan proses awal alam akhirat. Saat itu manusia su­dah dibangkitkan dari alam kubur dan digiring menuju Padang Mahsyar. Ka­renanya, Rasulullah SAW menjelaskan, pada saat bumi dan langit diganti, manu­sia sedang berada di bawah jisr atau Shirath (jembatan menuju surga atau neraka).

Sedangkan pada hadits kedua, di­je­laskan bentuk, keadaan, atau sifat-sifat bumi yang menggantikan bumi sebe­lum­nya. Bumi baru itu sama sekali tidak me­mi­liki tanda-tanda yang ada pada bumi se­belumnya. Bumi itu hanya sementara, ti­dak selamanya, dan setelah itu semua ma­nusia akan melewati Shirath, menuju sur­ga atau neraka, alam akhirat yang kekal.

Ancaman di Dunia

Untuk mendapatkan kejelasan me­nge­nai maksud suatu ayat, kita perlu me­rujuk keserasian antara satu ayat dan ayat yang lain. Istilahnya, munasabatul ayat. Begitu pula untuk memahami mak­na yang terkandung dalam QS Al-Mulk: 16-17, munasabah (kaitan) dengan ayat-ayat sebelumnya harus diperhatikan.

Pada ayat 6-11, Allah SWT menjelas­kan ancaman siksa yang pedih bagi orang-orang kafir, seraya menjelaskan sifat-sifat neraka yang amat menakutkan. Kemudian pada ayat 12-15, Allah SWT menjanjikan ampunan kepada orang-orang mukmin, dan kembali mengancam orang-orang yang ingkar terhadap-Nya.

Selanjutnya, pada ayat 16-17 itu Allah SWT mengajukan bukti lain akan ancam­an yang ditujukan kepada orang-orang kafir, dengan seribu satu kemungkinan siksaan yang dapat ditimpakan, seperti menenggelamkan kota ke dalam bumi, menghujani dengan batu, mengirimkan angin badai yang menghancurkan, dan seterusnya, sebagaimana pernah ditim­pakan kepada umat-umat terdahulu, se­perti kaum ‘Ad, kaum Tsamud, kaum Nabi Nuh AS, atau pada Fir’aun dan bala ten­taranya.

Kalimat-kalimat pertanyaan yang ada pada ayat tersebut berbentuk pertanyaan pemberitahuan (ikhbar) dan ancaman (wa’id). Itu artinya Allah SWT amat mam­pu menyiksa orang-orang yang kafir ke­pada-Nya dan menyekutukan-Nya di dunia. Karenanya, Ibnu Abbas, sahabat Nabi SAW yang termasyhur sebagai ahli tafsir, menafsirkan kalimat pertanyaan pada ayat tersebut dengan, “Apakah kalian merasa aman terhadap Allah, yang (berkuasa) di langit jika kalian mendur­hakai-Nya?”

Jadi, siksaan yang dimaksud pada ayat itu adalah siksaan di dunia, seperti yang pernah ditimpakan kepada umat-umat nabi terdahulu. Bukan siksaan akhirat atau datangnya hari Kiamat. Keterangan ini juga memiliki kesesuaian dengan ayat, “Katakanlah, ‘Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan adzab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu’.” – QS Al-An’am: 65.

Yang aneh, Agus Mustofa berupaya menggiring pemahaman QS Al-Mulk: 16-17 yang menjelaskan (ancaman) siksaan di dunia itu sebagai hari Kiamat, tapi dalam buku lainnya, Tak Ada Azab Kubur, ia menjelaskan QS Al-An’am: 65, yang maknanya senada dengan QS Al-Mulk: 16-17, sebagai siksaan di dunia, bukan sebagai peristiwa terjadinya hari Kiamat.

Beberapa ayat lainnya juga menje­las­kan adanya fenomena siksaan di dunia, seperti pada surah Al-Qashshash ayat 81 atau surah Al-Qamar ayat 34, yang di dalamnya terdapat kalimat “angin yang membawa batu-batu (yang menimpa me­reka)”.

Namun demikian, apakah ayat-ayat yang senada dengan QS Al-Mulk: 16-17 itu menunjukkan terjadinya kiamat? Me­nyimak penjelasan di atas, jelas tidak. Namun jika tetap dipahami demikian, ber­arti telah terjadi puluhan bahkan ratusan kiamat kecil (versi Agus Mustofa) di muka bumi, sesuatu yang justru bertentangan dengan pandangan Agus Mustofa sendiri bahwa kiamat hanya terjadi dua kali, yaitu kiamat kecil dan kiamat besar.

Akhirat Ada di Bumi?

Mengenai QS Al-A’raf: 25, sesung­guhnya ayat tersebut sama sekali tidak memberikan dukungan terhadap asumsi bahwa akhirat terjadi di muka bumi. Ayat itu justru mengukuhkan keyakinan umat Islam selama ini bahwa alam akhirat ti­daklah digelar di bumi tempat kita berpijak sekarang.

Menafsirkan ayat tersebut dengan tidak disertai pembacaan Al-Quran se­cara utuh dan menyeluruh membuat pe­mahaman terhadap akhirat, yang dikata­kan terjadi di muka bumi, menjadi timpang dan melenceng jauh dari yang dimaksud Al-Quran itu sendiri.

Pakar tafsir kenamaan, Abu Hayyan Al-Andalusi, menjelaskan, QS Al-A’raf: 25 merupakan penafsiran dari ayat sebelum­nya. Karenanya, coba simak kembali ayat tersebut dengan memperhatikan juga bunyi ayat sebelumnya, “Allah berfirman, ‘Turunlah kamu sekalian, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehi­dupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan’.”

Bentuk kalimat dengan kata qala di awal ayat 25, yang tidak menggunakan wau athaf (wa qala), dalam tata bahasa Arab mengindikasikan bahwa ayat 25 itu memang tafsir dari ayat 24. Pada ayat 24 tersebut, kalimat “sampai waktu yang telah ditentukan” secara tegas memberi­kan pemahaman bahwa dunia, sebagai tempat tinggal dan tempat bersenang-senang bagi manusia itu, dibatasi hingga terjadinya hari Kiamat.

Redaksi ayat 25 itu juga memberikan pemahaman yang lugas, setelah dibang­kitkan manusia akan dikeluarkan dari bumi menuju alam akhirat. Karena itulah re­daksi ayat tersebut berbunyi, “fiha tahyawna wa fiha tamutuna wa minha tukhrajun” – Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kalian akan dibangkitkan. Sedang­kan bila manusia dibangkitkan di bumi dan kemudian tetap tinggal di bumi, se­harusnya bagian akhir redaksi ayat ter­sebut berbunyi, “wa fiha tukhrajun” – dan di bumi itu pula kalian akan dibangkitkan.

