Monday, 21 April 2014
Home Berita Terbaru kekuatan Ikhlas
kekuatan Ikhlas PDF Print E-mail
Wednesday, 08 August 2012 13:59

“Ya Allah, jika perbuatanku memberikan semua harta kekayaan itu kepadanya karena mengharap ridha-Mu, geserkanlah batu yang menutupi gua ini.”


www.majalah-alkisah.comIkhlas berarti semata-mata mengharap ridha Allah SWT.

Banyak kisah yang menunjukkan kekuatan ikhlas. Di antaranya, Abu Abdirrahman bin Abdullah bin Umar bin Khaththab RA berkata, ia mendengar Rasulullah SAW bercerita, “Sebelum kalian, ada tiga orang sedang berjalan-jalan. Kemudian mereka menemukan sebuah gua dan mereka pun berteduh.

Tiba-tiba sebuah batu besar dari atas bukit menggelinding dan menutup gua itu, sehingga mereka tidak bisa keluar.

Salah seorang di antara mereka berkata, ‘Sungguh tidak ada yang dapat menyelamatkan kecuali doa kalian kepada Allah SWT dengan menyebut amal-amal shalih yang pernah kalian lakukan.’

Maka, salah seorang di antara mereka kemudian berdoa, ‘Ya Allah, aku mempunyai orangtua yang sudah renta. Kebiasaanku adalah mendahulukan mereka minum susu sebelum aku memberikan kepada anak, istri, dan budakku.

Suatu hari aku terlambat pulang karena mencari kayu. Kedua orangtuaku sudah tertidur. Aku kemudian memerah susu.

Aku belum memberikan susu kepada anak, istri, dan budakku sebelum memberikannya kepada kedua orangtuaku. Aku menunggu mereka bangun.

Hingga terbit fajar, dan kedua orangtuaku bangun. Maka kuberikan susu itu kepada mereka. Padahal semalaman anakku menangis meminta susu.

Ya Allah, jika baktiku kepada orangtuaku karena mengharap ridha dari-Mu, geserkanlah batu yang menutup gua ini.’

Maka, bergeserlah batu itu sedikit.

Orang kedua pun memanjatkan doa, ‘Ya Allah, aku mempunyai saudara sepupu yang sangat aku cintai. Aku mencintainya sebagaimana seorang laki-laki terhadap perempuan. Aku selalu ingin berbuat zina dengannya, tetapi ia selalu menolaknya.

Hingga suatu saat ia tertimpa kesulitan. Ia pun datang untuk meminta bantuanku.

Aku membantunya seratus dua puluh dinar, tapi dengan syarat ia mau menyerahkan dirinya kepadaku kapan saja aku mau.

Ketika kesempatan itu datang, ia  berkata: Takutlah kamu kepada Allah. Jangan kau sentuh aku kecuali dengan jalan yang benar.

Mendengar peringatannya itu, aku meninggalkannya dan merelakan emas yang aku berikan kepadanya.

Ya Allah, jika perbuatanku itu karena mengharap ridha dari-Mu, geserkanlah batu yang menutup gua ini.’

Kemudian, bergeserlah batu itu. Tapi belum semuanya.

Orang yang ketiga pun berdoa, ‘Ya Allah, aku mempekerjakan beberapa orang yang aku gaji dengan baik. Namun ada seseorang yang meninggalkanku dan tidak mengambil gajinya.

Kemudian uangnya itu aku kembangkan sehingga menjadi banyak.

Beberapa tahun kemudian, ia datang kepadaku dan menanyakan gajinya.

Aku jawab bahwa semua yang ia lihat, unta, sapi, kambing, bahkan budak yang menggembalakannya, adalah gajinya.

Kemudian ia mengambil semuanya, tanpa meninggalkan sedikit pun kepadaku.

Ya Allah, jika perbuatanku memberikan semua harta kekayaan itu kepadanya karena mengharap ridha-Mu, geserkanlah batu yang menutupi gua ini.’

Maka, bergeserlah batu yang menutupi gua itu dan keluarlah mereka semua dengan selamat’.” (HR Bukhari dan Muslim).

Sahabat, betapa dahsyatnya kekuatan ikhlas. Maka, jangan nodai perbuatan baikmu dengan perasaan-perasaan kotor yang terkadang tanpa engkau sadari, lebih-lebih yang engkau sadari.

Jika engkau adalah seorang majikan, misalnya, berikanlah hak-hak pembantumu dengan ikhlas. Berikanlah gajinya, THR-nya, dan lain-lain, tepat pada waktunya. Dengan senyum, yang menunjukkan keikhlasan. Bukan dengan cemberut, yang menunjukkan rasa berat.

Sesungguhnya, engkau sangat membutuhkan keikhlasan itu. Dalam keadaan terjepit, sebagaimana kisah tiga orang di atas, insya Allah engkau akan tertolong.

ES     

 

Add comment


Security code
Refresh