Friday, 18 May 2012

Share

Bagikan Artikel Ini


Dengan bahagianya hati Pak SBY, insya Allah beliau akan tetap kuat memimpin bangsa ini hingga tuntaslah masa bakti beliau hingga masanya nanti.

 

 

 

Pada suatu malam, sebagaimana yang telah biasa dilakukan, ketika melakukan turba, turun ke bawah, berjalan menyusuri setiap lorong kota Madinah, Khalifah Umar bin Khaththab RA mendengar tangis seorang anak yang kelaparan, sedang ibunya tidak memiliki sesuatu untuk dimakan. Sang ibu, yang ternyata seorang janda, terpaksa memasak batu untuk menghibur anak-anaknya, buat menghentikan tangisannya.

Sebagai pemimpin umat, hati Khalifah amat terpukul. Beliau sadar, masih ada warganya yang tidak memiliki persediaan makanan sehingga anaknya menangis karena kelaparan. Maka, beliau bergegas pergi mengambil bahan makanan dan mengantarkannya sendiri kepada keluarga janda yang sedang menderita itu.

Sayyidina Umar bin Khaththab, sebagai khalifah, adalah pemegang kekuasaan tertinggi. Dengan kekuasaannya, beliau bisa saja memerinthakan bawahannya untuk mengantarkan bahan makanan itu kepada keluarga tersebut. Namun, Khalifah tidak melakukan itu. Dengan senang hati, beliau bertindak sebagai pelayan umat, khadimul ummah.

Keteladanan serupa juga telah dilakukan pendahulunya, Sayyidina Abu Bakar RA.

Suatu ketika, setelah diangkat menjadi amirul mu’minin, Abu Bakar berpapasan dengan seorang wanita tua yang menyindirnya, “Oh, mana mungkin Abu Bakar mau menolongku memerah susu kambing. Kini dia telah menjadi pemimpin umat.”

Khalifah Abu Bakar menjawab, “Tidak, aku tetaplah Abu Bakar yang selalu ingin melayani.” Kemudian Khalifah benar-benar memerah susu kambing dan diserahkannya kepada wanita tua tersebut.

Nah, pada Juma’t 17 Februari mendatang, insya Allah, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, bersama Ibu Negara Any Yudhoyono, beserta 11 menteri, akan melakukan panen raya di Desa Bener, Kecamatan Ngrampal, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.

Presiden SBY adalah pemegang kekuasaan tertinggi pemerintah. Dengan kekuasaannya, beliau bisa saja memerintahkan bawahannya untuk melakukan panen raya itu. Namun, mudah-mudahan karena meneladani Khalifah Umar, beliau tidak melakukan itu. Dengan senang hati, beliau langsung turun ke bawah.

Saya jadi teringat acara kelompencapir pada zaman Pak Harto. Melihat kejujuran dan keluguan rakyat yang mengajukan pertanyaan, bimbingan, bantuan, dan semacamnya, Pak Harto sering terlihat tersenyum. Senyum yang juga jujur dan tulus. Saya melihat kebahagiaan yang sesungguhnya terpancar dari wajah beliau.

Tak mengherankan, latar belakang keluarga ayah-bunda Pak Harto memang tak jauh dari pertanian. Jadi, ketika berada di tengah-tengah para petani, beliau merasa berada di tengah keluarga.

Memimpin bangsa besar yang besar pula permasalahannya ini, dibutuhkan seseorang yang kuat. Tak hanya kuat jasmaninya, tapi juga kuat ruhaninya. Dan salah satu atau faktor yang sangat dominan dalam kehidupan ruhani adalah kebahagiaan.

Latar belakang keluarga Pak SBY juga tidak jauh berbeda dengan latar belakang keluarga Pak Harto, yakni dekat dengan masyarakat desa. Maka, mudah-mudahan, seringnya beliau berada di tengah-tengah petani, peternak, nelayan, dan sebagainya, yang nota bene adalah masyarakat desa, membuat beliau bisa tersnyum dan bahagia. Dengan bahagianya hati Pak SBY, insya Allah beliau akan tetap kuat memimpin bangsa ini hingga tuntaslah masa bakti beliau hingga masanya nanti. Amin....

ES



 

Add comment


Security code
Refresh

Mutiara Hadits