Pergantian Siang dan Malam

Dalam QS Maryam: 62, Allah SWT ber­firman, “Mereka tidak mendengar per­kataan yang tak berguna di dalam surga, kecuali ucapan salam. Bagi mereka rizqinya di surga itu tiap-tiap pagi dan petang.”

Dari kata-kata “pagi dan petang” pada ayat di atas, Agus Mustofa menyimpulkan bahwa di surga juga terjadi proses per­gantian siang dan malam. Menurutnya, hal ini merupakan bagian dari penjelasan bahwa surga dan neraka ada di bumi.

Kesimpulan seperti ini tidak akan ter­jadi jika beberapa ayat terkait dibaca se­cara utuh. Misalnya, perhatikan makna ayat berikut, “Mereka tidak merasakan di dalamnya matahari dan tidak pula dingin yang bersengatan.” – QS Al-Insan: 13.

Bunyi ayat di atas, serta petunjuk dari sejumlah hadits shahih, menjadi penje­lasan para ulama yang bersepakat bahwa di surga dan neraka tidak terjadi proses pergantian siang dan malam. Di surga, yang ada hanyalah cahaya yang mene­rangi penduduknya.

Kata-kata “pagi dan petang” pada ayat tersebut merupakan ungkapan be­laka terhadap makna “terus-menerus”. Maksudnya, rizqi di surga yang tak ada putus-putusnya, sebagaimana bila orang Arab mengatakan, “Ana ushbihu wa umsi fi dzikrika” – Saya mengingatmu pagi dan petang, itu artinya “Ana fi dzikrika da-iman.” – Saya selalu mengingatmu. Bu­kan berarti “Saya hanya ingat kamu di waktu pagi dan petang.”

Kesimpulan seperti yang disebutkan Agus Mustofa juga tak ‘kan terjadi jika bacaannya luas, terutama pada khaza­nah berharga para ulama tempo dulu. Tak perlu ada perasaan “menemukan sesuatu yang baru” di sini. Sebab, masalah ini sudah dijelaskan dengan sejelas-jelas­nya, bahkan sejak abad pertama Islam dilahirkan.

Saat menjelaskan ayat tentang pe­ngertian pagi dan petang, Tafsir Al-Alusi menyitir sebuah hadits yang menyebut­kan, “Di surga tidak ada malam, yang ada adalah cahaya dan sinar.” Disebutkan pula komentar Imam Qatadah mengenai QS Maryam: 62, “Di dalam surga ada dua waktu, pagi dan sore, di dalamnya tidak ada siang dan malam, yang ada hanyalah sinar dan cahaya.”

Dalam Zad al-Masir disebutkan, Al-Hasan, cucunda Rasulullah SAW, me­ngatakan, “Sudah masyhur di kalangan Arab bahwa suasana yang paling menye­nangkan adalah pagi dan petang. Kemu­dian Allah SWT menjelaskan bahwa di surga dan neraka akan terasakan sua­sana seperti pagi dan petang itu. Penye­butan pagi dan petang itu bukan berarti di surga ada siang dan malam akibat perputaran matahari dan rembulan.”

Lebih tegas lagi, Al-Baghawi dalam kitab tafsirnya mengatakan bahwa ke­simpulan di surga tidak ada pergantian siang dan malam merupakan kesepakat­an ahli tafsir. “Para ahli tafsir berkata, ‘Di surga tidak ada malam yang dapat mem­bedakan pagi dan petang, akan tetapi mereka (penduduk surga) berada dalam cahaya selamanya’.”

Syaikhul Azhar Sayyid Muhammad Ath-Thanthawi dalam tafsirnya, Al-Wasith, mengatakan, “Kata bukrah (pagi) dan ‘asyiyyah (petang) merupakan pen­jelasan atas kekalnya rizqi yang diberikan kepada penduduk surga tanpa ada putus-putusnya, sebab di surga tidak ada siang dan malam, serta tidak ada pagi dan pe­tang.”

Esensial dan Aksidental

Mengenai QS Hud: 108, bisakah ayat Al-Quran itu dijadikan dalil ketidakkekalan akhirat? Dalam kitabnya, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Quran, Imam Thabari menaf­sirkan kalimat ma damatis samawatu wal ardhu (selama ada langit dan bumi) pada ayat itu dengan abadan (selamanya). Di samping pernyataan-pernyataan lugas dari ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits Nabi SAW (mengenai kekalnya akhirat), ungkapan kalimat tersebut seirama dengan tradisi berbahasa, gaya bahasa, yang berlaku di kalangan masyarakat Arab.

Kebiasaan orang Arab jika ingin meng­ungkapkan arti kekekalan, mereka akan berkata, misalnya, “Hadza da-im, dawamas-samawati wal-ardhi” – Ini kekal, selama ada langit dan bumi, atau “Huwa baqin makhtilafal-laylu wan naharu.” – Ia kekal, selama ada pergantian siang dan malam. Pernyataan Ath-Thabari ini dise­pakati para ahli tafsir lainnya, seperti Ibnu Katsir, Al-Qurthubi, Al-Baghawi, Al-Alusi, Imam Abu Hayyan, Asy-Syaukani, dan lainnya.

Mengenai kalimat illa ma sya’a rabbuka –kecuali jika Tuhanmu meng­hendaki (yang lain), terdapat beberapa penakwilan di kalangan ahli hadits. Pe­nakwilan di sini harus dilakukan. Jika ti­dak, akan muncul kesan ayat ini berten­tangan dengan ayat-ayat yang lain, pada­hal Al-Quran sudah pasti terbebas dari kontradiksi.

Ibnu Katsir mengatakan, makna pe­ngecualian dari kata illa (kecuali) di sini adalah bahwa kekekalan penghuni surga, dengan aneka fasilitas istimewa dan ber­juta kenikmatan yang mereka rasakan di dalamnya, bukan kekekalan yang wajib secara esensial (dzatiy), akan tetapi itu masih tergantung kehendak Allah SWT. Namun perlu diperhatikan, kata-kata “masih tergantung kehendak Allah SWT” bukan berarti meniadakan kekekalan akhirat, sebab kenyataannya Allah SWT menegaskan dalam banyak ayat Al-Quran bahwa akhirat itu memang dikekal­kan oleh-Nya.

Di sinilah terlihat kekeliruan fatal Agus Mustofa dan kerancuan metodologi ber­pikirnya saat ia membangun pertanyaan yang mengkontradiksikan kekekalan Allah SWT dengan kekekalan akhirat, “Kekal manakah alam akhirat dengan Allah SWT?”

