|
Opini.

Menjual Islamofobia untuk meraih kemenangan pada pemilu presiden AS yang akan datang justru akan menjadi bumerang.
Mengomentari sikap pemerintah Amerika Serikat terhadap kasus marinir AS yang mengencingi mayat Taliban, bakal calon kandidat Presiden AS dari Partai Republik, Rick Perry, menyatakan, sikap pemerintah AS, yang akan menghukum para pelaku, terlalu berlebihan. Ia meminta, marinir-marinir itu tidak dihukum. Menurutnya, para anggota marinir tersebut seharusnya hanya ditegur, tidak dihukum.
Sulit untuk mengatakan bahwa kata-kata Perry itu murni perjuangan hukum tanpa mengaitkannya dengan kepentingan politik. Sulit untuk tidak mengatakan bahwa kata-kata Perry terucap untuk meraih suara yang anti Islam pada pemilu presiden yang akan datang. Ya, sebagai bakan calon kandidat presiden, Perry mungkin mengira bahwa ia sedang mengikuti arah angin. Mungkin ia mengira, arah angin Amerika saat ini adalah Islamofobia.
Keliru besar. Pasca-tragedi WTC, yang lebih dikenal Tragedi 11 September, Islam memang semakin dipojokkan. Dikatakan, Islam identik dengan terorisme. Namun, semakin Islam dipojokkan, semakin membuat warga Amerika khususnya, dan Barat umumnya, tertarik untuk mempelajarinya. Ya, inilah watak dasar orang Barat pada umumnya, termasuk orang Asmerika, ingin sekali mengetahui hal-hal yang membuat mereka penasaran. Dan ternyata, setelah itu, subhanallah, mereka menemukan bahwa Islam tidak sebagaimana yang dicitrakan selama itu. Islam jauh dari kekerasan, apalagi teror. Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Sehingga, banyak di antara warga Amerika mendapatkan hidayah, masuk Islam.
Perundang-undangan Negeri Paman Sam bagi kehidupan agama juga sangat mendukung. Konstitusi Amerika menjamin kebebasan seseorang untuk beragama. Atas dasar itu, warga muslim di Amerika berdakwah, memberikan pencerahan tentang Islam, tanpa ada halangan. Hasilnya, Islam semakin berkembang di Amerika Serikat. Kini, ada ribuan masjid di AS. Juga, banyak bermunculan organisasi-organisasi Islam.
Pendek kata, persepsi warga Amerika tentang Islam kini semakin baik. Jadi, menjual Islamofobia untuk meraih kemenangan pada pemilu presiden yang akan datang justru akan menjadi bumerang.
ES
|