Jelas, kekalnya Allah SWT adalah esensial (dzatiy), karena Dzat Allah SWT bukan benda, jadi tak ‘kan pernah meng­alami perubahan apa pun selama-lama­nya. Sedangkan selain Allah SWT adalah aksidental (aridhi-badali), yakni benda-benda surga atau neraka bisa mengalami perubahan atau pergantian, sebagai­mana diisyaratkan dalam ayat, “Sesung­guhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masuk­kan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit me­reka dengan kulit yang lain, supaya me­reka merasakan adzab. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” – QS An-Nisa’: 56.

Ayat itu menunjukkan bahwa, kendati surga dan neraka dikekalkan Allah SWT, kekekalannya tidak esensial, terbukti unsur-unsurnya masih mengalami peru­bahan-perubahan. Dan ini berbeda de­ngan kekekalan Allah SWT.

Selain itu, kekalnya Allah SWT adalah wajib secara akal dan mustahil akan berakhir atau mengalami perubahan atau pergantian. Sedangkan kekalnya makh­luk secara akal adalah tidak wajib. Me­nurut akal, makhluk bisa kekal, bisa juga tidak, tergantung kehendak Allah SWT. Bila Allah menghendaki kekal, seperti halnya akhirat, ia menjadi kekal. Dan bila Dia tidak menghendaki kekal, seperti dunia dan seluruh isinya, ia tidak akan kekal. Demikianlah arti sesungguhnya dari penggalan ayat illa ma sya’a rabbuka – kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain).

Namun demikian, secara realita (bu­kan secara akal), akhirat adalah kekal abadi, karena Allah SWT menghen­daki­nya kekal tanpa batas, sebagaimana ter­kandung dalam firman Allah SWT selan­jutnya, “atha-an ghaira majdzudz” – se­bagai karunia yang tiada putus-putusnya.

Dalam hal ini, ilmu kalam (ilmu theologi Islam) menerangkan, kekalnya akhirat adalah mungkin secara akal, dan kenyataannya memang demikian (ja‘iz ‘aqlan wa waqi’ syar’an), sedangkan ketidak-kekalan akhirat adalah mungkin secara akal, namun kenyataannya tidak demikian (ja‘iz ‘aqlan wa ghairu waqi’ syar’an). Adapun kekalnya Allah SWT wajib dan terjadi secara akal dan kenyata­an (wajib wa waqi’ ‘aqlan wa syar’an), dan ketidak-kekalan Allah SWT adalah tidak mungkin secara akal dan kenyataan (mus­tahil ‘aqlan wa syar’an).

Kekalnya Allah SWT dan kekalnya akhirat hanya sama dari segi pengung­kapan lahiriah bahasanya, sedangkan esen­sinya jelas berbeda. Jadi, meski Allah SWT mengungkapkan kekekalan surga dan neraka (alam akhirat) beserta seluruh penghuninya dengan kata-kata khalidina (yang kekal, bentuk jamak), bukan berarti secara prinsip kekekalan Allah SWT dan akhirat adalah sama.

Pendapat Quraish Shihab

Dalam keterangannya, Agus Mustofa menjadikan penafsiran Dr. Quraish Shihab terhadap QS Hud: 108 sebagai dalil ketidak-kekalan akhirat. Ternyata, dalam Tafsir Al-Mishbah-nya, Shihab justru mengamini pendapat para ulama tentang kekalnya akhirat. Pada juz 6 halaman 339, Shihab menyatakan, “Ba­nyak ulama memahami kata tersebut se­bagai ungkapan tentang tidak berubah­nya sesuatu.

Jika Anda mendengar kata-kata ‘nasi telah menjadi bubur’, Anda tidak perlu membayangkan nasi dan bubur. Seketika itu juga Anda memahaminya sebagai ungkapan yang berarti bahwa sesuatu telah terjadi dan tidak dapat diubah atau diperbaiki lagi.

Demikian juga dengan ungkapan ‘se­lama ada langit dan bumi’, Anda tidak perlu memahaminya dalam arti langit apa pun dan bumi apa pun. Sebagai ungkap­an, ia dipahami dalam arti selama-lama­nya. Ka­rena itu, penggalan ini mengukuh­kan arti khalidina yang disebut sebelum­nya.”

Pada halaman selanjutnya ia menu­liskan, “Pengecualian pada ayat yang berbicara tentang penghuni surga ini juga menjadi bahasan panjang ulama; karena jika pengecualian tersebut dipahami se­bagaimana apa adanya, maka ini mem­beri kesan bahwa ada orang-orang yang masuk ke surga yang tidak kekal di da­lamnya. Pemahaman semacam ini ber­tentangan dengan sekian banyak teks keagamaan, sehingga mengantar para ulama untuk sepakat menyatakan, ‘siapa yang telah masuk ke surga, maka ia tidak akan keluar lagi’.”

Pada akhirnya, Shihab menyimpul­kan, “Hemat penulis, pendapat yang ter­baik adalah yang memahami pengecua­lian pada ayat ini sebagai berfungsi me­nunjukkan kuasa Allah SWT yang mutlak. Memang Allah SWT telah menetapkan atas diri-Nya mengekalkan di dalam sur­ga siapa yang taat kepada-Nya. Ketetap­an itu tidak akan berubah. Namun jika Dia hendak mengubahnya, maka ini pun da­lam wewenang-Nya, karena tidak ada yang wajib atas Allah SWT, tidak ada juga yang memaksa-Nya untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.

Sebagai ilustrasi, kita dapat berkata bahwa seorang pemilik toko yang telah menetapkan untuk membuka tokonya setiap hari pada pukul 7.00 pagi, dapat saja membukanya pada jam yang lain. Penetapannya bahwa dia akan membuka pada pukul 7.00 memang selalu ditepati­nya, tetapi itu sama sekali bukan berarti telah mencabut wewenangnya atau me­ngurangi kemampuannya untuk membu­ka atau menutup tokonya sendiri sesuai dengan kehendak dan kebijaksanaan­nya.”

Mereka Kekal di Dalamnya

Kesepakatan ulama mengenai keke­kalan akhirat didasarkan pada teks-teks yang jelas dan lugas dari Al-Quran dan hadits, sehingga menjadi dalil qath’i (pas­ti) dalam agama. Keyakinan akan kekal­nya akhirat tersebut jauh dari tuduhan spekulatif yang dilontarkan Agus Mustofa, bahwa pendapat kekalnya akhirat hanya didasarkan pada alasan-alasan psiko­logis yang manusiawi.

Dalam bukunya Tak Ada Azab Kubur, halaman 77, Agus Mustofa mengatakan, “Jadi, ketidakrelaan mereka akan lenyap­nya akhirat itu lebih dikarenakan ketidak­relaan dirinya bakal ikut lenyap. Ini me­mang manusiawi. Kita ingin tetap eksis, karena sebenarnyalah kita ‘ketularan’ sifat-sifat Allah melalui ruh yang ditiupkan-Nya pada badan kita saat penciptaan. Di antaranya adalah sifat hidup dan berke­hendak. Sudah menjadi fitrah kita, bahwa kita ingin tetap hidup dan eksis serta tetap berkehendak. Kalau bisa tanpa batas.”

Sebenarnya, yang terjadi justru se­baliknya. Pernyataan bahwa akhirat tidak kekal itulah yang merupakan khayalan-khayalan psikologis, seperti banyak dijelaskan dalam Al-Quran mengenai keinginan orang-orang kafir yang telah disiksa. Mereka berangan-angan untuk tidak kekal, agar siksaan Allah SWT tidak abadi. Mereka tahu, mereka akan men­dapat siksaan yang kekal di neraka.

Allah SWT berfirman, “Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” – QS Al-Baqarah: 39.

Syaikh Al-Baidhawi dalam tafsirnya menjelaskan, sebesar apa pun nikmat bila dihantui dengan perasaan takut hi­lang, itu sangat menyusahkan dan dapat mengganggu kenikmatan itu sendiri. Syaikh Zadah Mushlihuddin Mustafa memberikan penjelasan tambahan, bah­wa, jika penduduk surga masih dihantui perasaan takut akan lenyapnya nikmat-nikmat yang mereka peroleh, penduduk surga akan tenggelam dalam samudera kesedihan dan kenistaan. Justru semakin besar suatu nikmat, semakin besar pula kekhawatiran hilangnya.

Allah SWT Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dia menghendaki keke­kalan surga beserta seluruh penghuni­nya. Mereka, hamba-hamba-Nya yang me­naati-Nya dan menjauhi larangan-Nya, akan hidup di surga tanpa batas akhir. “Dan orang-orang yang beriman dan beramal shalih, Kami tidak memi­kulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekadar kesanggupannya. Mereka itulah penghuni-penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya.” – QS Al-A’raf: 42.

 

Bermain Puzzle ala Agus Mustofa

www.majalah-alkisah.comMetode Puzzle. Begitulah saya menyebutnya. Sebuah cara pemahaman terhadap isi Al-Quran dengan mengutamakan kombinasi ayat-ayat. Saya memperlakukan ayat-ayat itu seperti potongan-potongan gam­bar dalam mainan anak-anak: puzzle.

Katakanlah ada sebuah gambar ga­jah dipotong-potong menjadi 20 petak. Kemudian diacak-acak. Lantas Anda di­suruh menata kembali gambar itu supaya membentuk gajah,” demikian penjelasan Agus Mustofa dalam buku serial diskusi tasawuf modern ke-19 karyanya yang berjudul Memahami Al-Quran dengan Metode Puzzle.

Dari penjelasan Agus Mustofa itu, metode puzzle yang ia maksud adalah menafsirkan ayat Al-Quran dengan ayat Al-Quran, atau tafsirul-Qur’an bil-Qur’an.

Benar, metode tafsirul-Qur’an bil-Qur’an menempati grade tertinggi dan merupakan cara terbaik dalam menafsir­kan Al-Quran. Namun kalau diamati, praktek tafsirul-Qur’an bil-Qur’an versi Agus Mustofa tidaklah sama dengan apa yang dikehendaki para ulama ahli tafsir.

Namanya metode, tentu harus meto­dologis. Sehingga, dalam konteks me­to­de menafsirkan Al-Quran secara tafsirul-Qur’an bil-Qur’an, juga harus didasarkan pada metodologinya yang baku. Tidak se­bagaimana yang dilakukan Agus Mus­tofa, yang, karena menilai agama ini ada­lah agama yang mudah, lalu mengumpul­kan sejumlah ayat, memadukannya, dan memahaminya berdasarkan asumsi dan rasio akal belaka.

 

Al-Quran bukan Koran

Untuk bisa sampai pada kesimpulan yang tepat dalam memahami informasi-informasi yang bersumber dari Al-Quran, tentu saja diperlukan pemahaman men­dalam terhadap kaidah-kaidah bahasa dan sastra Arab, tafsir Al-Quran, dan dengan mempertimbangkan pendapat para ulama ahli tafsir. Sebab, Al-Quran bukanlah koran, yang siapa saja bisa menafsirkan sesuai pikiran di benaknya.

Dalam Al-Quran, banyak terdapat pem­batasan makna atau perincian pen­jelasan di antara ayat-ayatnya. Contoh­nya, terkadang, suatu ayat menunjukkan keumuman arti (‘am), kemudian dibatasi oleh ayat yang lain (takhshish al-‘am). Terkadang, arti suatu ayat masih global (mujmal), kemudian diperinci oleh ayat yang lain (tafshil). Selain itu juga mesti dilihat petunjuk-petunjuk yang dimuncul­kan ayat, keterkaitan antara suatu ayat dan ayat yang mendahului atau ayat yang menyudahinya, dan sebagainya. Semua itu, lagi-lagi, memerlukan metodologi yang baku.

Jadi, metode tafsirul-Qur’an bil-Qur’an tidak semudah permainan puzzle, begitu mudahnya dan tanpa metodologi apa pun. Bila demikian halnya, pantas saja bila hasil yang didapat terlalu jauh dari maksud ayat yang sebenarnya.

Selain itu, kendati terdapat metodo­logi tafsirul-Qur’an bil-Qur’an, tidak lantas semua ayat Al-Quran bisa ditafsirkan de­ngan ayat lainnya. Terdapat sekian ba­nyak ayat Al-Quran yang penjelasan ter­perincinya tidak didapati dalam Al-Quran, tapi ada dalam hadits.

Contohnya, Al-Quran hanya meme­rin­tahkan, “Aqimush-shalah” (Dirikanlah shalat), tanpa menjabarkannya. Dengan bantuan hadits-hadits Nabi SAW, barulah diketahui bagaimana cara shalat yang benar. Begitu pula perintah puasa (QS 2:183), zakat (QS 4: 77), dan haji (QS 3: 97) dalam Al-Quran yang bersifat global. Haditslah yang kemudian memerinci dan menjelaskannya.

Karenanya, tafsirul-Qur’an bil-hadits (menafsirkan ayat Al-Quran dengan ke­terangan dari hadits Rasulullah SAW) me­rupakan sesuatu yang juga niscaya.

Mengulas pemaparan panjang lebar dari pemikiran Agus Mustofa, apalagi di­tambah dengan uraian penulis Menelaah Pemikiran Agus Mustofa, yang menang­gapi pemaparannya itu, yang juga pan­jang lebar, tentu butuh tempat yang luas. Karenanya, tulisan ini hanya mengutip se­bagian dari ungkapan pemikiran yang di­lontarkan Agus Mustofa, lalu diiringi ana­lisisnya berdasarkan buku Menelaah Pemikiran Agus Mustofa. Uraian lengkap­nya, tentu dapat Anda baca pada buku ter­sebut. Buku, yang secara khusus meng­kritisi, atau tepatnya mengkoreksi, pemikiran Agus Mustofa.

Menafikan Adzab Kubur

Pada buku Tak Ada Azab Kubur halaman 154-155, Agus Mustofa menulis, “Seluruh ayat-ayat yang terkait dengan barzakh, kubur, siksa, dan adzab, ternyata tidak satu pun yang menyinggung tentang adanya adzab kubur, alias siksa kubur. Sekali lagi kita menjadi merasa aneh. Kenapa peristiwa penting yang sudah di­anggap sebagai kebenaran ini tidak mun­cul dalam informasi Al-Quran. Lebih jauh, kalau kita berbicara tentang keimanan atau rukun iman, azab kubur juga tidak muncul menjadi salah satu rukun iman itu. Yang ditegaskan adalah Hari Kiamat dan Hari Akhir.”

Aneh, kata Agus Mustofa. Kita pun demikian, bahkan merasa, apa yang dikatakannya itu lebih aneh. Kita pantas bertanya-tanya, benarkah tak ada satu pun ayat Al-Quran yang menyinggung adanya adzab kubur?

Perlu dipahami, tidak semua perma­sa­lahan yang rujukan tegasnya tidak terdapat dalam Al-Quran, dengan serta merta menjadi ternafikan. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, betapa ba­nyak permasalahan yang rujukan tegas­nya tidak tercantum dalam Al-Quran te­tapi penjelasannya secara lugas diinfor­masikan lewat hadits Nabi SAW, yang juga harus diyakini kebenarannya.

Sebut saja misalnya QS Ibrahim: 27, “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” Para pakar tafsir dan ahli hadits menyatakan, ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan adzab kubur, lewat keterangan sejumlah hadits yang menjelaskan makna ayat itu. Di an­taranya, “Dari Al-Barra’ bin ‘Azib, Ra­sulullah SAW bersabda, ‘Seorang muslim jika ditanya (oleh Malaikat Munkar dan Nakir) di dalam kubur, ia akan ber­saksi bahwa tidak ada Tuhan melain­kan Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Maka itulah maksud firman Allah: Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat’.”

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, juga Abu Daud (4752), An-Nasa’i (2056), At-Tirmidzi (3411), Ibnu Majah (4410), Imam Ahmad (18980), Ibnu Hibban (232), Al-Hakim (1403), dan masih banyak yang lain. Berdasarkan informasi hadits di atas, amat jelas bahwa ayat ini terkait dengan adzab kubur.

Masih ada beberapa ayat lain yang menyinggung perihal adzab kubur. Simak QS At-Takatsur: 1-3, yang diperkuat hadits dari Sayyidina Ali KW, sebagai penjelas atas keterkaitannya dengan adzab kubur. Ini disampaikan secara lugas oleh pemuka ahli tafsir dan sejarah, Ath-Thabari, dalam kitab tafsirnya halaman 580. Begitu pula QS Thaha: 124, yang penjelasannya diberikan lewat informasi hadits dari Abu Hurairah RA sebagaimana disebutkan Tafsir Al-Lubab, karya Ibnu ‘Adil, halaman 114, serta oleh HR Ahmad (Al-Musnad No. 11642) dan Ibnu Hibban (Ash-Shahih juz 7 hlm. 392).

Informasi yang dibawa hadits-hadits Rasulullah SAW itu merupakan argumen­tasi dari sisi asbabun-nuzul ayat-ayat Al-Quran tersebut. Bahkan, terdapat bebe­rapa kitab yang secara khusus menghim­pun dalil-dalil tentang adzab kubur, se­perti kitab Itsbat ‘Adzab al-Qabr – me­mantapkan kebenaran adzab kubur, kar­ya Al-Baihaqi, dan Ahwal al-Qabr –kepanikan-kepanikan dalam kubur, karya Abul-Faraj Abdurrahman.

Untuk melengkapi akurasi data-data di atas, penulis buku Menelaah Pemikiran Agus Mustofa juga menyebutkan hadits-hadits yang berkenaan dengan adzab kubur yang bersumber dari Al-Kutub as-Sittah (enam kitab induk hadits), masing-masing satu hadits, meski sesungguhnya pada setiap kitab hadits yang enam itu terdapat puluhan sampai ratusan dalil yang terkait adzab kubur. Enam hadits berkualifikasi shahih yang disebutkan itu diambil dari Shahih Al-Bukhari juz 1 hlm. 463, Shahih Muslim juz 8 hlm. 160, Sunan Abi Daud juz 2 hlm. 652, Sunan An-Nasa’i juz 4 hlm. 376, Sunan At-Tirmidzi juz 6 hlm. 423, dan Sunan Ibnu Majah juz 1 hlm. 449.

Pertanyaannya, apakah sekian ba­nyak informasi yang dibawa hadits-hadits shahih ini yang kemudian diamini sege­nap pakar tafsir dan ahli hadits sebagai dalil adzab kubur dapat dimentahkan be­gitu saja dengan pernyataan-pernyataan Agus Mustofa, yang kerap meragukan kebenaran hadits Nabi? Jelas tidak. Pen­jelasan padat hujjah yang lahir dari kom­binasi antara kepakaran, keikhlasan, dan kehati-hatian yang luar biasa dari para ulama salaf penjaga benteng sunnah Nabi dari zaman ke zaman tentu tak se­banding dengan pendapat-pendapat spe­kulatif yang berdasarkan penafsiran atas terjemahan Al-Quran berbahasa Indone­sia semata.

Sampai di sini, jelaslah bagi kita, se­jumlah ayat Al-Quran memang diturunkan dalam rangka menjelaskan kebenaran adanya adzab kubur. Jelas pula, kesim­pulan “tidak ada adzab kubur” dari Agus Mustofa bukan karena ketiadaan infor­masi terkait adzab kubur dalam Al-Quran, melainkan lebih didasarkan pada eksplo­rasi yang dilakukan Agus Mustofa sendiri terhadap Al-Quran yang ternyata tak ia temukan.

Selain itu, dugaannya bahwa adzab kubur bukan bagian dari rukun iman, jelas bertolak belakang dengan aqidah Islam. Dugaan tersebut pada dasarnya berang­kat dari ketidak-pahamannya terhadap pengertian rukun-rukun iman itu sendiri. Dugaan itu juga menyiratkan tendensinya untuk menggiring pemahaman khalayak agar tak terlalu ambil pusing dengan masalah percaya atau tidak percaya adzab kubur. “Sekalipun misalnya keliru, tenang saja, toh itu bukan bagian dari rukun iman.”

Kebenaran adzab kubur adalah bagi­an dari aqidah yang harus diyakini, sebab keyakinan ini didasarkan pada ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits shahih. Se­hingga, tidak percaya adzab kubur, sama artinya mengingkari Kitabullah (rukun iman yang ketiga) dan mengingkari ha­dits-hadits yang dibawa Rasulullah. De­ngan kata lain, tidak membenarkan dan meyakini dengan sebenarnya bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah SWT (rukun iman yang keempat).

Ketiadaan Syafa’at

“Kebanyakan kita sembrono, dengan mengatakan bahwa setiap orang yang sudah ‘mengaku’ Islam pasti masuk sur­ga. Meskipun masuk neraka, suatu ketika nanti akan dientas juga untuk masuk surga. Sekali lagi ayat tentang itu tidak ada di dalam Al-Quran…

Siapa bilang membaca syahadat men­jadi jaminan masuk surga? Orang-orang munafik pada zaman Rasulullah SAW itu semuanya membaca syahadat untuk menipu umat Islam. Mereka dian­cam masuk neraka. Lebih jelas lagi, Firaun itu matinya membaca syahadat, mengakui Allah sebagai Tuhan. Tetapi tetap saja dia masuk neraka,” demikian kata Agus Mustofa pada buku Tak Ada Azab Kubur, hlm. 250-251.

Sesungguhnya, Al-Quran sendiri yang menjelaskan pengentasan orang-orang mukmin durhaka dari neraka, lalu dimasukkan ke surga, di antaranya, “Ada­pun orang-orang yang celaka, (tempat­nya) di dalam neraka, di dalamnya me­reka mengeluarkan dan menarik napas (dengan merintih). Mereka kekal di da­lamnya selama ada langit dan bumi, ke­cuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pe­laksana terhadap apa yang Dia kehen­daki.” – QS Hud: 106-107.

Banyak hadits yang memperkuat dan menjelaskan hal itu, di antaranya, “(Ke­tika) ahli surga telah masuk surga, dan ahli neraka telah masuk neraka, kemu­dian Allah SWT berfirman, ‘Keluarkanlah orang yang masih ada iman dalam hati­nya, kendati hanya seberat biji sawi.’ Ke­mudian mereka dikeluarkan dari neraka dalam keadaan sudah gosong, lalu me­reka dilemparkan ke dalam sungai (yang bernama) Haya atau Hayat, kemudian me­reka tumbuh sempurna kembali se­perti biji yang ada di pinggir jurang.” Hadits ini terdapat dalam Shahih Al-Bukhari juz 1 hlm. 46, hadits senada juga bisa dilihat pada Shahih Muslim juz 1 hlm. 117, Sunan Abi Daud juz 2 hlm. 457, Musnad Ahmad No. 11487, Shahih Ibn Hibban No. 183, dan pada beberapa sum­ber lainnya.

Berlandaskan penjelasan dari berba­gai hadits Nabi SAW, para ahli tafsir men­jelaskan, pengecualian dalam QS Hud: 106-107 adalah bagi ahli tauhid (orang-orang yang memiliki keimanan). Artinya, meskipun mereka dimasukkan ke dalam neraka, adalah hal yang mungkin bila kemudian dientas Allah SWT lewat sya­fa’at Rasulullah SAW, dan dimasukkan ke surga. Itu adalah hak prerogatif Allah SWT, dan rahmat Allah SWT itu maha­luas.

Pernyataan bahwa “syahadat bukan merupakan jaminan untuk masuk surga” adalah pernyataan yang amat berbahaya, karena bisa membuat seseorang merasa “mentah” dengan syahadat yang telah diucapkannya. Setelah merasa syahadat tidak memberikan nilai lebih, kemudian muncul perasaan, untuk apa bersya­ha­dat, untuk apa shalat, untuk apa beraga­ma Islam, dan seterusnya.

Al-Bukhari, dari Abu Dzar RA, me­riwayatkan, “…Rasulullah SAW bersab­da, ‘Tidaklah seorang hamba yang menga­takan La ilaha illallah kemudian meninggal melainkan ia akan masuk sur­ga.” Hadits yang senada juga dapat dilihat pada Shahih Al-Bukhari No. 128, 3252, dan 6078. Sementara Muslim dalam kitab Shahih-nya juz 1 hlm. 122 meriwayatkan, “… Kemudian setelah itu syafa’at dihalal­kan, lalu mereka memberi syafa’at, se­hingga dikeluarkanlah dari neraka orang yang mengatakan La ilaha illallah dan di hatinya masih ada kebaikan (iman) se­berat biji sawi, lalu mereka diletakkan di pelataran surga.”

Sementara pernyataannya bahwa “orang-orang munafik pada zaman Ra­sulullah SAW itu semuanya membaca sya­hadat untuk menipu umat Islam, me­reka diancam masuk neraka,” menjadi aneh terdengar, karena umat sudah tahu bahwa syarat keimanan itu adalah ikhlas. Tanpa ikhlas, iman dan ibadah bagai raga tanpa jiwa.

Lebih aneh lagi saat ia merangkai argumentasi pamungkasnya, “Firaun itu matinya membaca syahadat, mengakui Allah sebagai Tuhan. Tetapi tetap saja dia masuk neraka.”

Sekarang mari kita simak informasi Al-Quran tentang kesak­sian Fir’aun, “…hingga tatkala Firaun itu telah hampir tenggelam, berkatalah dia, ‘Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercaya Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” – QS Yunus: 90.

Membaca ayat di atas, pernyataan Agus Mustofa sekilas menjadi tepat. Tapi benarkah Fir’aun mati membawa keiman­an dan tergolong orang muslim (orang yang berserah diri kepada Allah)?

Jawabannya, tidak. Allah SWT tidak menyambut keimanan Fir’aun. Sebab, pengakuan keimanan Fir’aun diungkap­kan ketika siksa Allah SWT telah menim­panya, sedangkan taubatnya seseorang saat siksa sudah turun tak ‘kan diterima Allah SWT (lihat QS Ghafir: 84-85). Karenanya, pada ayat selanjutnya dari surah Yunus di atas, Allah SWT menim­pali pernyataan keimanan Fir’aun dengan firman-Nya, “Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang ber­buat kerusakan.”

Kepasrahan dirinya pun bukan di­maksudkan sebagai keimanan kepada Allah yang terlahir dari keikhlasan dalam hati, melainkan agar diselamatkan dari terjangan gelombang laut. Ini adalah karakter orang-orang kafir saat mereka sudah tak dapat lagi menyelamatkan diri dari mara bahaya. “Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilang­lah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih” – QS Al-Isra’: 67.

Jadi, Fir’aun mati dalam kekafiran. Penjelasan akan hal ini dapat dilihat antara lain dalam Tafsir Ar-Razi 8/341, Tafsir Ibnu Katsir 6/164, Tafsir Al-Alusi 8/116, Adhwa’ al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an bi Al-Qur’an 5/262, dan berbagai kitab tafsir lainnya.

Adam AS Dilahirkan?

Anda yang pernah membaca buku-buku karya Agus Mustofa pasti tahu, ia menganggap mustahil Rasulullah SAW bisa naik ke langit ketujuh dalam peristiwa Mi’raj, ia menyatakan bahwa Rasulullah SAW pandai membaca dan menulis (tidak ummi), dan ia menegaskan bahwa sebenarnya Nabi Adam itu dilahirkan.

Kesimpulan Agus Mustofa yang menyiratkan pandangan anti mukjizat itu memang merupakan kelaziman dari trend pemikiran modernisme yang berkembang di Barat. Ciri khasnya, cara pandang itu mengedepankan rasionalisasi, cende­rung empiris, acap melakukan desakrali­sasi, bercorak non-metafisis, dan ber­orientasi pragmatis. Karenanya, tak aneh bila produk pemikiran seperti itu kerap men­dekonstruksi mukjizat, yang merupa­kan keistimewaan dari Allah SWT untuk para utusan-Nya.

Pembahasan yang menanggapi ke­mustahilan bagi Rasulullah SAW naik ke langit ketujuh saat Mi’raj maupun peng­ing­karan Agus Mustofa terhadap ke­ummi­an Nabi Muhammad SAW dapat dirujuk pada buku yang menjadi referensi tulisan ini. Sekarang, mari kita ikuti lagi sebagian ungkapan pemikiran yang dilontarkan Agus Mustofa, yaitu yang terkait dengan pandangannya bahwa ternyata Adam dilahirkan. “Dari pemba­hasan yang kita lakukan sepanjang ra­tusan halaman ini, saya kira Anda sudah bisa menebak kesimpulan akhirnya. Bahwa Adam adalah manusia yang dilahirkan. Kenapa? Karena, memang ia bukan manusia yang pertama yang diciptakan di muka bumi. Adam adalah al-insan. Ia adalah spesies al-basyar yang sudah berperadaban tinggi. Manusia pertama yang diciptakan oleh Allah ternyata bukan Adam. Ia tidak pernah disebut secara eksplisit oleh Al-Quran. Allah selalu menyebut manusia pertama itu secara kolektif sebagai al-basyar.” (Ternyata Adam Dilahirkan, hlm. 233).

Sebelum sampai pada kesimpulan itu, Agus Mustofa mencoba membuktikan sejumlah “fakta”. Di antaranya, lewat QS Al-A’raf: 11, yang menyebutkan firman Allah wa laqad khalanakum – sesungguh­nya Kami telah menciptakan kamu (Adam).

Di sini, Agus Mustofa mengoreksi dan menyalahkan terjemahan Al-Quran yang dirujuknya sendiri, karena dianggap tidak sesuai dengan pemikirannya. Sayang­nya, menurut Agus Mustofa, “…terjemah­an dalam bahasa Indonesia kata kum ini ditafsiri dengan Adam… Padahal kita tahu bahwa “kum” adalah bermakna jamak – kalian semua.” (Ternyata Adam Dilahirkan, hlm. 224).

Untuk kesekian kalinya Agus Mustofa menunjukkan ketidak-cakapannya dalam bidang tafsir Al-Quran, tata bahasa Arab, dan retorika Arab. Padahal begitu banyak ayat Al-Quran yang pengungkapannya meng­gunakan kata jamak untuk arti tung­gal, disebabkan adanya faidah, rahasia, dan maksud tersendiri di balik­nya, yang hanya bisa disingkap oleh orang yang memiliki pengetahuan akan hal itu dan rasa (dzauq) bahasa yang tinggi.

Silakan simak, di antaranya, QS Al-Furqan: 37 yang menyebut Nuh AS dengan rusul (rasul-rasul) atau QS An-Nisa’: 54 yang menghendaki kata an-nas (orang-orang) kepada Nabi Muhammad seorang.

Dengan pemahaman awam ala Agus Mustofa, barangkali penyebutan dalam ayat itu dianggap sebagai kesalahan. Padahal, bahasa dalam Al-Quran terlam­pau tinggi dan mulia untuk ditelaah secara awam seperti itu.

Singkat kata, tentang tafsiran ayat ini, Imam Qurthubi menafsirkan, “(Sesung­guhnya Kami telah menciptakan kamu) yakni Adam AS. Penyebutan Adam meng­gunakan kata jamak disebabkan Adam adalah moyang dari seluruh manusia.” (Tafsir Al-Qurthubi, 7/168).

Tamsil Nabi Isa

Lapisan kesalahan pandangan Agus Mustofa berikutnya adalah ketika ia ber­usaha menguatkan kesimpulannya itu dengan redaksi QS Ali Imran: 59, “Se­sungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, ‘Jadilah (seorang manusia)’, maka jadilah dia.”

Agus Mustofa memahami ayat ini sebagai dalil bagi proses penciptaan Adam AS melalui kehamilan dari ibunya. Pada ayat itu, Allah SWT menyamakan penciptaan Adam dengan Isa, yaitu bahwa Isa AS memang diciptakan Allah secara ajaib, dengan kun fayakun, tapi tetap melalui proses kehamilan. Maka, demikian pula halnya Adam AS (Ternyata Adam Dilahirkan, 141).

Persepsi Agus Mustofa mengenai ayat di atas justru merupakan persepsi terbalik dari tamsil yang disampaikan Al-Quran. Ayat tersebut menjelaskan pen­ciptaan Isa AS yang menakjubkan, sebab ia dilahirkan dengan tanpa ayah, sama dengan keanehan proses penciptaan Adam AS. Bahkan proses penciptaan Adam AS lebih menakjubkan daripada penciptaan Isa AS, sebab Adam AS dicip­takan dengan tanpa ayah dan ibu. Jadi, maksudnya bukan menganalogikan Nabi Adam dengan Nabi Isa, yang sama-sama dilahirkan, tapi sebaliknya, mengana­logikan  Nabi Isa dengan Nabi Adam, yang sama-sama diciptakan secara ajaib.

Untuk lebih memahami tamsil ini, kita dapat merujuk pada asbabunnuzul ayat tersebut lewat hadits yang dituturkan oleh Ibnu Abbas RA.

Sekelompok orang dari penduduk Najran mendatangi Nabi Muhammad SAW, kemudian mereka bertanya ke­pada beliau, “Mengapa engkau selalu menyebut-nyebut sahabat kami?”

Nabi SAW balik bertanya, “Siapa yang kalian maksudkan?”

Mereka menjawab, “Isa. Engkau menyangka bahwa Isa adalah hamba Allah.”

Nabi SAW menjawab, “Betul, dia adalah hamba Allah.”

Lalu mereka bertanya kembali kepa­da Nabi SAW, “Apakah engkau dapat menyebutkan orang yang seperti Isa, atau­kah engkau dapat menceritakan­nya?”

Kemudian mereka keluar dari sisi Nabi SAW.

Tak lama berselang, datanglah Jibril AS yang diperintah Allah SWT untuk menyampaikan wahyu, seraya berkata, “Katakan wahai Muhammad kepada mereka, jika mereka datang kembali, ‘Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam.’ – QS Ali Imran: 59.”

Al-Basyar dan Al-Insan

Agus Mustofa mengatakan, “Al-basyar dibentuk oleh Allah dengan men­ciptakannya dari tanah secara langsung. Ditumbuhkan dari bumi. Al-insan dicipta­kan dari saripati air yang hina – sulalatin min ma’in mahin. Sedangkan al-basyar, diciptakan dari saripati tanah –sulalatin min thin (Ternyata Adam Dilahirkan, hlm. 151). Ia juga menuliskan, “Allah memberi­kan penjelasan lebih rinci bahwa yang di­ciptakan dari tanah liat kering yang ber­asal dari tanah lumpur hitam itu, adalah basyaran. Yaitu spesies manusia sebe­lum al-insan, atau nenek moyang al-insan, yang memang sudah ada selama jutaan tahun sebelumnya.” (Ternyata Adam Dilahirkan, hlm. 229).

Seperti pada kekeliruan sebelumnya, titik awal dari kekeliruan Agus Mustofa di sini adalah penafsiran yang tidak metodo­logis, sebab si penafsir belum menguasai perangkat (baca: ilmu, baik ilmu tafsir, bahasa dan sastra Arab dengan berbagai cabangnya, ilmu-ilmu hadits, maupun yang lainnya) yang diperlukan untuk itu. Keterangan ini juga menjelaskan kenapa Agus Mustofa sampai membuat penaf­siran dari kata-kata al-basyar dan al-insan yang jauh dari kenyataannya.

Padahal, dengan membuka literatur Islam dengan segala bidangnya, atau membuka kamus-kamus Arab dengan se­gala modelnya, pasti akan didapati penjelasan bahwa tidak ada pembedaan esensial antara al-insan dan al-basyar. Keduanya sama-sama digunakan untuk arti “manusia” dalam bahasa Indonesia. Tidak ada seorang ahli bahasa pun yang melakukan pemilahan sebagaimana di­lakukan Agus Mustofa ini.

Penjelasan mengenai al-insan dan al-basyar yang diberikan oleh para ahli bahasa adalah: “manusia” dalam bahasa Arab disebut “al-insan” sebab salah satu sifat naluriah manusia adalah pelupa (nisyan, lupa), sedangkan “manusia” da­lam bahasa Arab disebut “al-basyar” ka­rena yang tampak adalah kulitnya (basyar, kulit), bukan bulunya, tidak se­perti hewan. Jadi, al-insan dan al-basyar adalah dua kata yang memiliki satu arti (musytarak).

Karena itu dalam Al-Quran kata al-insan dan al-basyar digunakan secara setara untuk mengungkapkan arti “manu­sia”. Tidak ada penekanan khusus dari kedua kata itu, sebagaimana praduga Agus Mustofa.

Bahkan, dalam Al-Quran, Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menyatakan diri sebagai basyar, sebagaimana penyataan lugas dari ayat, “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Se­sung­guhnya aku ini manusia biasa (al-basyar) seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku’.” – QS Al-Kahfi: 110.

Penyimpangan Aqidah

Demikianlah, kami cukupkan pemba­hasan dari buku terbitan Pesantren Sido­giri terkait beberapa tema aqidah yang diangkat Agus Mustofa. Tampak di sini, lewat “permainan” puzzle-nya, Agus Mus­tofa mengemas pembahasan-pemba­has­annya itu dengan menggunakan subyektivitas pemikirannya, plus polesan lo­gika-logika sains, tanpa melirik infor­masi hadits, tafsir, dan pemahaman para ulama.

Berbagai kesimpulan dan pema­ham­an dalam pemikiran Agus Mustofa di atas tentu berpotensi menimbulkan pengaruh negatif yang tidak sederhana dalam pola pikir dan tindakan umat Islam.

Dengan pemahaman bahwa tak ada adzab kubur, misalnya, selain keyakinan umat akan menjadi rusak, tindakan me­reka pun besar kemungkinan ikut rusak. Mereka bisa mengecam orang-orang yang mendoakan keselamatan bagi orang-orang yang sudah meninggal, me­rusak tradisi-tradisi baik yang tidak ber­tentangan dengan Al-Quran dan hadits, dan seterusnya.

Pemikiran mengenai akhirat tidak kekal, akibatnya bisa lebih parah lagi. Umat Islam bisa meremehkan pekerjaan-pekerjaan jelek yang dilakukan di dunia, “Toh nantinya setelah disiksa juga akan musnah.” Begitu pula pemikiran bahwa tidak ada syafa’at, bisa saja membuat orang putus asa untuk mendapatkan rahmat Allah SWT. Tindakan yang justru dibenci oleh-Nya.

Namun, persoalan yang paling pokok adalah masalah penyimpangan umat dari aqidah Islam, yang telah ditetapkan ber­dasarkan dalil-dalil dari Al-Quran dan ha­dits, dan menjadi pedoman umat Islam se­jak dahulu, kini, dan nanti. Padahal, aqi­dah merupakan fondasi yang melandasi kehidupan umat Islam, di mana mereka te­gak berpijak dan melangkah. Jika aqi­dah goyah, besar kemungkinan aspek-aspek yang lain juga akan ikut goyah, dan akhirnya runtuh.

Mungkinkah semua itu tidak disadari Agus Mustofa? Harapan kita semua, hatinya segera terbuka menerima hida­yah dari Allah SWT  sehingga ia kembali ke pemahaman yang lurus.

IY


Pasang iklan dilihat ribuan orang? klik > murah dan tepat sasaran">Serbuanads >> MURAH dan TEPAT SASARAN

 

Add comment


Security code
Refresh